KRIMINALITAS

Sekda Papua jadi tersangka pemukulan petugas KPK

Pendukung KPK melakukan aksi di Jakarta, 23 Januari 2015.
Pendukung KPK melakukan aksi di Jakarta, 23 Januari 2015. | Mast Irham /EPA

Penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menaikkan status Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi Papua Hery Dosinen dari saksi menjadi tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi, Senin (18/2/2019).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut Hery diduga ikut terlibat dalam aksi pemukulan terhadap dua petugas KPK. Jika benar terbukti, Hery bakal dijerat Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan pidana penjara maksimal lima tahun.

Penetapan tersangka dilakukan setelah kepolisian melakukan gelar perkara dugaan kasus penganiayaan. Argo meyakinkan, dari gelar perkara itu kepolisian mendapatkan minimal dua alat bukti untuk menjerat Hery.

“Intinya bahwa ada alat bukti yang cukup, ada keterangan saksi, ada keterangan dari ahli, ada petunjuk,” kata Argo, dikutip dari AntaraNews.

Menanggapi perkembangan kasus ini, juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan penetapan tersangka ini tak lepas dari langkah kepolisian yang terus berkoordinasi dengan KPK dalam menemukan pelaku penganiayaan.

Kendati demikian, Febri turut mengapresiasi upaya yang sudah dilakukan kepolisian, mulai dari pemeriksaan saksi, korban, hasil visum korban, dan seterusnya. Febry menambahkan, KPK bakal terus berkoordinasi dengan kepolisian dalam penyelesaian perkara ini.

“Ketika nanti dibutuhkan dukungan informasi tertentu, dibutuhkan kembali pemeriksaan terhadap saksi-saksi relevan atau dukungan lain yang memungkinkan menurut aturan hukum yang berlaku, tentu KPK akan terus berkoordinasi dengan pihak Polda,” kata Febri dalam laporan KOMPAS.com.

Di sisi lain, Febri turut berharap kasus ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk tidak menghalangi aparat penegak hukum yang sedang menjalankan tugasnya.

Sebelumnya, dua orang petugas KPK diduga dianiaya pada Sabtu (2/2/2019), ketika mengambil foto di tengah aktivitas rapat antara Pemerintah Provinsi Papua dan anggota DPRD Papua di Hotel Borobudur, Jakarta.

Kedua petugas tersebut tengah melakukan pengintaian atas indikasi tindak pidana korupsi. Turut hadir di antara rapat itu adalah Gubernur Papua Lukas Enembe.

Ketika dua petugas itu mulai menanyakan beberapa pertanyaan kepada salah satu anggota rapat, mereka tiba-tiba dikeroyok beberapa orang. Pengeroyokan itu tetap tak berhenti meski kedua petugas telah menunjukkan identitas mereka.

Tak hanya itu, pelaku penyerangan juga merampas barang-barang korban. Dari hasil visum yang diterima pihak kepolisian, diketahui pegawai KPK bernama Gilang Wicaksoni mendapat luka di bagian hidung.

Ketua DPRD Papua Yunus Yonda mengklaim aksi penganiayaan terjadi lantaran dua petugas KPK itu ketahuan membuntuti Lukas Enembe. Yunus mengaku memergoki salah satu petugas KPK mengambil gambar Lukas.

Oleh karenanya, pihak DPRD Papua melaporkan balik adanya tindakan yang membuat tidak nyaman saat rapat berlangsung. Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengaku telah menerima laporan tersebut namun belum menindaklanjutinya.

Sementara itu, KPK menganggap kasus ini bukan sekadar penganiayaan saja, melainkan serangan terhadap aparat penegak hukum yang menjalankan tugas mereka.

Kasus ini sontak mencuri perhatian banyak pihak. Donal Fariz Koordinator Divisi Korupsi Politik dari Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta pihak kepolisian untuk serius dalam menangani kasus tersebut.

"Tidak ada lagi alasan tidak bisa menemukan pelaku kejahatan, sebab ini terjadi di ruang publik," kata Donal.

Meski begitu, Donal mengakui bahwa kasus semacam ini rentan terjadi terhadap petugas lembaga hukum. Namun, bukan berarti hal ini menghambat kerja mereka, sebab para penegak hukum seharusnya akan terus menghadapi perlawanan itu dengan berbagai cara.

Kecaman juga datang dari Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo. Menurutnya, serangan itu merupakan bentuk teror terhadap KPK. "Bagi kami, ini lagi-lagi merupakan teror terhadap pegawai KPK yang sedang menjalankan tugasnya," kata dia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR