KINERJA PLN

Sempat merugi, PLN cetak laba pada semester I 2019

Foto udara suasana kompleks PT PLN (Persero) Pusat Pengatur Beban (P2B) Area Pengatur Beban (APB) Jateng-DIY di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/8/2019).
Foto udara suasana kompleks PT PLN (Persero) Pusat Pengatur Beban (P2B) Area Pengatur Beban (APB) Jateng-DIY di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (5/8/2019). | Aji Styawan /Antara Foto

PT PLN Persero mencetak laba bersih sebesar Rp7,35 Triliun pada semester I tahun ini setelah sempat mencatatkan rugi sebesar Rp5,35 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Ada beberapa faktor yang mendorong pendapatan laba perusahaan setrum negara ini. Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto, mengungkapkan perolehan laba ini salah satunya didukung oleh peningkatan nilai penjualan tenaga listrik PLN hingga 4,95 persen dari Rp127,6 triliun semester I 2018 menjadi Rp133,45 triliun periode yang sama tahun ini.

Pertumbuhan penjualan ini berasal dari kenaikan volume penjualan menjadi sebesar 118,52 Terra Watt hour (TWh) atau naik 4,41 persen dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 113,52 TWh.

Di samping itu, perolehan laba PLN juga terjadi karena adanya peningkatan efisiensi akibat pengurangan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pembangkit listrik dan menggantinya dengan biofuel, serta menambah pasokan listrik dari pembangkit lain yang berbiaya operasi lebih murah.

Dengan demikian komposisi listrik dari pembangkit BBM (fuel mix) selama semester I 2019 menurun signifikan menjadi 4,3 persen, lebih rendah dibanding akhir tahun 2018 sebesar 6 persen dan jauh lebih rendah dibanding akhir tahun 2014 sebesar 12 persen.

Meskipun penggunaan biofuel untuk pembangkit listrik meningkat, PLN tetap mengoptimalkan pembangkit berbahan bakar batubara untuk mendongkrak efisiensi sejalan dengan dukungan pemerintah terkait harga maksimal batubara untuk sektor kelistrikan.

"Kontribusi produksi listrik dari Pembangkit Batubara sebesar 61 persen dari total produksi listrik nasional," ujar Sarwono dalam keterangan resmi, dikutip Senin (23/9).

Peningkatan konsumsi kWh juga didukung dari adanya kenaikan jumlah pelanggan. Sampai akhir Juni 2019 jumlah pelanggan telah mencapai 73,62 juta atau bertambah 3,92 juta pelanggan dari akhir Juni 2018 sebesar 69,7 juta pelanggan.

Bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 98,3 persen pada akhir tahun 2018 menjadi 98,81 persen pada 30 Juni 2019.

Selama enam bulan pertama tahun 2019 ini, PLN menambah kapasitas pembangkit sebesar 872,44 MW sehingga total kapasitas terpasang pembangkit di Indonesia menjadi 58.519 MW.

PLN juga menambah jaringan transmisi 2.847 kilometer sirkuit (kms) menjadi 56.453 kms, serta menambah Gardu Induk sebesar 6.557 MVA menjadi 137.721 MVA. Hal ini untuk mendukung peningkatan penjualan PLN.

Penambahan kapasitas juga dilakukan disisi energi baru terbarukan (EBT), dimana pada semester 1 tahun 2019, PLN berhasil menambah 135 MW yang berasal dari EBT. Dengan penambahan ini maka total kapasitas pembangkit dari EBT yakni sebesar 7.266 MW

Selain itu, membaiknya laba PLN juga disebabkan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (AS) dan Euro. Sebagian besar pinjaman jangka panjang yang diperoleh PLN untuk pendanaan investasi, terutama Program 35 GW, diterima bentuk dolar AS.

"Penguatan nilai tukar rupiah tersebut tentunya berdampak positif bagi hasil usaha PLN, yang mana PLN membukukan Keuntungan Selisih Kurs pada Juni 2019 sebesar Rp5,04 triliun," ujar Sarwono.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR