UANG BEREDAR

Segera tukarkan uang kertas tahun emisi 1998 dan 1999

Pegawai Bank Indonesia (BI) Kendari menunjukan uang kertas rupiah lusuh yang ditukarkan oleh masyarakat di Bank Indonesia Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (29/12/2018).
Pegawai Bank Indonesia (BI) Kendari menunjukan uang kertas rupiah lusuh yang ditukarkan oleh masyarakat di Bank Indonesia Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (29/12/2018). | Jojon /Antara Foto

Bank Indonesia telah mencabut dan menarik empat pecahan uang kertas tahun emisi 1998 dan 1999 dari peredaran, dan menyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah sejak 31 Desember 2008.

Sepuluh tahun berlalu, masyarakat yang masih menyimpan uang kertas itu masih memiliki kesempatan untuk menukarkannya pada hari terakhir sekarang, Minggu, 30 Desember 2018 di Bank Indonesia. Lewat tanggal itu, masyarakat tak bisa lagi menukarkannya.

"Tanggal 29-30 Desember itu kan Sabtu-Minggu. Namun, BI tetap membuka layanan bila masyarakat ingin menukarkan keempat mata uang tersebut," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Junanto Herdiawan melalui Okezone.

Uang kertas tahun emisi 1998 yang dicabut peredarannya, yaitu Rp10 ribu dengan gambar muka Pahlawan Nasional Tjut Njak Dhien dan pecahan Rp20 ribu dengan gambar muka Pahlawan Nasional Ki Hadjar Dewantara.

Adapun uang kertas cetakan 1999 yang dicabut adalah pecahan Rp50 ribu dengan gambar muka Pahlawan Nasional WR. Soepratman dan Rp100 ribu dengan gambar muka Pahlawan Proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta.

Pecahan uang kertas yang dicabut itu memiliki dua tahun emisi yaitu pecahan Rp10.000 tahun emisi 1998 dan 2005; Rp20.000 tahun emisi 1998 dan 2004; Rp50.000 tahun emisi 1999 dan 2005; serta pecahan Rp100.000 tahun emisi 1999 dan 2005.

Pencabutan empat pecahan uang kertas itu sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No.10/33/PBI/2008 tanggal 25 November 2008. Dengan adanya peraturan itu, empat uang kertas itu dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah atau legal tender sejak 31 Desember 2008.

Pergantian mata uang rutin dilakukan oleh BI dengan pertimbangan masa edar uang, adanya emisi baru, serta perkembangan teknologi unsur pengaman.

Peraturan BI (PBI) Nomor 10/33/PBI 2008 menyebutkan bahwa setelah 31 Desember 2018 masyarakat tidak dapat menuntut untuk melakukan penukaran uang kertas setelah 10 tahun pengumuman pencabutan. Bank Indonesia mengeluarkan peraturan itu pada 25 November 2008.

Sejak 31 Desember 2008 sampai 30 Desember 2013, masyarakat dapat menukarkan empat uang kertas itu di Bank Indonesia dan/atau Bank Umum. Setelah itu, sejak 31 Desember 2013 sampai 30 Desember 2018 penukaran dilakukan hanya di Bank Indonesia.

Kebutuhan uang tunai Natal dan Tahun Baru

Bank Indonesia memastikan sudah terpenuhinya seluruh kebutuhan uang tunai masyarakat saat momentum libur Natal 2018 dan dan Tahun Baru 2019.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, berdasarkan pemantauan bank sentral baik di pusat maupun di 46 kantor perwakilan BI yang tersebar di seluruh Indonesia, penarikan uang tunai yang dilakukan masyarakat hingga Jumat 28/12/2018 mencapai sekitar Rp90 triliun.

"Seperti kami sampaikan, perkiraan kebutuhannya itu sekitar Rp101,1 triliun dan kemarin itu sudah sekitar Rp85 triliun. Mungkin kalau ditambah hari kemarin dan hari ini sudah lebih dari Rp90-an triliun," ujar Perry melalui Antaranews.

BI menyiapkan Rp101,1 triliun sepanjang Desember 2018 untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan penarikan uang tunai masyarakat pada liburan Natal dan Tahun Baru.

Jumlah uang tunai tersebut meningkat 10,3 persen dibandingkan periode yang sama di 2017 sebesar Rp93,7 triliun.

Uang tunai yang disiapkan oleh BI didominasi oleh uang kertas pecahan nominal besar yaitu 98 persen pecahan Rp20.000 ke atas dan sisanya uang kertas pecahan kecil.

Alokasi terbanyak ke Pulau Jawa, di luar kantor pusat BI dan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.

Bank sentral mengimbau masyarakat mengutamakan transaksi secara nontunai walaupun cash dijamin ketersediaannya. Uang elektronik, debet, kredit maupun alat pembayaran nontunai, ujar Perry, lebih aman, lebih nyaman, lebih cepat.

Bank Indonesia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap hati-hati dan waspada terhadap tindak pemalsuan uang kertas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR