Sepekan penantian keluarga korban longsor tambang emas Bakan

 Salah seorang keluarga korban menanti di depan deretan ambulance yang bersiaga untuk mengangkut jasad korban longsor pertambangan emas tanpa izin di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Minggu (3/3/2019).
Salah seorang keluarga korban menanti di depan deretan ambulance yang bersiaga untuk mengangkut jasad korban longsor pertambangan emas tanpa izin di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Minggu (3/3/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Sepekan sudah bencana longsor terjadi pada tambang emas tanpa izin di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut). Namun, kemajuan evakuasi puluhan orang yang terjebak di dalamnya relatif lambat.

Sejak Selasa (26/2/2019) hingga hari ini (5/3); tim evakuasi yang terdiri Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri dan lembaga lain baru berhasil mengevakuasi sembilan jenazah. Sementara 20 orang lainnya selamat.

Lambatnya evakuasi pun membuat keluarga para korban gelisah. Misalnya Amrin Sumbala (60) yang ditemui Beritagar.id di posko tim SAR, Minggu (3/3).

Amrin datang ke lokasi sejak mendapat informasi bahwa anaknya menjadi salah satu korban yang tertimpa longsor di tambang emas termaksud, Selasa (26/2). Sejak saat itu, ia pergi pulang dengan berjalan kaki selama berjam-jam dari tempat tinggalnya di Desa Bilalang III, Kecamatan Bilalang. Jarak antar dua tempat ini puluhan kilometer.

Amrin sempat pula memaksa masuk ke dalam tambang, tapi tidak bisa. "Saya memaksa masuk ke dalam lubang. Sya teriakkan nama anak saya di sana, ternyata masih ada sahutan minta tolong dari dalam.

"Ada juga yang bilang minta air. Saya bilang ke mereka tidak bisa, karena batu-batunya sangat besar. Terus saya bilang, nanti saya sampaikan ke tim pencari, ke pemerintah," ujar Amrin.

Amrin berharap akan ada keajaiban agar anak ketiganya yang terjebak di dalam tambang dapat ditemukan dalam keadaan hidup. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, ia mengaku ikhlas menerimanya.

Amrin Sumbala (60), menanti kabar anaknya yang menjadi korban longsor pertambangan emas tanpa izin di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Minggu (3/3/2019).
Amrin Sumbala (60), menanti kabar anaknya yang menjadi korban longsor pertambangan emas tanpa izin di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Minggu (3/3/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

"Kami masih menunggu, mendukung, dan terus mendoakan agar tim SAR yang sedang bekerja dapat diberikan kekuatan untuk melakukan evakuasi," ujar Amrin mewakili para keluarga korban lain yang setiap hari membanjiri posko. Tidak sedikit keluarga korban menginap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kotamobagu.

Dalam penantian itu, sejumlah keluarga korban pun beberapa kali mengamuk di sekitar posko. Misalnya saat Wakil Walikota Kotamobagu, Nayodo Kurniawan, berkunjung ke lokasi.

Mereka mendesak Nayodo untuk serius menangani evakuasi keluarga mereka. "Jangan cuma bolak-balik di sini. Bagaimana nasib keluarga kami di atas sana?" teriak salah seorang pihak keluarga korban.

Situasi sempat gaduh. Nayodo pun berusaha mendinginkan suasana dengan menyatakan bahwa tim SAR tetap berupaya evakuasi. "Tenang. Saya paham dengan apa yang bapak-ibu rasakan. Mari kita sama-sama menunggu tim SAR yang bekerja keras untuk melakukan evakuasi. Bantu dengan doa," kata Nayodo.

Mulai Senin (4/3), alat berat yang sudah dikerahkan sejak beberapa hari lalu mulai menggali lubang tambang yang longsor. Namun, kondisi lokasi yang masih labil membuat tim gabungan sangat berhati-hati.

"Kami mengedepankan keamanan dan keselamatan. Beberapa jasad korban sudah diketahui posisinya, di kedalaman sekitar 15 meter. Jadi, mungkin Selasa (5/3) jika cuacanya mendukung, jasad korban akan diangkat," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolaang Mongondow, Haris Dilapanga, saat dihubungi Beritagar.id, Senin (4/3).

Haris menceritakan tim SAR sudah membuat lubang besar di lokasi longsor sebagai "pintu" masuk untuk evakuasi. Beberapa korban yang terimpit pun sudah terlihat, hanya tinggal menunggu evakuasi.

Haris menambahkan, puluhan ambulance sudah bersiaga sejak beberapa hari kemarin. Begitu juga dengan rumah sakit yang diminta bersiap 24 jam.

"Banyak kendala yang menghambat evakuasi. Karena lokasinya cukup ekstrem. Kami berharap agar masyarakat dan para keluarga korban tetap bersabar dan menunggu upaya proses evakuasi oleh tim gabungan," ungkap Haris.

Sesuai standar prosedur (SOP), evakuasi dilakukan sampai 7 hari masa pencarian. Dan hari ini tepat sepekan proses pencarian. "Setelah itu, tetap akan disesuaikan dengan segala kemungkinan kondisinya."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR