INDUSTRI PERTANIAN

Sektor pertanian Indonesia kian melesat

Petani memanen cabai rawit di kawasan lahan pertanian Sumur Welut di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/2/2019).
Petani memanen cabai rawit di kawasan lahan pertanian Sumur Welut di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/2/2019). | Zabur Karuru /ANTARA FOTO

Sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan prestasi dan pencapaian dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu tampak dari lonjakan nilai ekspor dan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan.

Kuntoro Boga Andri, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), mengatakan nilai ekspor sektor pertanian melonjak signifikan terutama pada komoditas strategis perkebunan dan peternakan.

Bila diakumulasi, total ekspor selama empat tahun belakangan mencapai Rp1.764 triliun. “Nilai ekspor tahun 2018 juga meningkat sebesar 29,7 persen bila dibandingkan dengan tahun 2016 mencapai Rp 384,9 triliun," ujar Kuntoro, Selasa (9/4).

Sebelumnya, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi mengatakan kinerja komoditas pertanian terlihat dari neraca atau selisih nilai ekspor dengan impor.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dinukil Kompas (9/2), neraca perdagangan hasil pertanian Indonesia pada 2018 mengalami surplus senilai $10 miliar atau setara Rp139,6 triliun. Nilai ekspor naik menjadi sebesar $29 miliar, sedangkan nilai impor hanya $19 miliar.

Adapun dari sisi volume ekspor, menurut BPS, hasil pertanian meningkat 4,8 persen per tahun dalam kurun waktu 2014-2017. Di 2018, jumlahnya bahkan meningkat menjadi 42,5 juta ton atau lebih tinggi 1,2 juta ton, jika dibandingkan dengan volume ekspor pada tahun 2017 yang hanya mencapai 41,3 juta ton.

Atase Pertanian KBRI Tokyo, Sri Nuryanti, mengatakan produk pertanian dan peternakan juga sudah merambah pasar Jepang dengan dominasi subsektor perkebunan.

Ekspor paling berpotensi antara lain lemak dan minyak nabati, disusul lateks dan karet alam. Jepang juga mengimpor sayur dan buah, dengan produk paling potensial pisang dan nanas. Keduanya merupakan penyumbang devisa negara terbesar dibanding buah lainnya.

Tak hanya itu, nilai investasi sekaligus PDB pertanian juga meningkat signifikan.

Kuntoro mencontohkan, sepanjang periode 2013-2018, total investasi pertanian di Indonesia mencapai Rp270,1 triliun. "Selama kurun waktu tersebut nilai investasi pertanian tahun 2018 mencatat rekor tertinggi, yaitu Rp61,6 triliun.” Capaian investasi 2018 meningkat 110,2 persen dibandingkan investasi tahun 2013 senilai Rp29,3 triliun.

Lalu, “PDB Pertanian itu naik dari Rp994 triliun menjadi Rp1.462 triliun. Hampir merata di setiap sektornya," ucap Amran (4/4).

Ia menambahkan kenaikan PDB sebesar 47 persen dengan total nilai akumulasi Rp1.375 triliun atau separuh dari APBN itu telah membuat Indonesia meraih peringkat ke-5 dunia PDB sektor pertanian. “Ini berkat kerja keras penyuluh,” pujinya.

Apalagi, melansir situs FFTC, Food Sustainability Index (FSI) yang dirilis The Economist Inteligence Unit pada 2016, menempatkan hasil pertanian Indonesia dalam peringkat 25 besar teratas dunia dari 113 negara, dan peringkat 16 untuk kategori keberlanjutan pertanian--lebih tinggi dari Tiongkok dan AS.

FSI 2017 bahkan menyurvei sektor pertanian Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN dengan hasil melampaui negara-negara besar lain.

Kuntoro menyebut seluruh peningkatan dan pencapaian ini didukung dengan sejumlah terobosan Kementan dalam kebijakan maupun program.

Terobosan yang dimaksud antara lain deregulasi kebijakan dan perizinan, pengendalian impor, dan mendorong ekspor dengan sistem layanan karantina jemput bola (in line inspection). Kementan juga mendorong modernisasi pertanian, dan bekerja sama dengan berbagai pihak seperti KADIN, HKTI, KTNA, universitas, eksportir, pameran, promosi serta kontak bisnis.

Lalu, sambung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, “Kita menerapkan Online Single Submission. Dulu minta izin 2 sampai 1 tahun, kemudian 3 bulan, tapi sekarang mengurus izin ekspor hanya butuh waktu 3 jam.”

Terobosan penting lain adalah menata anggaran yang porsinya meningkat tajam sampai 85 persen untuk sarana dan prasana pertanian. Pada 2018, walau subsidi pangan dan benih tidak ada, APBN untuk subsidi non energi sebesar Rp61,7 triliun dilokasikan tertinggi bagi subsidi pupuk sebesar Rp28,5 triliun.

Penambahan dan kebijakan pos anggaran itu berdampak pada meningkatnya produktivitas pertanian. Terutama lewat bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) hingga lebih dari 600 persen di 2017, yang dinilai mampu menekan biaya operasional sampai 48 persen.

Berkat terobosan-terobosan tersebut, capaian sektor pertanian juga mampu meningkatkan daya beli petani dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.

Meski begitu, Kuntoro dan Andi mengingatkan peningkatan investasi sektor pertanian juga sangat bergantung pada ketersediaan lahan serta peran para pengusaha sebagai faktor produksi. Bukan semata-mata harga pangan.

Sebagai gambaran, walau data BPS menunjukkan rata-rata peningkatan dalam Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) sejak 2014-2018, perkembangannya di berbagai subsektor dan provinsi belum merata.

Kendati demikian, inisiatif dan inovasi Indonesia dalam memajukan sektor pertanian tetap menuai apresiasi dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Ini dinilai sejalan dengan upaya FAO mewujudkan ketahanan pangan dan gizi, serta kesejahteraan masyarakat Asia Tenggara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR