KARHUTLA

Selimut asap kembali ke Palembang, terparah sepanjang 2019

Sejumlah kendaraan melintas di atas Jembatan Ampera yang diselimuti kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (8/9/2019).
Sejumlah kendaraan melintas di atas Jembatan Ampera yang diselimuti kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (8/9/2019). | Mushaful Imam /Antara Foto

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti kota Palembang, Sumatra Selatan, Senin pagi (14/10/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kabut asap pekat yang terjadi pada hari ini termasuk paling parah sepanjang musim kemarau 2019.

Warga mengeluhkan jarak pandang di kota Palembang pada Senin pagi hanya mencapai 10 meter. Tebalnya kabut asap juga membuat Jembatan Ampera, ikon kota Palembang, hilang dari pandangan.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Bambang Beny Setiaju, mengatakan kondisi ekstrem tersebut disebabkan banyaknya titik panas atau hot spot selama 24 jam terakhir di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

"Asap kiriman datang dari Banyu Asin I, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang, dan Mesuji," ujar Beny dilansir dari Antaranews, Senin (14/10/2019).

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel yang bersumber dari Satelit Lapan menyebutkan jumlah titik panas pada Senin pagi mencapai 732 buah, dengan titik panas terbanyak di Kabupaten OKI sebanyak 437 buah. Sementara sebelumnya, pada Jumat (11/10), terpantau 417 titik panas.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Sumsel, Ansori, mengatakan titik panas terbanyak terpantau di Kabupaten OKI sehingga pemadaman difokuskan di wilayah tersebut.

"Kami selalu lakukan waterbombing (pemadaman dari udara), setiap hari mengerahkan lima unit helikopter. Kebakaran di OKI ini memang sulit dipadamkan karena terjadi di kawasan gambut dan akses darat yang terbatas. Belum lagi jika terbakar, asapnya mengarah ke Palembang," kata Ansori.

Amelia, warga Kelurahan Bukit Sangkal, Kecamatan Kalidoni, mengaku terkejut ketika akan ke luar rumah sekitar pukul 06.30 WIB untuk mengantar anaknya ke sekolah. Kabut demikian pekat.

"Saya terkejut, kenapa gelap ini. Kemarin-kemarin ada kabut asap, tapi tidak separah hari ini," kata dia.

Lantaran kondisi tersebut, ia menunda waktu keberangkatan anaknya ke sekolah. Apalagi dia pernah mendapatkan informasi dari pihak sekolah bahwa kelas akan diundur dari pukul 07.00 WIB menjadi pukul 08.00 WIB jika ada kabut asap.

Belakangan, karena kondisinya kian parah, Dinas Pendidikan Kota Palembang pun terpaksa meliburkan siswa.

Keluhan atas kondisi ini juga diungkapkan Tina. Ia yang berprofesi sebagai guru senam di sebuah tempat kebugaran menilai kondisi kabut asap hari ini menjadi yang terparah.

"Saya selalu ke luar rumah pukul 06.00 WIB karena ada jadwal senam, sempat terkejut juga karena jarak pandang hanya 10 meter. Sangat terasa, apalagi saya pakai sepeda motor," kata dia.

Kualitas udara memburuk

Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatra Selatan, Senin (14/10/2019).
Sejumlah siswa SMP pulang lebih awal usai diumumkannya libur terkait kondisi kabut asap yang pekat di Palembang, Sumatra Selatan, Senin (14/10/2019). | Feny Selly /Antara Foto

Pekatnya kabut asap ini pun berdampak pada kualitas udara yang tidak sehat menuju level berbahaya. Kualitas udara di Ibu kota Provinsi Sumsel itu mencapai level hingga di atas 250 mikrogram/m3.

Sesuai kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara level 0-50 mikrogram/m3 dalam kondisi baik, level 50-150 sedang, 150-250 tidak sehat, 250-350 sangat tidak sehat, dan pada level lebih dari 350 mikrogram berbahaya.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr Letizia, mengatakan pihaknya menyiagakan tim untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kondisi kualitas udara yang akhir-akhir ini kurang baik.

Tim kesehatan disiagakan di puskesmas dan rumah sakit umum daerah setiap waktu dan siap memberikan pelayanan kepada warga kota yang mengalami gangguan kesehatan.

Untuk mencegah semakin banyak warga terkena Ispa, Dinkes Palembang mengimbau warga agar menggunakan masker untuk meminimalkan kontak langsung dengan asap.

Selain menggunakan masker, untuk menghindari penyakit ISPA dan gangguan kesehatan lainnya akibat udara tercemar asap karhutla, warga diimbau untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR