KRIMINALITAS

Seorang relawan Jokowi diculik dan dianiaya, 8 orang jadi tersangka

Foto ilustrasi. Lontaran gas air mata membuat para pengunjuk rasa berlari menghindari saat terjadi kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Foto ilustrasi. Lontaran gas air mata membuat para pengunjuk rasa berlari menghindari saat terjadi kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (26/9/2019). | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Seorang relawan Presiden Joko "Jokowi' Widodo diculik dan dianiaya sekelompok orang di tengah aksi ricuh unjuk rasa mahasiswa di Jakarta pada akhir September lalu. Delapan orang disangka menjadi pelakunya dan sudah ditangkap Polda Metro Jaya.

Penangkapan delapan tersangka ini dilakukan bertahap. Pada tahap pertama, ditangkap tiga orang. Lantas dua orang menyusul dan tiga orang lagi diringkus belakangan.

Namun begitu, tidak ada detail kapan dan di mana mereka ditangkap. Adapun Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto mengatakan semua tersangka memiliki peran berbeda.

"Peran masing-masing pelaku berbeda," ujar Suyudi di Jakarta, Minggu (6/10/2019).

Dua dari delapan tersangka, RF dan S, dijerat dengan pasal berlapis. RF dijerat dengan pasal 55, 56 KUHP junto pasal 170 KUHP dan/atau pasal 335 KUHP dan/atau pasal 333 KUHP, kemudian pasal 48 ayat (1) dan ayat (2) junto pasal 32 ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 11/2008 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 19/2016 tentang ITE.

Adapun S dikenakan pasal 55 ayat (1) KUHP, pasal 335 KUHP dan/atau pasal 333 KUHP, dan/atau pasal 48 ayat (1) dan ayat (2) junto Pasal 32 ayat (1) dan ayat (2) UU ITE. Polisi menyebut RF dan S adalah anggota sebuah organisasi masyarakat (ormas).

Di sisi lain, Polda Metro Jaya memeriksa Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar untuk kasus serupa, Senin ini (7/10). Sedangkan Juru Bicara PA 212 Novel Bamukmin akan diperiksa untuk kasus yang sama pada Kamis (10/10).

Bernard dan Novel diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi. "Saya akan datang," kata Novel yang mengaku tidak ada di lokasi ketika Ninoy diculik dan dianiaya.

Kronologi penculikan dan penganiayaan

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebutkan peristiwa yang menimpa Ninoy terjadi pada Senin (30/9) malam. Saat itu Ninoy dengan mengendarai motor melaju ke arah Pejompongan, Jakarta Pusat.

Saat itu di Pejompongan sedang terjadi kericuhan akibat gas air mata untuk membubarkan aksi unjuk rasa di sekitar kompleks parlemen DPR. Ninoy yang melihat kejadian itu kemudian mengeluarkan ponsel dan mendokumentasikannya.

Namun, tindakan Ninoy membuat para terlapor tersinggung. Mereka merampas ponsel dan memeriksa isinya. Saat itulah para terlapor mengetahui bahwa Ninoy adalah pegiat media sosial dan pendukung Jokowi.

Ninoy kemudian dianiaya dan dibawa ke Masjid Jami Al Falah di Pejompongan. Menurut Argo, di sana Ninoy kembali diinterogasi dan dianiaya.

Video Ninoy dengan wajah memar beredar di Twitter pada Selasa (1/10). Dalam video, Ninoy diinterogasi di bawah ancaman. Pelaku interogasi bahkan mengancam untuk menyiksa Ninoy.

Suyudi mengatakan tiga orang yang terlibat dalam interogasi dan penganiayaan Ninoy adalah yang terakhir ditangkap. Mereka ialah RF, ABK, dan IA.

Peran IA adalah menginterogasi, mengintimidasi, dan memukuli Ninoy terus-menerus. "IA juga mengancam membunuh korban," ungkap Suyudi.

Sedangkan RF hanya ikut menginterogasi dan mengintimidasi Ninoy. Adapun ABK mengaku ikut menganiaya dan mengancam membunuh Ninoy. Ia merekam dan menyebarkan video itu ke media sosial.

"ABK perannya menganiaya korban, merekam video, dan menyebarkannya ke media sosial juga mengancam membunuh korban," tukas Suyudi.

Bantahan pengurus masjid

Ninoy kemudian dilepaskan pada Selasa (1/10) dan melapor ke Polda Metro Jaya sehari kemudian. Video kedua soal kebebasan Ninoy beredar pula di Twitter pada Rabu (2/10). Di dalam video, seorang perekam menyebut Ninoy adalah "seorang cebong" --istilah khas untuk para pendukung Jokowi.

Sementara pada Jumat (4/10), seorang anggota Dewan Kemakmuran Masjid Al Falah, Iskandar, mengatakan jemaah dan pengurus masjid justru menyelamatkan Ninoy ketika mengetahui ada penganiayaan.

"Kita tidak tahu apa penyebabnya tiba-tiba ada pemukulan. Kami dari jemaah masjid dan sekaligus pengurus DKM menyelamatkan beliau, kita masukan ke dalam pintu yang terbuka separuh," kata Iskandar saat ditemui di Masjid Al-Falah, Jalan Pejompongan Dalam, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Iskandar membantah bahwa penyelamatan Ninoy adalah penyekapan di dalam masjid. Bahkan Iskandar menegaskan bahwa video interogasi yang beredar tidak diambil di dalam masjid.

"Kita masukan ke dalam. Kalau dibilang penyekapan, keliru itu, penyelamatan," paparnya.

Lebih lanjut, Iskandar mengatakan tak mengenal tiga dari delapan tersangka yang ditangkap polisi. Kalau pun ada, hanya inisial S. "Mudah-mudahan saya tidak salah menafsirkan inisial S," kata Iskandar pada Senin (7/10).

Argo menyebut tindakan terhadap Ninoy adalah aksi persekusi atau main hakim sendiri. Argo pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan itu.

"Kami imbau jangan main hakim sendiri, jangan melakukan persekusi, karena hal itu tidak dibenarkan dan melanggar hukum. Ada sanksi hukumnya," tandasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR