Satu kelompok asal Indonesia masuk daftar teroris Amerika

Foto ilustrasi berikut berisi gambar pasukan keamanan Irak tengah bertarung dengan milisi ISIS pada 10 Januari 2017.
Foto ilustrasi berikut berisi gambar pasukan keamanan Irak tengah bertarung dengan milisi ISIS pada 10 Januari 2017.
© Khalid Mohammed /AP Photo

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat baru saja menggolongkan Jamaah Anshar Daulah (JAD) sebagai kelompok teroris, atau Specially Designated Global Terrorist (SDGT).

Pada keterangan di laman resmi kementerian dimaksud, Selasa (10/1), JAD telah melakukan--dan berpotensi besar untuk melancarkan--aksi terorisme yang dapat mengancam keamanan warga AS.

Selain itu, JAD dianggap mengintai keamanan nasional, kebijakan asing, dan perekonomian negara yang bakal mengalami suksesi kepemimpinan tersebut.

Pemakluman oleh otoritas AS itu menyembul setelah kepolisian Australia dan Indonesia menguak rencana penyerangan ISIS pada masa liburan akhir tahun di negara masing-masing.

Pengumuman pun berbuntut sejumlah hal. Salah satunya, larangan bagi warga AS untuk terlibat transaksi dengan JAD. Selain itu, semua properti dan kepentingan atas properti JAD di AS--baik sekarang maupun di masa mendatang--bakal dibekukan.

JAD diyakini bertanggung jawab atas serangan di Jakarta pada Januari 2016 yang menewaskan delapan orang--termasuk para penyerbu--dan melukai 25 lainnya. Juru bicara Markas Besar Polri, Brigadir Jenderal Rikwanto, mengatakan "Kelompok Jamaah Anshar Daulah berafiliasi" ke Bahrun Naim, sosok yang dicurigai berada di balik aksi Januari.

Perburuan pihak kepolisian di Purwakarta pada akhir Desember 2016 berujung peringkusan empat terduga teroris yang menurut Rikwanto, seperti dikutip AntaraNews.com, berasal dari kelompok JAD. Namun, "tentang hubungan langsung dengan Jaringan Bahrun Naim, masih dalam pendalaman, yang jelas terafiliasi dengan ISIS," ujar Rikwanto.

Begitu pun yang terjadi di Tangerang Selatan saat Densus 88 melakukan operasi di Tangerang Selatan, menembak mati tiga terduga teroris, dan membekuk seorang tersangka. Kepolisian menyebut bahwa keempatnya adalah pula jaringan JAD.

Di awal Desember 2016, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Suhardi Alius, mengatakan--dikutip Republika--bahwa "Yang paling diwaspadai JAD, tetapi jaringan yang lain juga masih ada. Tetapi yang sekarang punya afiliasi langsung dengan jaringan global, yaitu JAD,"

Seakan menjadi penekanan atas pernyataan Suhardi, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian, menyatakan JAD lebih radikal dari Jemaah Islamiyah (JI) menimbang sangkutannya dengan ISIS. Pasalnya, kata Tito, "ISIS lebih kuat dari Al Qaeda".

Dalam laporan mengenai perpecahan di antara para pendukung ISIS serta besarnya risiko akan pecahnya lebih banyak aksi kekerasan, Institut Analisis Kebijakan Konflik atau IPAC menulis bahwa JAD hanyalah istilah umum yang digunakan oleh pendukung ISIS mana pun. Ia tidak mengacu kepada organisasi baru.

Sebelum menyampaikan simpulan demikian, IPAC menyatakan bahwa gagasan atas adanya satu kesatuan struktur di Indonesia ditengarai muncul seiring upaya baiat dengan ISIS tak lama organisasi itu memproklamasikan kekhalifahan pada 29 Juni 2014.

Laporan mengutip keterangan dari "berbagai sumber intelijen" di Indonesia yang mengklaim bahwa pada pertengahan Maret 2015, semua kelompok ISIS menjadi bagian dari organisasi baru, berhubungan dengan JAD.

Namun, IPAC meyakini struktur semacam itu tidak pernah terbukti kebenarannya. Menurut lembaga pimpinan Sidney Jones, pakar urusan keamanan di Asia Tenggara, itu para pendukung ISIS di Indonesia hanya terhubungkan oleh laman www.al-mustaqbal.net dan pendirinya, M. Fachri--tertangkap pada 21 Maret 2015, beberapa hari setelah kabar mengenai struktur dimaksud mengemuka. Bukan JAD.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.