Seribu Lilin, solidaritas spontan untuk Ahok dan kebinekaan

Seorang warga menyalakan lilin dalam aksi Solidaritas Seribu Lilin Keadilan di Denpasar, Bali, Kamis (11/5).
Seorang warga menyalakan lilin dalam aksi Solidaritas Seribu Lilin Keadilan di Denpasar, Bali, Kamis (11/5). | Nyoman Budhiana /Antara Foto

Vonis dua tahun untuk Gubernur DKI Jakarta (nonaktif), Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, terus mengundang aksi solidaritas dari pelbagai daerah--kerap disebut aksi "Seribu Lilin".

Aksi macam ini telah berlangsung sejak vonis kasus penodaan agama dijatuhkan kepada Ahok, Selasa (9/5). Gerakannya tidak tersentral di Jakarta, melainkan meluas ke sejumlah wilayah: Medan, Surabaya, Bali, Manado, Toraja, Jayapura, dan lain-lain.

Pun, massa aksi tak cuman menyoroti vonis Ahok, tetapi mulai menyuarakan isu toleransi dan kebinekaan di Indonesia.

Menurut mereka, vonis kasus penodaan agama untuk Ahok berkelindan dengan ancaman atas kebinekaan dan toleransi di Indonesia. Vonis Ahok dipandang tak lepas dari tekanan kelompok-kelompok garis keras--sekaligus membuka ruang bagi kelompok tersebut.

Pernyataan macam di muka kerap terdengar dalam orasi di pelbagai daerah. Demikian halnya dalam poster-poster tuntutan, misal: "Pancasila Harga Mati! Tentang Radikalisme".

Aksi juga senantiasa diwarnai kor yang mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu-lagu perjuangan nasional turut jadi pengiring aksi.

Pernyataan koordinator aksi di Timor Tengah Selatan, NTT, Rama Ento Tnomel, juga menunjukkan bahwa aksi ini tak sekadar soal vonis Ahok.

"Kita juga buat seruan anti-radikalisme... menjaga persatuan di NKRI serta meminta keadilan kaum minoritas," kata Rama Ento, dilansir Kompas.com (10/5).

Foto dan video aksi ini ramai pula menghiasi media sosial. Berikut beberapa foto dan video yang kami rangkum dari linimasa Twitter.

Aksi juga meluas hingga ke luar negeri, dimotori Warga Negara Indonesia yang tinggal di perantauan.

Aksi di luar negeri, antara lain berlangsung di Helsinki (Finlandia); Manhattan (Amerika Serikat); Toronto dan Vancouver (Kanada); Perth, Sydney, Melbourne, dan Adelaide (Australia); Amsterdam, Groningen, Den Haag, dan Utrecht (Belanda); London (Inggris), Bonn (Jerman); Auckland (Selandia Baru); Tokyo (Jepang); Taipei (Taiwan).

Seruan aksi di luar negeri juga bisa dilihat lewat poster-poster digital yang tersebar di media sosial.

Mengapa tak dibubarkan?

Aksi menyalakan lilin memang tak jamak bila dibandingkan dengan bentuk penyampaian pendapat lainnya. Namun merujuk Undang-Undang No.9/1998 tentang Kemerdekaan Penyampaian Pendapat, aksi ini tetap masuk dalam kategori demonstrasi.

"Unjuk rasa atau demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum." Demikian kutipan Pasal 1 UU No.9/1998.

Dalam definisi nan longgar itu, aksi seribu lilin bisa dilihat sebagai cara menyampaikan pendapat "secara demonstratif".

Satu masalah tersisa, sebab kebanyakan aksi solidaritas ini berlangsung pada malam hari. Bahkan, tetap dilakukan tatkala hari libur nasional (Waisak, 11 Mei 2017).

Merujuk Peraturan Kapolri 7/2012, aksi di tempat terbuka hanya boleh berlangsung antara pukul 06.00-18.00 (Pasal 7 ayat 1). Pun ada larangan aksi pada hari besar yang ditentukan pemerintah (Pasal 7 ayat 2).

Atas pertimbangan itu, kepolisian tercatat membubarkan aksi di sejumlah titik.

Contohnya, aksi di Pengadilan Tinggi Jakarta, Jumat (12/5). Dalam aksi itu, polisi sempat menembakkan meriam air (water cannon) demi membubarkan massa. Laporan kumparan menyebut, setidaknya lima orang diamankan polisi atas dugaan sebagai provokator.

Kamis (11/5), pembubaran lewat proses negosiasi juga terjadi di depan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok--tempat penahanan Ahok.

Ketika itu, Ahok juga sempat mengimbau massa agar lebih tenang serta tidak menggelar aksi yang bertentangan dengan aturan. Kompas.com melaporkan, Ahok sempat berbicara kepada massa lewat pengeras suara.

"Saya kira tidak tepat juga aksi di luar Brimob karena ini bukan di DKI. Di sini demi kebaikan saya, harus bubarkan diri," ujar Ahok. "Kondisi saya sehat, baik. Ini Hari Raya Waisak agar bapak ibu menenangkan diri".

Adapun kepolisian menyebut selalu ada pertimbangan kemanusiaan dalam pembubaran aksi. Pernyataan macam itu, misalnya disampaikan Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Andry Wibowo, ketika menghadapi aksi di depan LP Cipinang.

"Pertimbangan kemanusiaan lebih tinggi daripada yang lain kemarin, itu saja pertimbangannya," kata Andry.

Di media sosial, beredar pula selentingan yang menuding kepolisian punya perlakuan khusus untuk aksi Seribu Lilin.

Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, membantah selentingan tersebut, dengan menyebut perbedaan antara aksi pendukung Ahok dengan unjuk rasa lain.

Aksi-aksi pendukung Ahok, kata Setyo, lebih spontan. Terlihat lewat ketiadaan pemberitahuan kepada polisi yang merupakan syarat melakukan demonstrasi. Setyo pun berkata, kepolisian senantiasa meminta massa membubarkan diri lewat proses negosiasi.

"Kita berupaya bernegosiasi agar mereka bubar. Prinsipnya, Polri tidak ada pembedaan," ujar Setyo, dikutip detikcom (12/5).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR