Sel bintang lima bagi para pangeran Arab Saudi

Hotel Ritz Carlton, Riyadh, Arab Saudi
Hotel Ritz Carlton, Riyadh, Arab Saudi | Andrew V Marcus /Shutterstock

Arab Saudi punya cara yang tak biasa untuk menahan puluhan orang yang diduga melakukan korupsi di negaranya; yakni dengan menginapkan mereka di salah satu hotel berbintang lima di pusat kota, Ritz-Carlton Riyadh.

Sabtu (4/11/2017), sekitar pukul 11 malam waktu Riyadh, Arab Saudi, tamu-tamu hotel diminta untuk segera berkemas dan meninggalkan hotel, tanpa ada penjelasan apapun. Mereka yang menginap saat itu, menurut laporan The Guardian, adalah para pebisnis dan konsultan mancanegara.

Banyaknya pebisnis itu boleh jadi karena pada akhir Oktober, pada hotel yang sama baru diselenggarakan sebuah konferensi bisnis terbesar di Arab Saudi bertajuk "Davos di gurun pasir" yang dihadiri lebih dari 3,500 pemain bisnis kelas kakap dan sejumlah pejabat negara.

Sejumlah bus sudah tersedia di depan hotel untuk mengangkut para tamu dan siap memindahkan mereka ke hotel yang dirujuk pihak Ritz-Carlton Riyadh.

Begitu bus-bus yang mengangkut tamu meninggalkan hotel, belasan bus lain tiba. Bukan membawa tamu, melainkan menurunkan puluhan tahanan yang baru saja ditangkap atas perintah Pangeran Muhammad bin Salman atas tuduhan korupsi.

Sejak Minggu (5/11/2017) dini hari, Hotel Ritz-Carlton berubah layaknya sebuah penjara. Penjaga dengan senjata lengkap berada di tiap sudut hotel. Gerbang yang sedianya selalu terbuka untuk tamu, kini tertutup rapat.

Situs resmi Ritz-Carlton Riyadh juga memuat pemberitahuan bahwa hotel itu akan penuh, setidaknya hingga akhir November 2017. Begitu juga dengan seluruh sambungan telekomunikasi dari dan menuju hotel itu untuk sementara dinonaktifkan.

Untuk diketahui, saat Beritagar.id melakukan pencarian acak untuk pemesanan hotel lewat situs pencarian akomodasi, Agoda.com, hingga pertengahan Desember 2017, ketersediaan kamar di Ritz-Carlton juga belum ada.

Tangkapan layar halaman muka Hotel Ritz-Carlton Riyadh, Arab Saudi
Tangkapan layar halaman muka Hotel Ritz-Carlton Riyadh, Arab Saudi | Istimewa /Ritz-Carlton Riyadh

Senin (6/11/2017), Daily Mail mendapatkan sebuah foto yang menggambarkan beberapa orang tidur di atas matras tipis dan selimut pada sebuah ruangan besar dengan hiasan lampu kristal gantung pada atapnya.

Sumber Daily Mail, yang diyakini sebagai salah satu pejabat tinggi Arab Saudi itu membenarkan, orang-orang yang tidur di atas matras dan selimut itu adalah para pangeran yang ditahan karena dugaan korupsi tadi.

Sumber itu juga mengatakan, Alwaleed bin Talal, investor terkaya yang ada di peringkat ke-45 orang paling berduit di jagad raya versi Forbes 2017, adalah satu di antara orang-orang yang sedang tertidur itu.

Hal ini bisa menjadi ironi bagi Al-Waleed, jika foto itu benar adanya. Sebab, baru pada dua pekan lalu, Al-Waleed menjadi salah satu pembicara dalam konferensi yang digelar di ruangan hotel yang sama dengan tempat beristirahatnya saat ini.

Tak ada yang tahu apa alasan Pangeran Muhammad, sang pewaris takhta Raja Arab Saudi, membiarkan hal ini terjadi.

Jika karena dari puluhan orang tahan 11 di antaranya adalah pangeran, maka sikap tegas Pangeran Muhammad yang memanen koruptor tanpa pandang bulu bisa menjadi bias adanya.

Pangeran Muhammad menambang musuh

Langkah keras yang dilakukan Pangeran Muhammad (juga dikenal dengan sebutan MbS) tak hanya membawa perubahan besar pada negara yang tertutup kedua setelah Korea Utara itu.

Pangeran muda (32) ini memang tengah mengejar tiga gol dari revolusi yang dilakukan di Arab Saudi; mengamankan kekuasaannya, mengubah citra Arab Saudi sebagai negara "kaku dan kolot", dan mengencangkan lagi perlawanan kepada Iran.

Dalam dua tahun sejak takhta diberikan oleh sang Ayah, Raja Salman bin Abdulaziz, Pangeran Muhammad bisa dibilang berhasil mengamankan gol pertamanya.

Dia adalah Menteri pertahanan termuda di Arab Saudi yang juga menggerakkan program pembangunan ekonomi yang dikenal dengan "Vision 2030"--yang mengubah cara pandang bisnis Arab Saudi dari minyak ke sektor lain.

Pangeran Muhammad juga berhasil menciptakan banyak sekutu. Hubungannya dengan Gedung Putih begitu mesra, belum lagi dengan Rusia--menyasar pada kunjungan Raja Salman Oktober 2017.

Pangeran Muhammad juga sangat populer di antara kaum muda. Dia berhasil meyakinkan para ulama untuk menerima pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan.

Akan tetapi, kemampuannya menarik sekutu berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah musuh. Hal itu yang kemudian diramal CNN akan memberatkan langkahnya untuk mengejar dua gol lainnya.

Sudah menjadi rahasia umum jika korupsi--dan beragam bentuk yang serupa dengan kejahatan ini-- merajalela di Arab Saudi. Banyak dari pejabat penting atau memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan mengumpulkan kekayaan yang jauh melampaui gaji resmi mereka dan disimpan di rekening-rekening luar negeri.

Untuk diketahui, diperkirakan ada sekitar US $800 miliar (sekitar Rp11.000 triliun) harta orang kaya Arab Saudi yang tersimpan di luar negeri, dalam bentuk uang maupun aset-aset pribadi seperti hunian dan kendaraan mewah.

Meski begitu, penangkapan dan penahan puluhan orang yang baru "dituduh" melakukan korupsi tanpa pembuktian di meja hijau bisa sangat berbahaya. Rasa dendam yang muncul karena dipermalukan seperti ini bisa memuncak.

Belum lagi pencopotan Pangeran Mitaab bin Abdullah dari jabatannya sebagai kepala Garda Nasional.

Pangeran Mitaab, yang kini turut ditahan, bukan ancaman serius bagi Pangeran Muhammad, melainkan Garda Nasionalnya. Garda Nasional telah lama dikuasai oleh mantan Raja Abdullah dan kemudian diteruskan kepada anaknya itu selama 51 tahun terakhir.

Seluruh jaringan patronase dan aliansi yang diporak-porandakan oleh Pangeran Muhammad ini bisa menjadi ancaman yang serius.

BACA JUGA