Selamat berulang tahun, Bu Mega

Infografik telah direvisi karena ada dua kesalahan tulis dalam teks
Infografik telah direvisi karena ada dua kesalahan tulis dalam teks | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Megawati Soekarnoputri, yang hari ini (23/1/2018) genap 71 tahun, adalah musuh Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Namun tak sampai dua minggu setelah Soeharto mengundurkan diri pada 1998, Megawati mengingatkan masyarakat agar berhenti menghujat dan mencemooh Soeharto.

"Jangan ikut menghujat. Jangan ikut mencemooh. Karena bagaimanapun, ia (Soeharto) adalah Presiden Republik Indonesia yang kedua," kata Megawati dalam pidato hari kelahiran Pancasila di Gedung Pancasila, Jalan Pejambon, Jakarta, 1 Juni 1998 (Kompas, 8/6/1998).

Saat itu umur Megawati 51 tahun. Lima tahun sebelumnya ia terpilih sebagai ketua umum dalam Kongres Luar Biasa Partai Demokrasi Indonesia di Surabaya, 1993. Pemerintah tak mengakui Megawati, dan tetap mengakui Soerjadi sebagai ketua umum partai hasil fusi itu.

Dualisme partai menjadi bisul pecah pada 27 Juli 1996. Kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang dikuasai pengikut Megawati, diserbu ratusan orang yang disebut sebagai massa pro-Soerjadi. Penyerbuan itu terjadi dua hari setelah Soerjadi, beserta pengurus hasil kongres di Medan (21-23 Juni 1996), sowan Soeharto.

Sejak itulah PDI di bawah Megawati menjadi PDI Perjuangan. Megawati terus memimpin sampai sekarang. Dua puluh dua tahun ia mengendalikan partai.

Peran sentral Megawati terbukti saat partainya harus menyiapkan sejumlah calon kepala daerah untuk Pilkada 2018. Dengan bercanda ia bilang bisa ngamuk-ngamuk untuk mempertahankan pendirian.

"Saya bilang sekali lagi, tidak! Tidak! Nah, gitu. Kalau udah ngomong gitu nggak ada yang berani dah..." ia mengungkapkan dalam pidato awal bulan ini (Tribunnews.com, 7/1/2018)

Hasto Kristiyanto, saat menjadi sekretaris panitia kongres pada 2010, menyatakan kepada The Jakata Post, pengurus daerah dan cabang tetap menginginkan kepemimpinan Megawati untuk lima tahun mendatang.

Politikus PDIP, Henry Yosodiningrat, tiga tahun lalu menyangkal bila partainya gagal dalam kaderisasi. Tanpa Megawati, katanya, PDIP bisa pecah seperti PPP.

Henry membandingkan, "Jadi kalau partai punya tokoh, mereka tidak ingin kehilangan sosok, Demokrat kan juga begitu dengan Pak SBY." (Okezone News, 3/4/2015)

Selamat ulang tahun, Bu.

BACA JUGA