PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Sepertiga desa di Sumbar jadi lokasi peredaran narkoba

Lima remaja putri menunjukan lima jari masing-masing sebagai bentuk penolakan terhadap bahaya narkoba pada peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2019 di Medan, Sumatra Utara, Rabu (26/6/2019).
Lima remaja putri menunjukan lima jari masing-masing sebagai bentuk penolakan terhadap bahaya narkoba pada peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2019 di Medan, Sumatra Utara, Rabu (26/6/2019). | Irsan Mulyadi /Antara Foto

Dunia internasional memperingati Hari Anti-Narkotika pada Rabu (26/6/2019). Namun, penyalahgunaan/peredaran narkoba diyakini kian masif.

Satu di antara buktinya adalah kenaikan angka penyalahgunaan/peredaran narkoba di Sumatra Barat (Sumbar). Menurut data potensi desa (podes) 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Lokadata Beritagar.id, Sumbar menjadi provinsi dengan sebaran terbanyak.

Angkanya naik dari 14,7 persen pada 2014 menjadi 37 persen pada 2018 atau ada pertumbuhan sekitar 23,1 persen dalam kurun empat tahun. Sebaliknya dengan DKI Jakarta yang sempat mencatat angka penyalahgunaan narkoba tertinggi, justru turun dari 47,2 persen pada 2014 ke angka 34,5 persen pada 2018.

Kenaikan angka penyalahgunaan narkoba per provinsi di Indonesia pada 2014-2018.
Kenaikan angka penyalahgunaan narkoba per provinsi di Indonesia pada 2014-2018. | Lokadata /Beritagar.id

Untuk diketahui, data Podes 2018 BPS ini mencatat wilayah desa/kelurahan yang ada kejadian penyalahgunaan/peredaran narkoba. Dalam kasus Sumbar, misalnya, lebih dari sepertiga desa/kelurahan ada penyalahgunaan/peredaran narkoba.

Di sisi lain menurut riset BNN bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang hingga kini masih berlangsung, prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada kurun 2014-2017 memang naik.

Seperti diutarakan Brigadir Jenderal Polisi Sulistyo Pudjo, Kabiro Humas dan Protokol BNN, prevalensinya kini 1,7. "Artinya setiap 100 orang Indonesia, sekitar dua orang di antaranya mengonsumsi narkoba," tutur Sulistyo kepada Beritagar.id melalui sambungan telepon pada Selasa (25/6).

Namun, Sulistyo belum bisa memberi jawaban mengapa Sumbar mengalami kenaikan secara drastis dibanding provinsi lain di Indonesia. "Perlu riset yang lebih mendalam," katanya.

Sementara pada Selasa (25/6), BNN bersama tim gabungan BNN Provinsi Sumatra Utara dan Sumbar mengungkap jaringan pengedar narkoba yang diringkus pada Kamis pekan lalu. Jaringan yang meliputi Malaysia-Medan-Padang ini, menurut Kepala BNN Komisaris Besar Polisi Heru Winarko, dikendalikan dari Rumah Tahanan Kelas II Pariaman, Sumbar.

Heru, seperti dilansir Kompas.id, mengungkapkan operator jaringan diduga berjumlah empat orang. Masing-masing AC, BS, SJ, dan sHE yang tahanan Rutan Kelas II Pariaman.

Belakangan diketahui, HE adalah pemesan dan pemilik barang haram tersebut sekaligus pengendali jaringan ini. Deputi Bidang Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Polisi Arman Depari mengatakan peredaran pun melibatkan sipir penjara.

"LP (lembaga pemasyarakatan) kita ini belum sembuh-sembuh, masih sakit. Kalau mau sembuh, seharusnya LP yang harus memperbaiki diri. Jika ini terus terjadi, kita akan kebobolan dan tentu mengancam generasi muda Indonesia,” katanya.

Tiga provinsi dengan angka penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia pada 2018.
Tiga provinsi dengan angka penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia pada 2018. | Lokadata /Beritagar.id

Peredaran narkoba memang tak pernah berhenti. Padahal polisi terus menindak dan memidanakan para bandar, pengedar, dan kurir narkoba. Di Jakarta dalam sepekan terakhir, misalnya, polisi sudah menindak aksi penyelundupan dan penggerebekan pabrik narkoba.

Sulistyo mengatakan bahwa penyalahgunaan narkoba makin meluas hingga ke pelosok karena peningkatan ekonomi masyarakat dan perubahan modus. Masyarakat di desa yang pada zaman lampau tidak memegang ponsel, kini sudah lazim menggunakan alat komunikasi tersebut.

Kemajuan teknologi dan peningkatan ekonomi masyarakat, ujar Sulistyo, memudahkan komunikasi sekaligus untuk mengedarkan atau mendapatkan narkoba. Meski begitu, sebaran kejadian pun sebenarnya acak --jika melihat data BNN.

Misalnya, lanjut Sulistyo, bisa dilihat di Provinsi Aceh. Angka penyalahgunaan narkoba di ibu kota Banda Aceh relatif rendah, tapi sebaliknya di satu kabupaten.

"Peredaran narkoba menyebar luas karena ada kenaikan potensi pasar di Indonesia setelah ekonomi masyarakat meningkat," kata Sulistyo.

Berdasarkan hasil survei 2018 yang dilakukan BNN dan LIPI di 13 ibu kota provinsi disebutkan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.mahasiswa dalam satu tahun terakhir mencapai 3,2 persen atau setara 2,3 juta orang. Sedangkan, pada kelompok pekerja sebesar 2,1 persen atau sekitar 1, 5 juta orang.

Seorang sindikat narkoba asal Iran yang kini tengah ditahan di Bangkok, Thailand, Abas K, mengatakan bahwa Indonesia adalah pasar potensial narkoba. Abas adalah pemasok narkoba ke Indonesia yang ditangkap di Bangkok.

"Dia mengatakan bahwa Indonesia adalah pasar potensial karena permintaannya naik terus dan harganya bagus," kata mantan Deputi Bidang Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal (Purn) Benny Mamoto, Selasa (25/6), di Jakarta.

BNN pun tidak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka berusaha mengatasi peredaran narkoba dengan tiga cara.

Masing-masing adalah mengurangi rantai pasokan, memutus jalur distribusi serta uang, dan memberdayakan warga. "Misalnya kami melakukan sosialiasi di masyarakat pesisir dan wilayah perairan," tutur Sulistyo seraya menjelaskan bahwa jalur perairan masih menjadi primadona pengiriman narkoba oleh para bandar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR