PEMILU 2019

Siapa unggul dalam hitungan riil KPU

Petugas KPPS melakukan penghitungan suara di TPS 1 Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku, Rabu (17/4/2019).
Petugas KPPS melakukan penghitungan suara di TPS 1 Desa Savanajaya, Pulau Buru, Maluku, Rabu (17/4/2019). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerima rekapitulasi perhitungan hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 dalam bentuk hitungan riil (real count) secara bertahap.

Berdasarkan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU, hingga Kamis (18/4/2019) pukul 12:15:03 WIB, diterima 2.450 laporan dari 813.350 tempat pemungutan suara (TPS) atau 0,30122 persen.

Dari hasil hitungan riil sementara itu, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin meraih 275.407 suara (59,69 persen), sedangkan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto -Sandiaga Uno meraih 185.980 suara (40,31 persen).

Perolehan suara sementara pemilihan presiden 2019 dalam perhitungan riil KPU yang baru 0,30122 persen, Kamis (18/4/2019) siang WIB.
Perolehan suara sementara pemilihan presiden 2019 dalam perhitungan riil KPU yang baru 0,30122 persen, Kamis (18/4/2019) siang WIB. | KPU

Perlu diketahui, Situng tersebut hanya mempercepat proses informasi yang disampaikan KPU. Twitter resmi KPU menegaskan bahwa Situng menjadi alat kontrol, tapi bukan hasil resmi yang ditetapkan KPU.

"Hasil resmi ditetapkan oleh KPU secara berjenjang dalam rapat pleno terbuka dan dituangkan dalam berita acara," tulis KPU, dikutip Beritagar.id, Kamis (18/4).

Lalu, siapa yang unggul dalam hitungan riil KPU? Untuk hasil resmi pemilu 2019 akan diumumkan paling lama 35 hari seperti diamanatkan Undang-undang No 7 Tahun 2017.

Masyarakat luas bisa mengikuti perkembangan terkini real count KPU itu di laman pemilu2019.kpu.go.id yang dimutakhirkan secara berkala.

Rekapitulasi akhir KPU secara nasional akan diumumkan pada 22 Mei 2019. Pada pengumuman itu juga, KPU akan menetapkan hasil penghitungan suara tingkat nasional setelah rekapitulasi yang dilakukan sejak 25 April.

Tahapan rekapitulasi

Teknis rekapitulasi suara Pemilu 2019 telah diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Bahkan diperkuat secara terperinci dengan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Penetapan Hasil Pemilu.

Tahapan rekapitulasi itu diatur secara manual berjenjang dari TPS hingga nasional. Selain itu, KPU juga menyediakan teknologi daring untuk rekapitulasi C1 yang dipindai.

Rekapitulasi sementara tersebut bisa diakses melalui laman KPU. Sistem itu dinamai Situng dan bisa diakses masyarakat luas agar tahu perkiraan hasil lebih dulu meski tentunya itu bukan hasil resmi.

Proses penghitungan dimulai secara terbuka dari TPS setelah proses pemungutan suara berakhir pada Rabu (17/4). Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) menghitung perolehan suara secara terbuka di hadapan para saksi, pengawas, pemantau pemilu, dan warga.

Alur penghitungannya berurutan dari surat suara Pilpres, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Khusus di DKI Jakarta, hanya ada empat jenis surat suara yang dihitung lantaran tidak terdapat DPRD Kabupaten/Kota.

Partisipasi capai 80,90 persen

Di sisi lain Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, mengungkapkan partisipasi pemilih pada pemungutan suara Pemilu serentak 17 April yang mencapai 80,90 persen.

Menurutnya, hal ini telah melampaui target yang ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019 sebesar 77,5 persen. "Hal ini menunjukkan bahwa siapapun presiden yang terpilih akan memiliki legitimasi yang tinggi," ujar Wiranto dalam keterangan tertulis yang diterima Beritagar.id, Kamis (18/4).

Wiranto mengatakan, situasi nasional pascapemilu cukup aman. Dia juga mengingatkan kepada segenap masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan tindakan anarkis yang melanggar hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku sambil menunggu hasil resmi perhitungan suara oleh KPU.

Sementara itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh prajurit TNI dan Polri, serta semua pihak yang terlibat dalam proses Pemilu serentak.

Namun, pihak TNI dan Polri, kata dia, tetap siaga menjaga stabilitas keamanan pada tahapan selanjutnya. "Kami tidak akan mentolerir dan bakal menindak tegas semua upaya yang bakal mengganggu ketertiban masyarakat serta aksi-aksi inkonsitusional yang merusak proses demokrasi di Indonesia," tegas Hadi.

Ungkapan senada diucapkan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Dia mengakui bahwa pemilu tahun ini yang paling kompleks di dunia lantaran dilaksanakan serentak pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

"Itu adalah salah satu pemilihan terbesar di dunia yang dilaksanakan dalam one day dan itu kita laksanakan sukses," ujar Tito.

Dia menambahkan, pada 17 April tidak ada kejadian yang signifikan. Hanya ada tiga masalah kecil yang tidak signifikan seperti peristiwa penganiayaan terhadap seorang anggota KPPS di wiliyah Sumatra Selatan dengan anggota Linmas yang berjaga dipicu rebutan kunci kotak suara.

Selain itu, sebut Tito, ada peristiwa di Sampang (Madura) yang dipicu rebutan mandat saksi sehingga mengakibatkan adanya korban luka. Terakhir adalah kejadian melarikan kotak suara di Sampang dengan motif uang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR