Seriuskah Facebook memerangi ujaran kebencian dan paham ekstrem

Dinding kantor Facebook Jerman dicoret dengan teks "Facebook Dislike" oleh orang tidak dikenal, di Hamburg, Jerman , (12 Desember 2015).
Dinding kantor Facebook Jerman dicoret dengan teks "Facebook Dislike" oleh orang tidak dikenal, di Hamburg, Jerman , (12 Desember 2015).
© Bodo Marks /EPA

Facebook terlihat kian serius memerangi ujaran kebencian (hate speech) dan paham ekstrem di layanannya.

Senin (19/1/2016), Direktur Operasional Facebook, Sherly Sandberg mengabarkan peluncuran inisiatif Online Civil Courage Initiative (OCCI), di Berlin, Jerman. "Memerangi ekstremisme dan kebencian di ranah daring," demikian petikan penjelasan laman OCCI.

Mashable menyebut belum ada rincian jelas bentuk kerja riil Facebook, kecuali pendanaan terhadap OCCI. Merujuk Mic.com, Facebook dan sejumlah organisasi lain telah menyediakan dana sebesar 1 juta euro (sekitar Rp15,2 miliar) untuk OCCI.

"Menghapus konten tidak akan membuat kebencian lenyap. Kita tidak bisa hanya mengobati gejala --kita mesti menangani penyebabnya. Kita perlu suara toleransi dan cinta untuk melindungi seluruh dunia," tulis Sandberg.

Selama ini, Facebook bertindak tegas menghapus atau memblokir konten yang memuat ujaran kebencian dan paham ekstrem. Namun, penerapannya bersandar pada laporan pengguna. Sederhananya, tanpa laporan pengguna, Facebook tidak menghapus konten.

Menyusul peluncuran inisiatif itu, muncul pertanyaan: Kenapa Facebook menaruh "perhatian khusus" pada Jerman, atau Eropa pada umumnya?

Sejumlah artikel media Jerman, TheLocal.de, agaknya bisa menjelaskan latar "perhatian khusus" Facebook terhadap Jerman dan Eropa.

Beberapa bulan terakhir, di Jerman, muncul gugatan dari pengguna untuk mengatasi komentar negatif di Facebook. Hal itu seiring dengan gelombang pengungsi di Jerman, yang disertai dengan lonjakan komentar-komentar bernada rasial dan anti-imigran.

Dipicu masalah itu, Menteri Kehakiman Jerman, Heiko Maas, menggelar pertemuan dengan Facebook. Sang menteri juga mengingatkan bahwa Facebook diwajibkan oleh hukum (yang berlaku Jerman) untuk menghapus konten rasial.

Agaknya desakan warga, dan pemerintah Jerman, telah "memaksa" Facebook melakukan tindakan riil memerangi ujaran kebencian serta ekstremisme.

Desakan serupa juga datang dari pemerintah Prancis, usai serangan mematikan di Paris (November 2015). Pemerintah Prancis bahkan mendesak Facebook, Google, Apple, Twitter, dan Microsoft, untuk membangun strategi ofensif guna menandingi aktivitas daring yang dilakukan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS/IS atau daesh).

Di sisi lain, "perhatian khusus" Facebook yang masih berkisar di Eropa itu turut menuai kritik.

Bila memang Facebook --dan layanan lain-- sedang memerangi ujaran kebencian dan ekstremisme, maka tindakan itu harus lebih besar cakupannya. Tak terbatas di Jerman, Prancis, atau Eropa secara umum.

Hal itu disampaikan oleh jurnalis teknologi Quartz, Joon Ian Wong. Wong turut mengingatkan bahwa Facebook juga punya tanggung jawab untuk mengatasi agar layanan mereka tidak menjadi kanal perekrutan teroris.

Front Pembela Mujahidin Indonesia Timur
Front Pembela Mujahidin Indonesia Timur
© Istimewa /Facebook

Masalah serupa di Indonesia

Masalah yang sama juga terjadi di Indonesia. Penyebaran paham ekstrem dan ujaran kebencian di media sosial terbilang mengkhawatirkan.

Pengamat terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, mengingatkan bahwa media sosial menjadi salah satu kanal propaganda ISIS di Indonesia. Jones menyinggungnya dalam tulisannya "Battling ISIS in Indonesia" (The New York Times, 18 Januari 2016).

Contoh sederhana, di Facebook, Anda bisa mencari sejumlah akun yang terang-terangan mengaku sebagai simpatisan ISIS di Indonesia. Misalnya dengan memasukkan kata kunci macam "ISIS Indonesia", "ISIS Poso", dan semacamnya di mesin pencari. Hal yang sama juga terjadi di Twitter.

Contoh lain, kasus teranyar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seorang pemuda diamankan polisi karena menyebar pesan (melalui Facebook) soal rencana ISIS menyerang Markas Polres Banjarmasin.

Meski pemuda berinisial NW itu tak terbukti bersalah, kasus itu lebih-kurang menunjukkan bahwa jejaring sosial macam Facebook berpotensi menjadi kanal untuk menyebar teror.

Itu juga belum menghitung posting ujaran kebencian, yang mungkin tengah hilir-mudik di "Kabar Berita" ("News Feed") Facebook Anda.

Atau soal Bahrun Naim --disebut sebagai dalang teror Jakarta-- yang bisa punya akun di layanan Google+, dan aktif menyebar propaganda.

Hal macam itu yang terjadi di Indonesia. Lantas, apa yang bisa dilakukan Facebook dan layanan media sosial lainnya?

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.