OBITUARIUM

Selamat jalan Pak Raden

Suyadi atau Pak Raden di kediamannya di Jalan Petamburan III, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2013. Walau hasil kreasinya hingga kini masih termasyur, Pak Raden malah mengalami himpitan ekonomi dan hidup serba keterbatasan. Disaat usianya yang senja, ia pun masih memperjuangkan haknya.
Suyadi atau Pak Raden di kediamannya di Jalan Petamburan III, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2013. Walau hasil kreasinya hingga kini masih termasyur, Pak Raden malah mengalami himpitan ekonomi dan hidup serba keterbatasan. Disaat usianya yang senja, ia pun masih memperjuangkan haknya. | Subekti /TEMPO

Kabar duka datang Jumat (30/10/2015) malam. Suyadi atau yang kita kenal dengan sosok Pak Raden meninggal dunia. Kabar duka itu diunggah lewat akun facebook milik Pak Raden. Tokoh yang ngetop dalam film Si Unyil pada era 80-an itu meninggal pada usia 82 tahun di rumah sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat.

Kondisi kesehatan Pak Raden menurun drastis sejak Jumat siang. Pria kelahiran Jember 28 November 1932 itu mengalami infeksi pada paru kanan. "Tadi (Jumat) siang masuk ke ICU (intensive care unit), dia ada infeksi berat di paru kanan, dia juga demam tinggi. Waktu itu ibuku nemenin," kata cucu Pak Raden, Ilona seperti ditulis Kompas, Jumat malam.

Dalam usia yang sudah tua, sosok dengan kumis tebal dan selalu mengenakan blangkon ini, kita kenal selalu bersemangat. Pada April 2012, ia pernah "mengamen" di rumahnya untuk memperjuangkan hidup dan hak cipta atas karakter boneka ciptaannya itu.

Itu dilakukan karena selama ini ia tak pernah mendapat royalti dari karakter Si Unyil yang diciptakannya. "Saya kehilangan hak apa pun untuk menggunakan Unyil kalau tidak izin PFN. Karena semua itu sudah milik PFN, menurut PFN. Nah, inilah yang akan saya perjuangkan," katanya seperti dikutip BBC Indonesia.

Duduk di kursi roda dengan disaksikan sejumlah penggemarnya di depan teras rumahnya di Petamburan Jakarta Barat, ia menyanyikan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan di masa lalu.

Salah satu judul lagu yang dinyanyikan adalah lagu berjudul "Sol Do Iwak Kebo". Suaranya tetap enerjik dan lantang. "Saya baru sadar, setiap bangun tidur saya mulai dengan menyanyi," kata Pak Raden seperti ditulis Kompas.

Selain menyanyi, dalam acara itu Pak Raden juga menjual suvenir seperti kaus yang dijualnya dengan harga sesuai keikhlasan penonton. Kaus itu laku Rp120.000. Juga ada buku yang dijual seharga Rp125.000 untuk empat seri.

Pada 14 Desember 1995, ia membuat perjanjian penyerahan hak cipta atas nama Suyadi kepada Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN). Dalam kesepakatan itu disebut kesepakatan berlaku selama lima tahu sejak ditandatanganinya perjanjian itu.

Namun rupanya PPFN ingkar. PPFN menganggap perjanjian penyerahan hak cipta tersebut tetap pada PPFN untuk selamanya. Ketokohannya sebagai Pak Raden dalam film Si Unyil memang begitu kuat. Tapi sebenarnya ia seniman yang serba bisa.

Usai menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung, ITB (1952-1960), Suyadi meneruskan belajar animasi di Prancis (1961-1965). Sepulang dari Prancis, ia kembali ke almamaternya sebagai dosen (1965-1975). Sepuluh tahun mengabdi di almamaternya, kemudian ia memilih untuk keluar dan berkarya di luar. Ia menggambar, membuat sketsa.

"Orang itu kalau berkarya harus dimulai dengan cinta," katanya dilansir BBC Indonesia. "Dengan cinta", kata penggemar wayang orang ini, "apapun bisa terjadi, apapun bisa kita capai".

Itulah Suyadi. Hidup sendiri tanpa pendamping hingga akhir hayat tampaknya menjadi pilihan hidupnya. Rumah berukuran 100 meter dengan tiga kamar, satu kamar tamu, dan sebuah dapur, menjadi saksi hidup karya-karyanya. Rumahnya tampak berserakan. Sketsa memenuhi rumahnya.

Kini Pak Raden berpulang. Ia akan dimakamkan di pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan, hari ini (31/10).

Selamat jalan, Pak Raden.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR