Sebuah patung picu kebangkitan supremasi kulit putih di AS

Keputusan pemerintah Charlottesville untuk menggusur patung Robert E Lee ini memicu terjadinya bentrokan antar dua kelompok masyarakat di Amerika Serikat.
Keputusan pemerintah Charlottesville untuk menggusur patung Robert E Lee ini memicu terjadinya bentrokan antar dua kelompok masyarakat di Amerika Serikat. | Tasos Katopodis /EPA

Bila Anda berpikir bahwa hanya di negara dunia ketiga saja, seperti Indonesia, sebuah patung bisa memicu perdebatan panjang, bahkan pertikaian fisik, Anda salah.

Bahkan di negara yang dianggap maju dan berpendidikan tinggi seperti Amerika Serikat, patung bisa memicu perdebatan panas, mengorek luka lama, serta berujung pada kekerasan dan kematian.

Hal itu terjadi di Charlottesville, Virgina, sebuah kota kecil berpenduduk 46.000 jiwa yang lebih dikenal sebagai tempat berdirinya kampus University of Virginia.

Bentrokan berawal ketika pada Sabtu (12/8/2017), sekelompok warga yang menyebut diri mereka "White Nationalist" (Nasionalis Kulit Putih) melakukan unjuk rasa bertajuk "Unite the Right" (Satukan Kelompok Kanan).

Mereka hendak memprotes keputusan pemerintah setempat untuk memindahkan sebuah patung Jenderal Robert Edward Lee, ikon kelompok Konfederasi yang terletak di Emancipation Park, Charlottesville.

Unjuk rasa itu dibalas oleh aksi unjuk rasa yang dilakukan kelompok yang menentang kebangkitan pendukung nasionalis kulit putih, kelompok yang terkenal rasis dan yakin ras mereka lebih baik dari yang lainnya, atau supremasi kulit putih. Kelompok itu diinisiasi oleh mantan wartawan bernama Jason Kessler.

Jason Kessler, inisiator  "Unite the Right" dilindungi polisi setelah massa mencoba menyerangnya usai mengadakan konferensi pers di City Hall, Charlottesville, Virginia, AS, 13 Agustus 2017.
Jason Kessler, inisiator "Unite the Right" dilindungi polisi setelah massa mencoba menyerangnya usai mengadakan konferensi pers di City Hall, Charlottesville, Virginia, AS, 13 Agustus 2017. | Tasos Katopodis /EPA

Korban kemudian jatuh. Heather D Heyer (32) tewas ditabrak mobil yang dikendarai oleh James Alex Fields Jr. (20), salah seorang anggota nasionalis kulit putih. Menurut The New York Times, sedikitnya 34 orang lain cedera. Fields Jr., yang lalu melarikan diri, berhasil ditangkap dan menghadapi tuntutan pembunuhan tingkat kedua.

Selain itu, dua polisi juga tewas setelah helikopter yang mereka tumpangi menuju pusat kerusuhan, terjatuh dan terbakar.

Gubernur Virginia, Terry McAuliffe, mendeklarasikan keadaan darurat dan memerintahkan agar kelompok supremasi kulit putih untuk segera hengkang dari kota tersebut.

"Mereka bangun setiap hari untuk membenci orang dan memecah-belah negara kami," kata McAuliffe kepada CNN. "Sejujurnya, mereka harus pergi dari Amerika karena mereka bukanlah orang Amerika."

Seorang perempuan di Washington, AS, mengangkat spanduk untuk mengenang Heather Heyer, korban tewas dalam kekerasan di Charlottesville.
Seorang perempuan di Washington, AS, mengangkat spanduk untuk mengenang Heather Heyer, korban tewas dalam kekerasan di Charlottesville. | Michael Reynolds /EPA

Tokoh politik dan masyarakat AS pun melontarkan kecaman terhadap kekerasan tersebut. Tetapi, komentar dari orang terpenting di negara itu, Presiden Donald Trump, justru tidak sekeras yang diperkirakan.

"Kami mengutuk sekeras mungkin tampilan mengerikan dari kebencian, kefanatikan, dan kekerasan di banyak sisi, banyak sisi," kata Trump pada Sabtu (12/8) seperti dikutip ABC News.

Namun, yang disayangkan banyak warga AS, Trump sama sekali tidak menyebut kelompok supremasi kulit putih sebagai otak kerusuhan itu.

Sang Presiden, karena banyak kecaman yang dilontarkan padanya, mengulang pernyataannya pada Senin (13/8).

"Rasisme adalah iblis dan mereka yang menyebabkan kekerasan atas namanya adalah kriminal dan preman, termasuk KKK, neo-Nazi, supremasi kulit putih dan kelompok pembenci lainnya yang berlawanan dengan apa yang kita yakini sebagai warga Amerika," kata Trump.

Akan tetapi, banyak pihak, termasuk para senator Partai Republik pendukung sang presiden, terlanjur menyayangkan ketidaktegasan dan keengganan Trump mengecam nasionalis kulit putih.

Bahkan, tiga anggota Dewan Manufaktur Amerika pemerintahan Trump --Kenneth Frazier (CEO Merck & Co.), Brian Krzanich (CEO Intel Corp.), dan Kevin Plank (CEO Under Armour Inc.)-- mundur dari jabatan mereka sebagai bentuk protes. Demikian dikabarkan The Star (14/8).

Trump bahkan bereaksi lebih cepat terhadap keputusan mundur Frazier itu (hanya 54 menit setelah pernyataan Frazier dirilis) daripada terhadap kekerasan di Charlottesville. Frazier kebetulan berkulit hitam.

Warga AS, juga dunia, kini menanti bagaimana Trump bakal bertindak untuk menyelesaikan masalah di Charlottesville. Jika tidak, kebangkitan nasionalis kulit putih ini bisa menjadi awal dari kejatuhan Donald Trump.

Apalagi, telah lama Trump dicurigai didukung oleh para pengusung supremasi kulit putih, seperti dipaparkan The Guardian.

Siapakah Jenderal Robert E Lee?

Di Charlottesville berdiri sebuah patung yang menggambarkan Robert E Lee, seorang jenderal dari pihak Konfederasi ketika terjadi Perang Sipil melawan tentara Federasi yang terjadi pada 1861-1865.

Konfederasi adalah kumpulan negara-negara bagian yang masih mendukung perbudakan dan kemudian membentuk negara sendiri dengan nama Negara Konfederasi Amerika dengan ibu kota di Richmond, Virginia. Mereka menguasai wilayah selatan AS.

Sementara, Federasi AS, yang dipimpin Presiden Abraham Lincoln dan menguasai wilayah utara, ingin menghapus perbudakan. Mereka biasa disebut kelompok Union.

Perang Sipil itu sering juga disebut perang utara melawan selatan.

Union akhirnya menang ketika Robert E Lee menyerah kepada Jenderal Ulysses S. Grant pada perang Appomattox. Peristiwa itu membuat jenderal-jenderal Konfederasi lainnya di wilayah selatan ikut menyerah.

Amerika Serikat kemudian berkembang menjadi negara adidaya seperti yang kita kenal sekarang. Mereka juga dilihat, dan selalu membanggakan diri, sebagai bangsa pengusung dan pembela demokrasi.

Walau demikian, bukan berarti kaum rasis benar-benar hilang dari Negeri Paman Sam itu. Kelompk pengusung supremasi kulit seperti Ku Klux Klan, neo-Nazi, dan alt-right (alternative right) masih giat menyebarkan ideologi dan pengaruh mereka di negara itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR