LION AIR JT610

Sensor posisi PK-LQP JT610 tunjukkan angka berbeda

Keluarga korban melakukan prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11/2018).
Keluarga korban melakukan prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11/2018). | Dhemas Reviyanto /AntaraFoto

Perusahaan pembuat pesawat, Boeing Company, merespons penyelidikan terbaru Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) atas penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Rabu (7/11/2018) waktu Indonesia, Boeing menerbitkan panduan yang harus dilakukan kru pesawat ketika sensor angle of attack (AOA) bermasalah dalam Operational Manual Bulletin (OMB).

Kepada CNN, juru bicara Boeing tidak memerinci detail isi dari panduan pun apakah petunjuk itu ditujukan untuk semua jenis pesawat Boeing atau 737 Max 8, jenis pesawat yang digunakan dalam penerbangan dengan JT610.

Namun Boeing mengakui, panduan itu dikeluarkan setelah KNKT menyatakan adanya indikasi kesalahan data yang ditunjukkan pada komponen indikator kecepatan udara.

“Bila dibutuhkan, Boeing, sejurus dengan standar operasionalnya, akan menerbitkan buletin dan/atau membuat rekomendasi terkait operasional pesawat kami,” tulis keterangan ini.

Dalam situsnya Boeing menjelaskan, AOA adalah sudut ruang yang dibentuk dari udara yang masuk (relative wind) dengan garis referensi (chord line) pada badan atau sayap pesawat. AOA akan menghasilkan gaya angkat pada pesawat.

Jika sudut yang diciptakan AOA terlalu lebar, maka sayap pesawat bisa stall (kehilangan daya angkat), meski mesin masih menyala. Risiko terbesar bagi penerbang yang gagal mengenali dan/atau terlambat memperbaiki situasi ini adalah kehilangan kendali.

Stall terjadi bila AOA melebihi batas. Pada kokpit akan muncul suara peringatan "Stall" berulang jika AOA tidak segera diperbaiki pilot. Stall pun bisa terjadi kapan saja.

Kondisi kehilangan daya angkat ini paling berbahaya saat pesawat berada dekat permukaan tanah, seperti saat lepas landas dan mendarat. Sebab, ketika itu pesawat sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengembalikan daya angkatnya.

Tanda-tanda bahaya itu yang kemudian diterjemahkan oleh sensor AOA. Sensor tersebut merupakan bagian dari sistem penunjuk kecepatan udara (airspeed indicator).

Sejalan dengan penerbitan OMB, otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS) Federal Aviation Administration (FAA) juga merilis perintah kelaikan udara (Airworthiness Directives/AD). Salah satu poin krusial dalam perintah itu adalah perbaikan prosedur operasional dari AFM (airplane flight manual) yang ditujukan bagi para kru pesawat.

“AD muncul setelah kami mengevaluasi beragam informasi serta ditemukannya sebuah kondisi berbahaya akibat kerusakan elemen tertentu. Lantaran situasi perbaikan keselamatan penerbangan yang darurat, maka AD wajib diberlakukan kurang dari 30 hari setelah diterbitkan,” tulis keterangan FAA.

AOA sempat diganti

Malam hari setelah Boeing dan FAA mengeluarkan peringatan, KNKT menggelar jumpa pers yang menjelaskan tentang temuan kerusakan pada komponen sensor AOA.

Kepala Subkomite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo menuturkan AOA sudah terdeteksi rusak saat pesawat yang sama digunakan untuk penerbangan Denpasar-Jakarta, 28 Oktober 2018 malam.

Sebelum terbang dari Denpasar, sensor AOA sudah diperbaiki dengan mengganti komponennya. Namun, penggantian itu malah menambah masalah lain. Nurcahyo tidak menyebut dengan jelas apa masalah itu dan berdalih akan mendalami kondisi AOA pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP ini.

Tiap pesawat idealnya memiliki tiga AOA yang berfungsi mengukur sikap (attitude) atau posisi pesawat terhadap aliran udara. Hasil pengukuran AOA akan dicerna oleh komputer lalu ditunjukkan oleh penunjuk kecepatan.

“Ini masih terkait dengan kerusakan penunjuk kecepatan (airspeed indicator),” kata Nurcahyo, dikutip dari Katadata.

Apabila pesawat dalam kondisi lurus, penunjuk kecepatan berada pada posisi 0 derajat. Jika dalam kondisi menanjak, maka sensor AOA akan ikut naik, tergantung pada posisinya.

Persoalannya, AOA sebelah kanan dan kiri pada Lion Air PK-LQP menunjukkan posisi yang berbeda. Pada posisi lurus, AOA sebelah kanan 0 derajat sementara kiri 20 derajat.

Temuan itu diketahui KNKT setelah mewawancarai teknisi serta pilot yang menerbangkan pesawat tersebut dari Denpasar ke Jakarta.

Beruntungnya, pilot Denpasar-Jakarta tetap berhasil menerbangkan pesawat meski AOA rusak. Kendati begitu, Nurcahyo enggan menyimpulkan bahwa pilot tersebut jauh lebih hebat ketimbang pilot Jakarta-Pangkalpinang.

“Mengapa ada pilot yang bisa dan ada yang tidak bisa, bagaimana kualitasnya, pengawasannya…ini yang akan kita pelajari,” sebut Nurcahyo.

KNKT, mengutip KOMPAS.com, selanjutnya akan membawa AOA yang rusak ke kantor pusat Boeing di Chicago, AS, untuk diteliti kerusakannya. KNKT juga akan merekonstruksi penerbangan menggunakan AOA yang rusak melalui mesin simulator khusus di pabrik Boeing.

Direktur Pelaksana Lion Air Group Kapten Daniel Putut Kuncoro Adi mengaku bahwa perusahaannya selalu mengikuti langkah-langkah operasional dan perbaikan 737 Max 8 sesuai buku petunjuk yang diberikan Boeing.

“Pilot mencatat masalah yang mereka alami, teknisi kami kemudian memperbaiki catatan itu. Semuanya dilakukan sesuai buku petunjuk,” sebut Daniel kepada CNN.

Adi juga menyatakan, petunjuk perbaikan yang diberikan Boeing juga tidak menyebutkan larangan pesawat untuk terbang (grounded), meski masalah yang dialami sudah berulang kali terjadi.

“Intinya, selama teknisi menyatakan pesawat itu sudah bisa terbang, maka pilot bisa menerbangkannya,” tutup Daniel.

BACA JUGA