BURUH MIGRAN

Sebulan tidur dengan anjing, TKI tewas di Malaysia

Ilustrasi korban penyiksaan.
Ilustrasi korban penyiksaan. | Yupa Watchanakit /Shutterstock

Seorang perempuan berusia 60 tahun ditangkap di Pulau Penang, Malaysia, pada Senin (11/2/2018) pukul 14.30 waktu setempat. Perempuan warga negara Malaysia tersebut diduga menyiksa seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) hingga tewas.

Kasus tersebut terjadi di kediaman pelaku, Jalan Green Hall, George Town, Penang, Malaysia.

Menurut kepolisian setempat, ibu dua anak tersebut akan ditahan selama tujuh hari guna menjalani proses pemeriksaan terkait kasus tersebut.

TKI yang tewas mengenaskan itu bernama Adelina Lisao. Perempuan berusia 21 tahun itu berasal dari Nusa Tenggara Timur, bukan Medan seperti yang sempat diberitakan berbagai media.

Penyiksaan terhadap Adelina, mengutip Straits Times, terungkap ketika seorang jurnalis mendapat kabar dari warga setempat tentang kemungkinan adanya penyiksaan terhadap TKI di rumah tersebut.

Sang jurnalis kemudian meneruskan kabar itu kepada Steven Sim, anggota parlemen (MP) Bukit Mertajam, Penang. Ia pun langsung mengutus tiga orang asistennya untuk memeriksa apa yang terjadi di rumah tersebut pada Sabtu (9/2/2018).

Por Cheng Han dan dua orang rekannya yang diutus Sim melaporkan, bahwa di rumah itu mereka menemukan Adelina yang terbaring lemah di beranda rumah. Ia tidur beralaskan tikar, berselimut kain pink bersama anjing jenis rottweiler yang diikat tak jauh darinya.

Anjing itu terus menggongong ke arah Han dan rekan-rekan.

Han berusaha berkomunikasi dengan Adelina, tetapi sia-sia. Adelina terlalu lemah, jawaban yang didapatnya hanya anggukan untuk pertanyaan soal kewarganegaraannya. Han pun menelepon LSM pelindung buruh migran Malaysia, Tenaganita.

"Tiga dari tim kami, dua dari LSM bernama Tenaganita," kata Cheng dalam percakapannya dengan Kumparan, Selasa (13/2/2018).

"Kedua kakinya terluka parah, tangannya juga ada luka. Wajah dan kepalanya penuh memar," kata lelaki berusia 29 tahun itu.

Tetangga rumah itu kepada Han mengatakan, Adelina telah disiksa selama lebih dari sebulan dan dipaksa tidur di beranda bersama dengan rottweiler tersebut.

Han pun memanggil perempuan yang terlihat ada di dalam rumah, yakni majikan Adelina. Perempuan itu langsung menghardiknya dan menyuruhnya pergi. Tak lama anak sang majikan pun datang dan membawa Adeline pergi dari sana. Han lalu menelepon polisi.

Adelina yang lemah berhasil dipindah tangan. Han membawanya ke Rumah Sakit Mertajam. Sayang, tubuh Adeline menyerah. Ia meninggal pada Minggu (10/2/2018), sebelum polisi berhasil mengorek keterangan darinya.

Meskipun demikian, penyidikan tetap berjalan. Menurut Dokter Amir Sa'ad, pakar forensik RS Sebrang Jaya, dan Inspektur Zul, polisi Kantor Polisi Sebrang Prai Tengah, seperti dilansir Straits Times, hasil postmortem Adeline membuktikan bahwa ia meninggal akibat sejumlah kegagalan organ.

"Hasil sementara, kematian disebabkan anemia, kekurangan hemoglobin, dan malnutrisi akibat pembiaran yang dilakukan majikan dalam jangka lama," kata Kepala BNP2TKI Nusron Wahid dalam keterangan tertulis, Selasa (13/2).

Namun, dari hasil forensik sementara tidak ditemui bekas-bekas pemukulan dan tidak ada luka dalam.

"Penyebab bekas luka di tangan kanan diperkirakan bekas gigitan binatang dan tangan kiri akibat air keras," ucap Nusron.

Penangkapan sang majikan

Pemeriksaan terhadap ibu majikan dan kedua anaknya--masing-masing berusia 36 dan 39 tahun--mulai dilakukan di pengadilan setempat pada Selasa (13/2) pukul 9.35 pagi waktu setempat.

Ketiganya terancam dikenai pasal 302 hukum pidana Malaysia dengan ancaman maksimal hukuman mati. Ketika dimintai keterangan, mereka membantah telah menyiksa Adelina.

Saat ditanya soal luka bakar di kaki Adelina, si anak sulung mengatakan bahwa itu karena ulah Adelina sendiri yang tidak sengaja menyiram cairan kimia ke tubuhnya. Cairan kimia itu, tadinya dibeli untuk membersihkan saluran pipa yang tersumbat gara-gara Adelina buang air besar di lubang air dapur.

Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menyatakan bahwa timnya tak tinggal diam. Saat ini mereka telah bergerak untuk mengawal proses hukum Adelina Lisao.

"KJRI akan mengawal proses hukum dan memastikan hak-hak dapat terpenuhi, temasuk dalam hal ini, hak atas kompensasi," tegas Retno.

Bagaimana Adeline sampai ke Malaysia

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, mengatakan ada dugaan unsur perdagangan manusia dalam kasus Adelina Lisao.

"Dia mulai bekerja pada 2014, di mana umurnya waktu itu masih di bawah umur," kata dia saat dihubungi Tempo.co pada Selasa (13/2).

Menurut temuan Wahyu, Adelina pun bekerja di Malaysia menggunakan dokumen yang tidak sesuai dengan domisili aslinya. Ada beberapa daerah yang tercantum, salah satunya adalah Desa Tanah Merah, Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu saat dikonfirmasi, Bupati Kupang Ayub Titu Eki belum mengetahui seorang TKI asal wilayahnya yang meninggal di Malaysia karena dianiaya majikannya.

"Kami belum mendapat informasi adanya warga Desa Tanah Merah yang meninggal di Malaysia," kata Ayub kepada Tempo.co.

BACA JUGA