PILPRES 2019

Seberapa mujarab suara alumni bagi Jokowi

Alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menari saat deklarasi mendukung Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Rumah Aspirasi Rakyat #01, Jakarta, Sabtu (9/2/2019). Deklarasi gerakan tersebut mengusung tema "Ikut Ke Jokowi".
Alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menari saat deklarasi mendukung Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Rumah Aspirasi Rakyat #01, Jakarta, Sabtu (9/2/2019). Deklarasi gerakan tersebut mengusung tema "Ikut Ke Jokowi". | Dhemas Reviyanto /AntaraFoto

Sebulan belakangan, Joko “Jokowi” Widodo kerap meluangkan waktunya untuk menyambangi para alumni.

Namun bukan sembarang pertemuan. Sebab Jokowi beroleh penghormatan dari para lulusan yang sepakat mendeklarasikan dukungan mereka bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1 ini.

Latar belakang jenjang pendidikan para alumni beragam. Tak sedikit di antaranya yang berasal dari sekolah-sekolah bergengsi. Sebut saja alumni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, hingga Universitas Trisakti Jakarta.

Untuk tingkat sekolah menengah atas di antaranya ada alumni SMA 26 Jakarta, SMA Kolese Kanisius, SMA Pangudi Luhur—almamater calon wakil presiden nomor urut 2 Sandiaga Uno, dan paling anyar adalah alumni SMA se-Jakarta dan se-Sumatra Utara.

Jumlah tiap-tiap kelompok alumni yang mendeklarasikan memang tak terdata jelas, ada yang mengklaim ratusan namun tak sedikit yang menyebut hingga ribuan.

Jokowi pun punya gaya pidato yang beragam pada tiap-tiap acara deklarasi alumni ini. Paling seringnya Jokowi memamerkan pencapaian pembangunan infrastruktur selama ia menjabat, bukan hanya saat menjadi Presiden melainkan sejak Gubernur DKI Jakarta.

“Pembangunan MRT di Jakarta, saat saya jadi Gubernur. [Padahal] Sudah 26 tahun direncanakan,” kata Jokowi sewaktu berbicara di hadapan pria-pria alumni SMA Pangudi Luhur di Energy Building, SCBD Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Tak jarang, Jokowi gamblang menyerang pribadi Prabowo Subianto—calon presiden nomor urut 2—dengan menyatakan “kepemimpinan harus dimulai dari bagaimana kita mengelola keluarga” hingga “saya bukan diktator atau pelanggar HAM”.

Tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf kompak menyatakan dukungan para alumni ini hadir tanpa skenario. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Moeldoko menolak keras tudingan yang menyebut adanya mobilisasi alumni untuk mendukung Jokowi.

“Itu bukan kami mobilisasi, justru lahir atas kesadaran mereka sendiri,” kata Moeldoko di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (8/2/2019).

Sebaliknya, Moeldoko menyebut dukungan para alumni ini sebagai bukti bahwa pemilih Jokowi-Ma’ruf juga banyak berasal dari kaum terpelajar. Apalagi, deklarasi dukungan terus bermunculan.

“Saya pikir bergulir terus. Kalau kita lihat dukungan dari Trisakti, alumni SMA Jakarta terus berkembang. Di daerah lain juga berkembang. Kita punya keyakinan itu,” sambung Moeldoko.

Wakil Ketua TKN lainnya, Abdul Kadir Karding justru berharap bahwa deklarasi dukungan dari sejumlah kalangan alumni ini bakal mengerek elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di kalangan pelajar.

Bahkan, dukungan para alumni--baik sekolah maupun perguruan tinggi--bisa membantu upaya TKN untuk menjaring suara pemilih kelas menengah ke atas.

Menurut Karding, Jokowi punya magnet kuat yang bisa menggaet dukungan para alumni ini, yakni infrastruktur. Sebab, infrastruktur adalah syarat utama untuk persaingan dan menyiapkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) serta perbaikan kerja ekonomi.

“[Deklarasi] Ini wajar kalau mereka mendukung,” kata Karding.

Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan pidato saat menghadiri deklarasi dukungan dari alumni SMA se-Jakarta di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (10/2/2019).
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyampaikan pidato saat menghadiri deklarasi dukungan dari alumni SMA se-Jakarta di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (10/2/2019). | Hafidz Mubarak A /AntaraFoto

Di luar hal-hal yang berkaitan dengan pilihan para alumni, peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, menyatakan bahwa secara garis besar dukungan alumni tidak akan berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas pasangan calon. Baik itu Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandiaga.

Adjie menyatakan, hal-hal yang bisa memengaruhi pemilih di kalangan berpendidikan adalah bagaimana para pasangan calon ini sanggup menanggapi isu-isu yang berkembang, bukan dari deklarasi dukungan.

Sebab, sebagai kalangan terpelajar, mereka cenderung mengambil keputusan berdasarkan logika dan pertimbangan yang matang.

“Mereka berjarak dengan kekuasaan, mandiri menentukan sikap. Sehingga, hal-hal yang bersifat simbolik seperti dukungan tidak berpengaruh untuk kalangan pelajar,” kata Adjie.

Survei terbaru yang dilakukan LSI Denny JA—per Januari 2019—menunjukkan jumlah pemilih dari kalangan pelajar mencapai 11,5 persen. Dari jumlah itu, Prabowo-Sandi diklaim meraih dukungan hingga 44,2 persen sementara Jokowi-Ma’ruf 37,7 persen.

Keduanya masih punya kesempatan besar merebut suara pelajar, sebab masih ada 18,1 persen lainnya yang belum menentukan dukungan (undecided voters).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR