E-COMMERCE

Siapa di balik investasi miliaran dolar Tokopedia

Pengunjung beraktivitas di Tokopedia Center yang telah resmi dibuka di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (16/9). Pembukaan Tokopedia Center ketiga di Indonesia itu diharapkan mempermudah dan membantu masyarakat untuk melakukan aktivitas jual beli secara daring yang mendukung pemerataan ekonomi secara daring di Indonesia.
Pengunjung beraktivitas di Tokopedia Center yang telah resmi dibuka di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (16/9). Pembukaan Tokopedia Center ketiga di Indonesia itu diharapkan mempermudah dan membantu masyarakat untuk melakukan aktivitas jual beli secara daring yang mendukung pemerataan ekonomi secara daring di Indonesia. | Mohamad Hamzah /Antara Foto

Tokopedia semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu unicorn di Indonesia. Pada Rabu (12/12/2018), market place asal Indonesia itu mengonfirmasi masuknya investasi baru sebesar $1,1 miliar AS (Rp16 triliun) jelang penutupan tahun ini.

Pendanaan itu dipimpin oleh dua investor yang sudah menyertakan modal mereka pada Tokopedia tahun lalu, yaitu SoftBank dan Alibaba Group. Selain itu ada beberapa perusahaan lain yang ikut serta, seperti Softbank Ventures Korea dan Sequoia India.

Laporan keuangan perusahaan memang bersifat tertutup mengingat perusahaan belum terdaftar sebagai perusahaan publik yang tercatat di pasar modal. Namun dari beberapa laporan analisis investor, selama sembilan bulan beroperasi, Tokopedia sudah berhasil mengumpulkan dana investor sebesar $3,4 miliar AS atau setara Rp49,3 triliun.

Mengutip Tech Crunch, setelah suntikan dana tersebut valuasi Tokopedia naik menjadi $7 miliar (Rp 101,5 triliun). Sebelum putaran dana terakhir, valuasi Tokopedia sudah mencapai $6 miliar. Tokopedia sudah 10 kali melakukan penggalangan dana.

Belum lama ini, dokumen mengenai struktur perusahaan dan pemegang saham Tokopedia diduga bocor. Media KrAsia mengklaim mendapat dokumen struktur perusahaan dan pemegang saham Tokopedia dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Dokumen itu menyebutkan perusahaan yang didirikan oleh William Tanuwijaya itu merupakan perusahaan investasi asing dengan modal awal Rp339.171.883.000. Modal ini didapat dari total enam putaran investasi, seri A hingga F.

William tercatat sebagai Ketua Dewan Direksi, sementara co-founder Leontinus Alpha Edison menjadi wakilnya. Beberapa nama tenar menjadi bagian dari direksi, yaitu Eun Woo Lee dan Lydia Bly Jett dari Softbank, Shailendra Singh dari Sequoia, serta Joseph Tsai dari Alibaba.

Sedangkan Dewan Komisaris dipimpin oleh Kabir Misra. Ia masuk saat masih menjadi managing partner Softbank dan bertahan di jabatan itu walau kemudian keluar dari Softbank untuk memulai usahanya sendiri.

Pemegang saham mayoritas Tokopedia saat ini, menurut dokumen tersebut adalah SVF Investment Limited (29 persen). SVF merupakan perusahaan investasi di bawah SoftBank Group Corp.

SoftBank merupakan sebuah perusahaan telekomunikasi dan media asal Jepang yang bergerak dalam penyediaan beberapa jasa seperti internet pita lebar (broadband), telekomunikasi seluler, dan keuangan.

Perusahaan yang berbasis di Tokyo ini terlebih dulu menyuntikkan modal jumbo ke perusahaan transportasi berbasis aplikasi Grab. SoftBank pertama kali berinvestasi dengan membeli saham Grab pada 2014 seharga $250 juta saat startup ini baru berusia dua tahun.

Selain SVF, beberapa anak perusahaan Softbank lainnya juga menanam modal di Tokopedia, seperti SB Global Champ Fund, SB Global Star Fund dan SB PAN-ASIA Fund. Mereka menguasai sekitar 8,8 persen dari total saham.

Investor terbesar kedua adalah Alibaba dengan total saham mencapai 25 persen. Modal tersebut disalurkan melalui Taobao Cina Holdings, anak usaha Alibaba yang bergerak di bidang ritel.

Selain itu, pemegang saham besar lainnya adalah Radiant Pioneer Limited dan Radiant Trinity Limited, yang terdaftar di Kepulauan Cayman.

Berapa jumlah saham yang dikuasai duo pendiri Tokopedia? William disebut menguasai 5,6 persen saham, sementara Leontinus 2,3 persen.

Saat berdiri pada 2009, Tokopedia mendapatkan pendanaan awal dari PT Indonusa Dwitama. Kemudian mereka mendapatkan suntikan dana dari pemodal ventura global seperti East Ventures, Cyber Agent Ventures, Netprice, dan SoftBank Ventures Korea.

Pada Oktober 2014, Tokopedia menjadi perusahaan teknologi pertama di Asia Tenggara yang menerima investasi sebesar $100 juta atau sekitar Rp1,2 triliun dari Sequoia Capital dan SoftBank Internet and Media Inc.

Investasi sebesar $147 juta kembali disuntikkan pada April 2016.

Masuk 2017, Alibaba Group memimpin sekelompok investor untuk menanam modal sebesar $1,1 miliar. Masuknya Alibaba ini cukup mengejutkan karena mereka adalah investor utama Lazada--sebuah market place raksasa dari Tiongkok--yang juga beroperasi di Indonesia.

Hingga yang teranyar, Tokopedia kembali mendapat suntikan modal $1,1 miliar (Rp16 triliun) dari SoftBank Vision Fund dan Alibaba Group.

Belum ada rencana ekspansi

Tokopedia memiliki posisi unik di pasar Asia Tenggara. Pasalnya, Tokopedia termasuk empat besar e-commerce yang paling banyak dikunjungi setiap bulan. Namun, Tokopedia belum berekspansi ke luar negeri. Tokopedia fokus menggarap pasar Indonesia saja.

Memasuki tahun kesepuluh, Tokopedia akan mengembangkan ekosistem menjadi infrastructure-as-a-service (IaaS) dimana teknologi logistik, fulfillment, pembayaran, dan layanan keuangan akan memberdayakan perdagangan, baik online maupun offline.

"Ini akan memperluas skala dan jangkauan Tokopedia, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional bagi jutaan bisnis dan mitra dalam ekosistem Tokopedia dan mengakselerasi terwujudnya misi besar kami untuk melakukan pemerataan ekonomi secara digital di Indonesia," ujar William dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (13/12).

Saat ini, Tokopedia mengklaim ada empat juta pedagang yang bergabung dengan mereka dan telah menjangkau 95 persen kecamatan yang ada di Indonesia. Mengutip data iprice--situs pembanding dan riset--rata-rata pengunjung situs Tokopedia mencapai angka 153,63 juta setiap bulannya.

Tokopedia juga mengklaim gross mechandise volume (GMV) mereka naik empat kali lipat, walau tak menyebutkan angkanya.

GVM adalah metrik yang biasa digunakan perusahaan e-commerce untuk mengukur total penjualan yang terjadi di dalam platform mereka yang bisa dipakai untuk mengetahui pertumbuhan perusahaan. Angka pertumbuhan akan menentukan nilai perusahaan.

Saat ini, menurut South China Morning Post, penggunaan GVM tengah diperdebatkan karena tidak menghitung pengembalian barang dan pembatalan pesanan, juga tidak bisa menampilkan pendapatan secara akurat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR