PENINDAKAN KORUPSI

Setnov lagi, drama lagi, tipu lagi

Baru empat hari di Gunungsindur, Setnov mengeluhkan jantung dan gula darah. Di Sukamiskin dia bandel. Entah kalau di Nusakambangan.
Baru empat hari di Gunungsindur, Setnov mengeluhkan jantung dan gula darah. Di Sukamiskin dia bandel. Entah kalau di Nusakambangan. | Salni Setyadi /Beritagar.id

BANDEL | Perlukah penjahat licin semacam Setya "Setnov" Novanto (63) dipindah ke Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah: diisolasi, kalau perlu tak boleh dijenguk tapi harus dijaga supaya tidak bunuh diri, kalau mogok makan harus diinfus, pokoknya tidak boleh mati, tapi harus menahan derita jiwa dan raga?

Tata hukum dan filosofi pemidanaan Indonesia tak mengenal pemanjaan hasrat serigala seperti dalam pertanyaan di atas. Demikian pula prinsip hak asasi manusia secara universal.

Setnov dan akal bulus adalah satu paket. Sejak dalam penyidikan hingga menjalani hukuman 15 tahun di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, ada saja akalnya. Dia selaku berkelit agar lepas dari jerat. Padahal dia pernah berkata, hal utama dalam kehidupan adalah kejujuran. Yang terakhir dia menyalahgunakan izin berobat untuk jalan-jalan.

Maka Menkumham Yasonna Laloy Jumat pekan lalu (14/6/2019) memindahkan Setnov ke Lapas Gunungsindur, Bogor, Jabar. Di penjara baru dia tak boleh dijenguk selama sebulan. Kata Yasonna, supaya Setnov tobat.

Nah, baru empat hari di sana Setnov mengeluh jantungnya sakit, gula darahnya naik, kakinya bengkak.

Napi di mana pun bisa melakukan aneka ulah indisipliner karena kelonggaran koruptif petugas penjara.

Jadi perlukah mengirimkan napi korupsi yang banyak akal ke Nusakambangan?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR