KECELAKAAN TRANSPORTASI

Sederet kelainan pada bus maut di jurang Cikidang

Petugas mengevakuasi mini bus berpenumpang puluhan wisatawan yang masuk jurang di Tanjakan Letter S, Kampung Bantarselang, Kecamatan Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/9/2018).
Petugas mengevakuasi mini bus berpenumpang puluhan wisatawan yang masuk jurang di Tanjakan Letter S, Kampung Bantarselang, Kecamatan Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/9/2018). | Budiyanto /Antara Foto

Petugas kepolisian berhasil mengangkat bangkai bus wisata yang terperosok ke jurang Cikidang, tepatnya pada Tanjakan Ciareuy, Kampung Bantar Selang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/9/2018).

Bus diangkat menggunakan lifter yang dipasangkan pada bibir jurang dan ditarik dua mobil derek milik kepolisian setempat.

Dari foto-foto yang dibagikan pewarta ANTARA terlihat kondisi bagian belakang bus yang minim kerusakan, sebaliknya, bagian muka bus hancur parah. Bus terperosok ke arah kiri, menghantam habis pintu masuk di bagian depan. Kursi-kursi penumpang terlontar dan berhamburan di sekitar lokasi kejadian.

Sebanyak 21 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan ini. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sukabumi AKBP Nasriadi menuturkan, korban meninggal berasal dari total 37 penumpang pada satu dari empat bus yang membawa karyawan PT Catur Putra Raya berwisata ke lokasi arung jeram di Cikidang.

Sementara, sisa penumpang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di tiga lokasi berbeda. Dua korban luka ringan dirawat di Puskesmas Cikidang, 11 korban luka berat dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan Ratu, dan tiga korban luka berat lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Sekarwangi Cibadak.

Nama-nama korban meninggal dunia dan luka-luka bisa dilihat dalam lansiran Tribunnews.com.

Sejumlah warga melihat sebuah mini bus berpenumpang wisatawan yang masuk jurang di Tanjakan Letter S, Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018).
Sejumlah warga melihat sebuah mini bus berpenumpang wisatawan yang masuk jurang di Tanjakan Letter S, Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). | Budiyanto /Antara Foto

Muhamad Adam, si sopir bus dengan nomor polisi B 7025 SGA itu selamat. Adam sempat melarikan diri. Namun, tulang kaki kanan yang patah serta luka-luka pada dahi dan tubuh tak mampu membawanya lari lebih jauh. Adam ditemukan di pinggir sungai Kampung Bantarselang, Desa Cikidang, sekitar dua kilometer dari lokasi kecelakaan.

Adam bukan sopir tunggal bus PO Jakarta Wisata Transport. Ketika berangkat dari Bogor, bus dikemudikan oleh Fahrudin alias Jahidi alias Buyung. Di tengah perjalanan, Adam menggantikan Fahrudin. Nahas bagi Fahrudin, dirinya ikut menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan itu.

Kanit Laka Satlantas Polres Sukabumi Iptu Nandang Herawan mengatakan, bus yang dikemudikan Adam sempat beberapa kali mogok. Selain itu, mesin sempat bermasalah lantaran aliran solar yang macet.

Dugaan sementara, sambung Nandang dalam Liputan6.com, kecacatan pada bus yang mengakibatkan kendaraan itu menjadi sulit dikendalikan hingga akhirnya masuk ke jurang.

Kendati begitu, Polres Sukabumi belum mengumumkan tersangka dalam kasus ini. Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan uji KIR dari kendaraan ini sudah kedaluwarsa.

Dari buku KIR juga diketahui bus tersebut seharusnya hanya menampung 32 penumpang. Pada kenyataannya, bus membawa 37 penumpang serta dua sopir. Pihak kepolisian masih mencari tahu di mana para penumpang di luar kapasitas itu naik.

Ada empat bus yang mengangkut karyawan PT Catur Putra Raya Sabtu itu. Bus yang dikemudikan Adam berada pada urutan terakhir iring-iringan. Bus dipandu Dendi Kinong, seorang pemandu wisata arung jeram Cikidang dengan menggunakan sepeda motor.

Sejak awal, Dendy mengaku sudah memperingatkan bahwa jalur yang dipilih oleh para sopir bus itu tak lazim dilalui kendaraan besar karena kondisinya jalan yang berkelok serta curam. Jalur itu lazim dikenal sebagai jalur tengkorak.

Bukan hanya peringatan yang diabaikan, sebelum kecelakaan, bus tersebut juga menyalip sepeda motor pemandu. “Pas hampir sampai di lokasi kejadian, ada turunan yang tajam. Nah, di situ saya kesalip oleh bus, sampai akhirnya bus terjun ke jurang,” kata Dendi dalam CNN Indonesia.

Di samping itu, PT Jasa Raharja juga telah menyerahkan santunan uang kepada ahli waris korban meninggal dunia dan luka-luka dalam kecelakaan bus ini. Besaran santunan disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 33 dan PMK Nomor 15 Tahun 2017.

“Santunan korban meninggal diberikan kepada ahli waris sebesar Rp50 juta. Korban luka diberikan jaminan biaya perawatan rumah sakit maksimum Rp20 juta,” ucap Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardi.

Terkait jaminan, bus yang mengalami kecelakaan ini ternyata juga tidak diasuransikan, berikut pula penumpangnya.

“Maka dari itu, polisi akan menelusuri perusahaan (PO) apakah hanya bus ini yang terabaikan atau bus lainnya juga. Seharusnya, orientasi PO adalah keselamatan penumpang, jangan hanya mau menerima hasilnya saja,” tukas Kepala Korlanas Polri Irjen Pol Refdi Andri yang dinukil dari Republika.

Catatan redaksi: artikel telah dilengkapi data kecelakaan lalu lintas pada periode Januari hingga Juni 2018 yang didominasi oleh sepeda motor, Senin (10/9/2018), pukul 13.11 WIB.

BACA JUGA