KESEHATAN

Seorang konsumen meninggal, rokok elektrik jadi soal

Foto ilustrasi. Pengunjung menghadiri Pameran Vape di Brooklyn, New York, AS, 28 Maret 2019.
Foto ilustrasi. Pengunjung menghadiri Pameran Vape di Brooklyn, New York, AS, 28 Maret 2019. | Alba Vigaray /EPA-EFE

Sebanyak 16 negara bagian di Amerika Serikat (AS) dilaporkan memiliki 153 kasus serius yang terkait dengan penggunaan rokok elektrik atau vape. Ratusan kasus itu meliputi penyakit paru dan infeksi pernapasan dalam dua tahun terakhir.

Menurut Badan Preventif dan Pengawasan Penyakit AS (CDC), Rabu (21/8/2019),semua kasus itu terjadi pada masyarakat yang menggunakan vape atau cairan nikotin dan ganja. Kebanyakan pasien adalah remaja atau pemuda 20-an tahun.

Meski begitu, CDC belum berani menyebut penyebabnya adalah vape. Dalam penjelasannya melalui surel kepada The Independent, CDC menyatakan perlu lebih banyak riset untuk menyatakan apakah vape memang berbahaya.

"Rokok elektrik memang masih relatif baru dan para ilmuwan terus melakukan penelitian untuk mencari tahu efek jangka panjang terhadap kesehatan. Penyakit pernapasan yang terkait dengan vape bisa saja dipengaruhi oleh berbagai faktor," ujar Brian King, Wakil Direktur Riset CDC.

Adapun menurut The Verge, seorang pasien dilaporkan meninggal karena penyakit paru yang misterius. Pasien itu adalah satu dari 193 orang konsumen rokok elektrik yang memiliki gejala serupa pada kurun 28 Juni hingga saat ini.

Keluhan paling banyak datang dari negara bagian Illionis yang jumlah pasien pengguna vape meningkat dua kali lipat hingga pekan lalu. Hingga Jumat (23/8), ada 22 orang yang dirawat di rumah sakit, kasus 12 pasien di antaranya ditinjau dengan saksama.

"Melihat parahnya penyakit orang-orang itu menghadirkan alarm dan kami harus memberi peringatan bahwa pemakaian rokok elektrik dan vape bisa berbahaya," ujar Ngozi Ezike, Kepala Dinas Kesehatan Illonis, dalam pernyataan resminya.

Sementara di Payson, Utah, pemuda 20 tahun Alexander Mitchell divonis sekarat dan harus hidup dengan dua mesin untuk membantu pernapasannya. Sang ayah, Daniel Mitchell, mengatakan anaknya adalah penggiat hiking, tapi hanya dalam sekitar dua hari berubah dari sakit menjadi sekarat.

"Dokter mengatakan dia sekarat. Jujur saja saya sekarang sedang mempersiapkan pemakaman anak saya," ujar Daniel kepada Washington Post, Sabtu (24/8).

Sang dokter menuduh rokok elektrik sebagai penyebab ketika hasil tes terhadap bakteri radang paru (pneumonia) dan indikasi penyakit lain ternyata negatif. Namun satu tes lainnya menunjukkan hasil tak lazim.

Tes memperlihatkan ada bukti sel imun abnormal di paru-parunya dan ini cukup langka. Gejala pneumonia yang biasanya ada pada pasien orang uzur terlihat terkontaminasi kandungan mineral cair.

Dokter menyatakan paru-paru Alexander gagal bekerja karena sindrom pernapasan akut. Sedangkan orang tuanya menyebut putranya memang pengguna rokok elektrik.

Namun, sekali lagi seperti halnya CDC, tuduhan terhadap rokok elektrik atau vape belum cukup terang. Para dokter dari Universitas Utah yang meninjau Alexander mengatakan ada empat kasus serupa pada musim panas ini.

Menurut teori mereka, penyakit itu mungkin disebabkan oleh cairan yang biasa ada pada rokok elektrik. Namun, kata mereka, sebagian pasien sudah mengonsumsi rokok elektrik selama tahunan atau bulan.

"Jika ada kasus serupa sebelum ini, kami seharusnya sudah bisa mengenali sejak awal," katanya.

Rokok elektrik atau vape bekerja dengan memanaskan tembakau cair dan sejumlah cairan lain, termasuk cairan aroma. Namun, kata para ahli, hasil pemanasan justru menghasilkan zat beracun --termasuk unsur logam dan kimia.

Kini, CDC mendesak para dokter untuk melaporkan tuduhan mereka kepada dinas kesehatan setempat. Sementara Badan Pengawasan Makanan dan Obat (FDA) sedang mengumpulkan semua informasi penyakit yang terkait dengan rokok elektrik dan vape.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR