PENERIMAAN CPNS

Seleksi CPNS 2019 digelar Oktober

Sejumlah peserta mengikuti Seleksi Kompetensi (SKD) menggunakan sistem Computer Assited Tes (CAT) CPNS secara serantak di Gedung Serbaguna Balai Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (26/10/2018).
Sejumlah peserta mengikuti Seleksi Kompetensi (SKD) menggunakan sistem Computer Assited Tes (CAT) CPNS secara serantak di Gedung Serbaguna Balai Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (26/10/2018). | Adeng Bustomi /Antara Foto

Pemerintah kembali membuka pendaftaran seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Oktober 2019. Total formasi yang dibutuhkan mencapai 254.173 lowongan.

Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana mengatakan, rencana pelaksanaan seleksi ASN pada Oktober 2019 akan dibuka dengan dua jenis pilihan, yakni seleksi CPNS dan (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) Tahap Kedua.

"Total kebutuhan 254.173 yang mencakup 100.000 ribu formasi CPNS dan 100.000 formasi P3K Tahap Kedua, dan sisanya sudah dilaksanakan pada seleksi P3K Tahap Pertama," jelas Bima Haria dalam keterangan tertulis yang dikutip Beritagar.id, Rabu, (31/7/2019).

Per 31 Desember 2018 lalu, BKN merilis data statistik jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia yang mencapai 4.185.503, dengan rincian 939.236 PNS bertugas di Instansi Pusat (22.44 persen) dan 3.246.267 PNS bertugas di Instansi Daerah (77.56 persen).

Sebaran PNS tertinggi di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yakni 10,02 persen. Sementara, provinsi dengan jumlah PNS terendah yakni Kalimantan Utara sebesar 0.58 persen. Rata-rata PNS berusia 41-60 tahun dengan persentase laki laki, 35 persen dan perempuan sebesar 32,1 persen.

Seleksi CPNS tahun ini diperkirakan Bima, akan diikuti sebanyak 5,5 juta orang pelamar. Menurutnya, jumlah itu meningkat dari seleksi CPNS tahun sebelumnya yang diikuti 3.636.251 juta.

"Tahun lalu, jumlah pelamar di 76 instansi pusat mencapai 1.446.460 dan pelamar di 481 instansi daerah sebanyak 2.189.791," sebutnya.

Untuk seleksi tahun ini, ungkap Bima, akan digelar di 108 titik lokasi di seluruh Indonesia, yang disediakan BKN. Untuk penyediaan fasilitas tersebut, BKN bekerja sama dengan sejumlah instansi pusat dan daerah.

"Jumlah ini tentu tidak cukup untuk pelaksanaan seleksi serentak. Oleh karena itu beberapa opsi sedang disiapkan dengan kerja sama instansi di pusat dan daerah," tukasnya.

Pembukaan lowongan CPNS 2019 tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri PANRB Nomor 12 Tahun 2019 tentang Kebutuhan Pegawai ASN Secara Nasional 2019.

Sebelumnya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Syafruddin juga telah menandatangani surat pengadaan ASN (Aparatur Sipil Negara). Surat bernomor B/617/M.SM.01.00/2019 itu diterbitkan pada pada 17 Mei 2019.

Surat tersebut ditujukan pada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) pusat atau Kementerian, dan PPK daerah atau Pemerintah Daerah (Pemda).

Hindari kendala

Pada seleksi CPNS tahun lalu, sebagai Ketua Pelaksana Panitia Seleksi ASN Nasional (Panselnas), Bima mencatat sejumlah kendala yang dialami para pelamar.

Beberapa kendala yang dialami peserta dan membuat tidak lolos administrasi, di antaranya:

  • Terkendala database kependudukan tidak update
  • Sejumlah ijazah pelamar tidak sesuai kualifikasi pendidikan yang disyaratkan
  • KTP yang diunggah pelamar tidak jelas atau bukan KTP asli
  • Sejumlah dokumen pendukung yang dilampirkan tidak lengkap

"Beberapa permasalahan ini yang menjadikan peserta tidak memenuhi syarat administrasi," ujar Bima.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat BKN Mohammad Ridwan menambahkan, secara umum petunjuk teknis (juknis) pendaftaran CPNS dan P3K tidak ada perubahan. Ia menandaskan, yang berubah hanya metode ketika peserta melakukan pendaftaran dan saat mengikuti ujian seleksi.

"Hanya teknologinya (berubah), mungkin yang tadi saya sampaikan akan mempermudah persyaratan," ujarnya di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (30/7).

BKN sambungnya, kini tengah melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghindari kendala peserta yang memiliki kemampuan penglihatan rendah dan sulit mengisi persyaratan maupun ujian.

Kemungkinan lanjutnya, para peserta yang memiliki penglihatan rendah akan menggunakan metode voice recognition. "Bagaimana misalnya soal-soal yang tadinya tulisan menjadi voice. Tapi sudah pernah dilihatkan ke kami dan itu sedang dikembangkan, lebih kepada pengembangan teknologi yang mempermudah," tukasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR