PENDIDIKAN TINGGI

SBMPTN: Cara kedelapan tes PTN selama 43 tahun

Calon mahasiswa SBMPTN saat ini adalah anak dari mahasiswa angkatan Sipenmaru dan UMPTN 80-an. Sistem seleksi sering berubah.
Calon mahasiswa SBMPTN saat ini adalah anak dari mahasiswa angkatan Sipenmaru dan UMPTN 80-an. Sistem seleksi sering berubah. | Antyo® /Beritagar.id

Selama dua pekan ini, 10-24 Juni 2019, berlangsung pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Cara ini adalah sistem kedelapan dalam tes masuk PTN selama 43 tahun terakhir.

Sebelum 1976, tes masuk PTN berlangsung terpisah. Lantas mulai 1976, sampai 1978, ada SKALU (Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas). Wadah ini beranggotakan Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia (Jakarta), Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), dan Universitas Airlangga (Surabaya).

Wakil generasi SKALU misalnya Mohammad Nuh (59), alumnus Jurusan Elektro Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Nuh, ketua Dewan Pers (2019-2022), yang pernah menjadi menteri komunikasi dan informatika (2007-2009), adalah angkatan 1978. Artinya Nuh seangkatan tapi beda alma mater dengan Karen Agustiawan (Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, 1978), mantan Dirut Pertamina, yang kemarin di Jakarta divonis delapan tahun penjara karena kasus korupsi.

Setelah SKALU ada Proyek Perintis (1979-1982) yang berisi empat kelompok PTN. Wakil generasi Perintis I (sepuluh PTN), misalnya Joko Widodo yang presiden itu. Dia masuk Fakultas Kehutanan UGM pada 1980.

Setelah jejak sejak 1976 ditarik hingga hari ini tampaklah panjang usia seleksi terpadu. Maka bisa saja calon mahasiswa yang akan ikut SBMPTN 2019 adalah ana-anak dari generasi Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru; 1983-1988) dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri; 1989-2001).

Salah satu alasan mengganti sistem seleksi adalah efisiensi untuk meratakan kesempatan berkuliah di PTN.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR