PERLINDUNGAN KONSUMEN

Sektor jasa keuangan paling banyak diadukan konsumen

Seorang pegawai bank dalam pameran bulan inklusi keuangan di Taman Kota Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (27/10/2018).  Sektor jasa keuangan paling banyak diadukan konsumen ke YLKI sepanjang 2018.
Seorang pegawai bank dalam pameran bulan inklusi keuangan di Taman Kota Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (27/10/2018). Sektor jasa keuangan paling banyak diadukan konsumen ke YLKI sepanjang 2018. | Jojon /Antara Foto

Sektor jasa keuangan paling banyak diadukan konsumen kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sepanjang 2018. Menurut Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, sepanjang tahun lalu ada 564 aduan yang masuk ke meja YLKI.

Sektor jasa keuangan yang mendominasi dengan porsi sebesar 50 persen. Lalu disusul sektor perumahan 21 persen, telekomunikasi 14 persen, e-commerce 9 persen, dan listrik 6 persen.

Sepuluh besar pengaduan yang terbesar berasal dari perbankan, lalu perumahan, pinjaman online, telekomunikasi, belanja online, listrik, asuransi, leasing, umrah dan haji, lalu transportasi.

Tulus menjelaskan, dari total 234 pengaduan di sektor jasa keuangan, keluhan konsumen terhadap bidang perbankan tercatat sebanyak 103 pengaduan. Lalu disusul pinjaman online sebanyak 81 aduan, asuransi 21 aduan, leasing 21 aduan dan uang elektronik dengan delapan aduan.

Permasalahan yang paling banyak dikeluhkan konsumen mengenai gagal bayar sebanyak 36 aduan, lalu berkaitan dengan administrasi 23 aduan dan keluhan mengenai kehilangan 18 aduan.

"Ada juga yang seputar perjanjian yang tidak sesuai ada tujuh aduan, penolakan lelang empat aduan, ATM bermasalah tiga aduan, informasi appraisal dua aduan, informasi data dua aduan, remittance satu aduan dan take over satu aduan dan lainnya lima aduan," kata Tulus di Jakarta, Jumat (25/1/2019) seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Staf Pengaduan YLKI Rio Priyambodo menjelaskan, masalah dengan jasa keuangan memang selalu menjadi sektor yang diadukan sejak dulu. Terutama yang berkaitan dengan gagal bayar utang yang dilakukan konsumen.

Oleh karenanya, otoritas keuangan harus hati-hati agar jangan menerbitkan kebijakan yang merugikan konsumen nantinya.

"Makanya kebijakan DP nol persen bagi pembiayaan kredit kendaraan bermotor ini kami akan uji materiilkan ke Mahkamah Agung. Agar tidak ada lagi keluhan gagal bayar mengenai pembiayaan," kata Rio seperti dipetik dari CNN Indonesia.

Akhir tahun lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan lembaga pembiayaan yang sehat, memberi kredit otomotif tanpa uang muka alias down payment 0 persen. Izin ini dituangkan dalam POJK Nomor 35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan yang diundangkan 28 Desember 2018.

Tren aduan makin menurun

Tulus menjelaskan, aduan yang masuk ke YLKI tiap tahun makin menurun. Pada 2014, YLKI mencatat terdapat ada 1.192 laporan, kemudian pada 2015 jumlahnya turun menjadi sebanyak 1.030 laporan dan 2.016 sebesar 781 laporan. Sementara itu, pada 2017 jumlah aduan kembali menurun menjadi 6.42 dan terakhir turun lagi menjadi 564 pengaduan di 2018.

Menurut Tulus ada beberapa sebab. Pertama, banyak badan usaha yang sudah mulai berbenah dalam menghadapi keluhan konsumen. Apalagi, kini sudah banyak badan usaha yang punya mekanisme pelayanan konsumen melalui media sosial.

"Banyaknya peran media sosial yang dominan bikin masyarakat memberikan pengaduan lewat daring, Meski demikian, tetap ada yang mengadu ke YLKI agar konsumen puas. Konsumen mengakui, 50 persen persoalannya selesai setelah mengeluhkan masalahnya ke YLKI," ujar Tulus.

Kedua, sudah banyak lembaga yang mengakomodasi kepentingan konsumen. Jumlahnya, menurut Tulus, bahkan mencapai 277 lembaga di seluruh Indonesia. Ketiga, beberapa aduan konsumen juga diselesaikan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Selain itu, konsumen memiliki tempat beragam untuk menyampaikan keluhannya, misalnya melalui Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) atau divisi layanan pengaduan konsumen dari tiap perusahaan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR