REKLAMASI TELUK BENOA

Semangat Punks Reformasi menolak reklamasi Teluk Benoa

Barisan massa aksi menolak reklamasi Teluk Benoa saat berjalan menuju kantor Gubernur Bali di Denpasar, Sabtu (24/3/2018).
Barisan massa aksi menolak reklamasi Teluk Benoa saat berjalan menuju kantor Gubernur Bali di Denpasar, Sabtu (24/3/2018). | Bram Setiawan /Beritagar.id

Parade budaya menolak reklamasi Teluk Benoa di Denpasar, Bali, Sabtu (24/3/2018), dimeriahkan oleh Punks Reformasi. Ini adalah komunitas yang terdiri atas beberapa grup musik punk.

Mereka hadir bersama sekitar 1.000 orang massa aksi yang menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa dengan mengelilingi kawasan Niti Mandala Renon di Denpasar. Inilah lokasi aksi utama yang sengaja dipusatkan di depan kantor Gubernur Bali.

"Di negara mana pun ketika ada arogansi kekuasaan pasti ada punk," kata vokalis grup musik punk The Djihard, Roy, soal keterlibatannya dalam aksi ini.

Roy menjelaskan komunitas Punks Reformasi terbentuk untuk melengkapi perjuangan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI). Roy menceritakan komunitas Punks Reformasi lahir pada 2013 demi memperjuangkan suara masyarakat Bali.

Sejak saat itu, komunitas tersebut aktif menyuarakan penolakan reklamasi melalui lagu serta video klip. Hal tersebut, ujar dia, agar masyarakat bisa mencermati isu penolakan reklamasi melalui ranah musik.

Distorsi bunyi gitar elektrik disertai ketukan drum mengentak para massa aksi di depan kantor Gubernur Bali. Lagu berjudul "Sumpah Serapah" dari The Djihard mulai menggema mengawali penampilan para punker.

Pentas tersebut terdiri dari beberapa personel grup musik punk yang berkolaborasi atau melakukan jamming. Mereka semua mengenakan pakaian adat Bali madya (ringan) dan kamen.

Saat melakukan aksi, mereka berjalan mengelilingi kawasan Niti Mandala Renon sambil mengarak ogoh-ogoh yang bertema tolak reklamasi. Ogoh-ogoh tersebut berbentuk kepalan tangan yang melambangkan simbol perlawanan.

Ogoh-ogoh ini berasal dari Desa Pedungan, Denpasar. Koordinator ForBALI I Wayan Gendo Suardana saat orasi mengatakan bahwa saat ini intimidasi untuk membungkam gerakan penolakan reklamasi terus terjadi. Salah satunya, kata dia, perobekan baliho aspirasi masyarakat yang mengungkapkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

"Sudah dari 5 tahun kita (ForBALI) berjuang, dan terlatih untuk aksi yang damai," ujarnya. Gendo menjelaskan bahwa intimidasi terhadap gerakan masyarakat menolak reklamasi Teluk Benoa adalah cerminan kekuasaan yang rakus.

"Teluk Benoa menjadi penting karena menjadi potret penguasa yang bebal di depan rakyat," katanya. Rencana reklamasi Teluk Benoa, tambahnya, juga mencerminkan keangkuhan kekuasaan yang mengeksploitasi lingkungan.

Gendo pun mengingatkan seluruh massa aksi untuk tetap menjaga semangat perjuangan hingga 25 Agustus 2018. Kebetulan itu adalah masa akhir izin lokasi reklamasi yang dipegang oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional, anak perusahaan kelompok bisnis milik pengusaha Tomy Winata yang merencanakan proyek reklamasi Teluk Benoa.

Jadi pada saat itu, Gendo menjelaskan, aksi penolakan reklamasi akan mencapai titik puncak. Saat itu akan menentukan di mana sikap pemerintah ihwal keberpihakan pada rakyat atau ngotot memuluskan kepentingan investor.

"Teluk Benoa adalah harga diri dan martabat kita," ujarnya. Melakukan reklamasi di sana dinilai sama dengan merampas harga diri masyarakat Bali. Selain itu reklamasi Teluk Benoa akan membebani ekologi Bali.

Gendo mengingatkan bahwa keberanian dalam perjuangan akan menyelamatkan Teluk Benoa dari perampasan investor. "Bangun nyali kita, pantang mundur. Jaga barisan, pantang turunkan kepalan tangan kiri kita," katanya.

Gendo kemudian menjelaskan bagaimana reklamasi bisa merusak lingkungan Bali secara perlahan dalam jangka panjang. Contohnya bisa dilihat pada reklamasi Pulau Serangan yang berada di kawasan Denpasar selatan.

Pulau Serangan sempat diperluas dengan cara reklamasi pada 1994. Saat itu investornya adalah PT Bali Turtle Island Development milik Bambang Trihatmodjo, putra presiden kedua RI Soeharto. "Bali akan lebih indah tanpa perlu pulau buatan (di Teluk Benoa)," ujar Gendo.

Aksi vokalis The Djihard, Roy, saat tampil bersama komunitas Punks Reformasi di depan kantor Gubernur Bali, Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (24/3/2018).
Aksi vokalis The Djihard, Roy, saat tampil bersama komunitas Punks Reformasi di depan kantor Gubernur Bali, Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (24/3/2018). | Bram Setiawan /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR