TERORISME

Satu keluarga diduga teroris ditangkap di Lamongan

Densus 88 Antiteror membawa barang bukti teroris jaringan Nur Rohman, Haryanto di Makam Haji, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (19/7/2016).
Densus 88 Antiteror membawa barang bukti teroris jaringan Nur Rohman, Haryanto di Makam Haji, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (19/7/2016). | Maulana Surya /Antara Foto

Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap satu keluarga terduga teroris di sebuah kontrakan di Kelurahan Brondong, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (22/8/2019) malam. Dalam penangkapan tersebut, tim mengamankan empat orang.

Mereka di antaranya, sang suami, Beni (28 tahun), istri dan kedua anaknya--yang satu berumur sekitar 2 tahun. Sudah sekira 2,5 tahun Beni mengontrak di rumah berlantai dua yang dimiliki oleh Hj. Sutina warga Kelurahan Brondong Gang V.

Meski sudah cukup lama menghuni daerah tersebut, Sutina mengaku tak terlalu dekat dengan Beni dan keluarga. Bahkan, menurut Sutina, ia tidak pernah melihat anak kedua Beni yang lahir di kontrakan tersebut dua tahun lalu.

"Saya saja jarang ketemu," ucap Sutina, seperti yang dikutip dari Detikcom. "Bahkan anaknya yang kecil berusia sekitar dua tahun itu yang lahir di rumah kontrakan ini, saya tidak pernah melihatnya."

Sejauh ini, menurut Sutina, Beni hanya sering berinteraksi dengan warga setempat kala salat Subuh di masjid samping rumahnya. Pasalnya, di saat-saat itu, Beni kerap memberi ceramah. "Selama ini, dia bekerja di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong," kata Sutina.

Bukan hanya itu saja yang membuat Sutina bingung. Pun dengan keputusan Beni untuk mengontrak di properti miliknya. Pasalnya, Beni bukan warga asing di Kelurahan Brondong.

Orang tua Beni tinggal tak jauh rumah miliknya. "Rumahnya dekat kok dari sini, Brondong gang V," katanya.

Sutina bukan tak pernah menanyakan alasan Beni tinggal di situ. Pada awal ingin mengontrak 2,5 tahun lalu, ia pernah menanyakan hal itu kepada Beni. Namun, Beni hanya menjawab ingin mengontrak karena telah berkeluarga.

Dalam penangkapan ini, pihak Kepolisian Resor (Polres) Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung, tidak mau bicara banyak. Menurutnya, kasus ini dipegang langsung oleh Mabes Polri.

"Iya, (penangkapan) dari Mabes. Saya cuma dampingi saja," ucap Feby.

Ditangkap di Solo dan Surabaya

Lima hari sebelum penangkapan Beni di Lamongan, yaitu Jumat (16/6), Korps Bhayangkara juga mengamankan satu terduga teroris bernama Abdul Rochim di daerah Genengan, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Penangkapan Rochim ini diduga karena ia terkait dengan kelompok Harry Kuncoro. Harry adalah adalah mantan napiter (napi teroris) yang ditangkap Densus 88 Anti Teror di Bandara Soekarno Hatta pada Februari lalu.

Diduga, Rochim membantu Harry Kuncoro memalsukan dokumen KTP dan Paspor dengan nama Wahyu Nugroho yang akan bergabung dengan ISIS di Suriah. Selain itu, Abdul Rochim juga dikabarkan memberikan bantuan dana pada Harry Kuncoro untuk pergi ke Khurosan, Suriah.

Rochim sendiri sebenarnya juga merupakan napiter. Hal ini diungkapkan oleh Waka Polresta Surakarta, AKBP Andy Rifai "Iya, (Rochim) pernah ditangkap tahun 2010 terkait jaringan terorisme," ucapnya dalam Kompas.com.

Sehari setelah penangkapan Rochim, Polda Jawa Timur, juga membengkuk satu orang terduga teroris berinisial IM. Dia ditangkap karena melakukan penyerangan ke Polsek Wonokromo, Surabaya, Jatim.

Akibat aksi tersebut, dua anggota kepolisian terluka. Yang pertama, Briptu Febian menderita luka lebam di wajah. Sedangkan Aiptu Agus mendapat luka bacok.

"Diduga yang bersangkutan melakukan aksi karena amaliah. (Diketahui) dari keterangan yang bersangkutan," ucap Kepala Bidang Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera.

Penangkapan IM ini semakin menguatkan bahwa aksi para teroris sekarang ini disebabkan efek dendam kepada para petugas kepolisian yang telah menangkap teman-temannya.

"Ada dendam terhadap aparat-aparat kepolisian karena mereka yang menangkap teroris," kata Staf Khusus Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suaib Tahir.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR