Selamat jalan KH Hasyim Muzadi, ulama teduh nan humoris

KH Hasyim Muzadi memberi tausiyah saat peringatan Harlah Muslimat NU ke-67 di stadion Surajaya Lamongan, Jawa Timur, Sabtu 4 Mei 2013. Hasyim meninggal dunia di Malang, Jatim, pada hari Kamis, 16 Maret 2017 karena sakit.
KH Hasyim Muzadi memberi tausiyah saat peringatan Harlah Muslimat NU ke-67 di stadion Surajaya Lamongan, Jawa Timur, Sabtu 4 Mei 2013. Hasyim meninggal dunia di Malang, Jatim, pada hari Kamis, 16 Maret 2017 karena sakit. | Syaiful Arif /Antara Foto

"Karakter Islam terletak pada kelembutannya."

Demikian petuah yang kerap diulang KH Hasyim Muzadi. Termasuk saat berbicara dalam Forum Bahtsul Masail Muslimat NU, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 25 November 2016. Momen itu terjadi sekitar empat bulan sebelum kabar duka ini berembus.

Kamis, 16 Maret 2016, pukul 6.15 WIB, KH Hasyim Muzadi, berpulang pada usia 72 tahun di kediamannya, komplek Pondok Pesantren Al Hikam, Kota Malang, Jawa Timur.

Di media sosial ucapan duka berdatangan. Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengirim pesan duka di media sosial. Jokowi mengaku sangat kehilangan tokoh yang hingga akhir hayatnya tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu.

"Bangsa ini kehilangan salah satu ulama, guru, penjaga terdepan kebinekaan. Seorang tokoh yang sebagian hidupnya didedikasikan untuk agama dan bangsanya," tulis Jokowi.

Sebelumnya, Jokowi sempat menjenguk mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu di Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Rabu (15/3).

Ketika itu, Jokowi yang didampingi ibu negara Iriana diterima oleh istri Hasyim, Hj. Mutammimah. Jokowi juga sempat menginstruksikan tim dokter kepresidenan untuk menangani kesehatan Hasyim.

Kondisi kesehatan Hasyim menurun sejak Januari 2017. Ia sempat dirawat di ruang ICU RS Lavalette, Kota Malang. Setelah keluar dari ruang ICU, KH Hasyim Muzadi memilih untuk beristirahat di rumah sambil melanjutkan perawatan, hingga akhirnya berpulang.

Adapun jenazah Hasyim akan dibawa dari Malang menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pondok Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat, siang ini (16/3). Menurut rencana, upacara pemakaman akan dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Adapun PBNU menginstruksikan seluruh Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang dan seluruh warga NU untuk menyelenggarakan salat gaib dan tahlil yang ditujukan untuk sang kiai.

Semasa hidup, Hasyim Muzadi dikenal sebagai tokoh NU--organisasi Muslim terbesar di Indonesia. Paling tidak, satu dekade lamanya, Hasyim mengemban amanah sebagai Ketua PBNU (1999-2010).

Bersama NU, kiprah tokoh kelahiran Bangilan, Tuban (8 Agustus 1944) itu merentang panjang. Sejak muda, Hasyim sudah bergabung dengan organisasi-organisasi sayap NU, macam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor).

Namanya, moncer sebagai tokoh saat mulai memegang jabatan sebagai Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur (1992-1999)--wilayah basis utama NU.

Ihwal kiprahnya itu, Hasyim pun kerap disebut sebagai "kiai karier" atau "kiai nusub". Istilah itu merujuk pada "orang biasa" yang mencapai gelar kiai setelah belajar dan menguasai ilmu Islam. Di sisi lain, ada pula "kiai nasab", atau mereka yang memang punya "darah biru" sebagai kiai--sebagai misal mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Hasyim tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1956-1962). Pendidikan tingginya diselesaikan di IAIN Malang-Jawa Timur (1964-1969).

Adapun warisannya di bidang pendidikan adalah Pondok Pesantren Al Hikam, yang didirikannya di Malang, Jawa Timur dan Depok, Jawa Barat.

Pun, Hasyim adalah pendiri International Conference of Islamic Scholars (ICIS), sebagai respons atas fenomena teroris global yang sempat bikin tegang Islam dan negara-negara barat. Menimbang fenomena itu, Hasyim terpanggil untuk melunakkan ketegangan dengan mempromosikan nilai-nilai universal Islam lewat ICIS.

Hasyim juga punya jejak di jagat politik. Pada 2004, ia sempat maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden secara langsung pertama di Indonesia.

Duet Mega-Hasyim disebut-sebut sebagai representasi Nasionalis-Islamis. Namun ikhtiar itu kandas, Mega-Hasyim mesti mengakui keunggulan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, dalam pemilihan yang berlangsung dua putaran.

Sebagai sosok kiai, Hasyim juga dikenal dengan ceramah-ceramahnya yang penuh humor. "Tidak ada rasanya orang NU yang tidak kebagian humor Pak Hasyim," demikian kutipan obituari di situs resmi NU.

Humor Hasyim itu juga menyelip kala berceramah dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. di istana, yang dihadiri Presiden Jokowi dan para menteri. Kala itu, mestinya, Hasyim berceramah dengan teks, tetapi ia malah memilih "gaya bebas" tanpa teks.

"Saya kadang-kadang berpikir, ini negara non-Muslim, barang yang hilang, kok ketemu semua. Sementara di negara yang mayoritas Islam, barang yang ada, hilang semua," kata Hasyim dalam ceramah. Semua yang hadir tertawa, termasuk Jokowi.

Di lain kesempatan, Hasyim juga melempar satire penuh petuah. "Walisongo mengislamkan orang. Wali celana cingkrang mengkafirkan orang Islam."

Kini, kita kehilangan keteduhan dan humor Abah Hasyim. Duka terasa pula di linimasa Twitter, kata kunci "Hasyim Muzadi" terpantau memuncaki Tren Twitter Indonesia, Kamis (16/3).

Para tokoh ramai-ramai mengenang dan melepas sang kiai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR