PERPAJAKAN

Siap-siap, pelapak di media sosial bakal dikejar pajak

Ilustrasi media sosial. Apapun medium dagangannya, pemerintah akan mengejar pajaknya.
Ilustrasi media sosial. Apapun medium dagangannya, pemerintah akan mengejar pajaknya. | TeroVesalainen /Pixabay

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan mengejar pelapak online hingga ke media sosial. Pengejaran ini menjawab kekhawatiran jika pada pedagang online yang berpindah dari platform e-commerce ke media sosial.

Sri Mulyani menjelaskan rencana pemerintah menarik pajak e-commerce tahun depan guna mengoptimalkan penerimaan perpajakan. Tahun depan, pemasukan negara ditargetkan di angka Rp2.221,5 triliun.

Sesuai pembicaraan dirinya dengan Achmad Zaky (pendiri Bukalapak) dan William Tanuwijaya (pendiri Tokopedia), keduanya sempat khawatir banyak pelapak online bakal lari ke media sosial seperti ke Facebook atau Instagram jika pemerintah menarik pajak ke e-commerce mulai tahun depan.

"Ya kalau lari ke sana (media sosial), ya saya lari juga ke sana,"kata Sri Mulyani di depan peserta Ignite The Nation Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Satu Indonesia, Istora Senayan, Jakarta, Minggu (18/8/2019) seperti dipetik dari Katadata.co.id.

Menurut Sri Mulyani, penyetaraan e-commerce dengan media sosial (level playing field) itu penting. "Bukan karena saya hobi memberi pajak, tapi azas keadilan bagi semua. Itu tujuan dari pemerintah," ujarnya.

Jumat pekan lalu, Presiden Joko 'Jokowi' Widodo menyatakan akan mengejar pajak untuk e-commerce mulai tahun depan. Menurutnya, kebijakan penyetaraan bagi pelaku usaha konvensional maupun e-commerce penting untuk mengoptimalkan penerimaan perpajakan di era digital.

Selama ini pedagang meminta keadilan pajak. Pedagang konvensional ingin pelapak online (e-commerce) juga ditarik pajak. Hal ini dipenuhi pemerintah. Tak mau kalah, asosiasi Asosiasi E-commerce Indonesia (iDEA), juga menginginkan pedagang di media sosial juga harus membayar pajak.

Sebab menurut survei mereka tahun lalu, sekitar 59 persen penjual online di Indonesia kini menjajakan barangnya lewat Facebook dan Instagram. "Hanya 16 persen di antaranya yang berdagang lewat e-commerce," ujar Aulia E. Marinto, Ketua Umum iDEA, Rabu (31/1/2018).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR