TRANSPORTASI UDARA

Siapa yang untung dari penurunan tarif batas atas

Aktivitas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (16/5/2019).
Aktivitas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (16/5/2019). | Muhammad Iqbal /AntaraFoto

Harga jual tiket pesawat kelas ekonomi tujuan domestik terpantau turun sejak kebijakan penurunan tarif batas atas berlaku, Sabtu (18/5/2019).

Menilik sejumlah situs jual beli tiket, rerata penurunan harga yang dipatok maskapai berada pada rentang Rp100.000 hingga Rp300.000, baik untuk full service maupun low cost carrier (LCC).

Pada salah satu rute favorit, Jakarta-Yogyakarta, misalnya. Pada situs tiket.com, rerata harga jual yang dipatok untuk keberangkatan 29 Mei 2019, atau satu hari jelang pekan mudik, berkisar Rp851.400-Rp1.081.000.

Harga sedikit melonjak ketika keberangkatan diundur ke 30 Mei 2019. Pada tanggal yang dimaksud, harga jual dipasang pada rentang Rp862.000-Rp1.099.000. Tarif lebih mahal berlaku untuk penerbangan rute sama namun dengan transit.

Namun memang, harga jual tiket pesawat untuk rute penerbangan ke luar Jawa tetap tinggi. Tarif yang berlaku untuk penerbangan rute Bali, Sumatra Utara, dan Kalimantan Timur reratanya dipatok pada rentang minimal Rp1.709.100 hingga Rp2.223.900.

Sementara untuk harga tiket Jakarta-Jayapura dipatok minimal Rp4.000.000 sampai Rp5.218.100 per penumpang.

Vice President Corporate Secretary PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk M. Ikhsan Rosan menyatakan pihaknya memberlakukan penurunan maksimal 16 persen pada harga jual tiketnya, sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 yang diteken Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, 15 Mei 2019.

Ikhsan, dalam CNNIndonesia mengakui, bahwa perusahaan sebenarnya berat untuk memangkas harga tiket ini terutama pada masa mudik Lebaran.

Apalagi ketentuan baru ini dibuat dengan tidak memperhitungkan biaya lain-lain seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berkisar 10 persen dari tarif dasar, iuran wajib asuransi, biaya tambahan, dan tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (Passenger Service Charge/PSC) yang berlaku berbeda di tiap-tiap kota.

Terlebih, pada musim mudik maskapai memang terbiasa memasang harga tarif lebih tinggi untuk mengompensasi minimnya jumlah penumpang pada periode normal.

“Penurunan TBA (Tarif Batas Atas) oleh Kemenhub ini ya memang membuat kami pusing karena harus menekan biaya lain. Untuk biaya perawatan dan karyawan kan tidak bisa diganggu,” ujar Ikhsan.

Untuk sementara, Garuda hanya bersiasat dengan memaksimalkan penerimaan dari pengembangan lini bisnis lainnya seperti kargo atau mengambil opsi menutup rute penerbangan dengan okupansi rendah.

PT Angkasa Pura II pun berinisiatif memberikan insentif bagi maskapai yang beroperasi selama musim mudik untuk menurunkan beban biaya mereka.

Selama periode tersebut, AP II bakal menggratiskan biaya mendarat (landing fee) dan biaya parkir untuk seluruh maskapai, terutamanya yang menambah rute penerbangannya.

Insentif ini memang tidak seberapa. Sebab biaya mendarat, parkir, dan pajak bandara (PSC) hanya berkontribusi 4-5 persen terhadap komponen biaya operasional maskapai.

Namun, Direktur Utama PT AP II Muhammad Awaluddin tetap berharap kebijakan ini bisa membantu meringankan beban maskapai akibat kebijakan penurunan batas atas ini.

AP II telah menetapkan 28 Mei-13 Juni 2019 sebagai periode masa angkutan Lebaran. Puncak arus mudik yaitu pada 31 Mei-1 Juni, dengan asumsi Lebaran pada 5-6 Juni 2019. Periode arus balik diperkirakan pada 8-9 Juni.

Bisa rugikan konsumen

Ketua Umum Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai konsumen juga bisa dirugikan akibat kebijakan ini, meski upaya Kementerian Perhubungan untuk menurunkan harga tiket tetap perlu diapresiasi.

Menurutnya, kebijakan menurunkan persentase tarif batas atas tidak bisa hanya berdasarkan pada tekanan masyarakat semata.

“Pertimbangan Menhub bahwa reformulasi TBA pesawat dalam rangka mempertimbangkan aspek daya beli masyarakat adalah hal yang absurd,” kata Tulus, Sabtu (18/5/2019).

Sebab, anomali yang bakal terjadi dari kebijakan ini justru bisa berbalik lagi kepada konsumen. Misalnya saja langkah maskapai untuk menutup rute yang dianggap tidak menguntungkan atau juga pengurangan jumlah penerbangan sekalipun untuk jalur gemuk.

Di luar itu, keselamatan konsumen juga bisa perlu dipertimbangkan apabila maskapai harus mengurangi biaya perawatan demi menekan beban biaya.

Pengamat penerbangan Alvin Lie juga sependapat. Menurutnya, ada kekhawatiran maskapai akan menurunkan kualitas pelayanan dan kenyamanan. Di sisi lain, penurunan tarif tiket ini sebenarnya juga tidak terlalu memuaskan bagi konsumen.

Dikutip dari JPNN.com, Alvin berpendapat bahwa penurunan TBA hanya akan membuat maskapai tetap menjual tiket pada kisaran tertingginya sepanjang tahun.

Hal yang mungkin bisa dilakukan pemerintah untuk menurunkan harga tiket, menurut Alvin, adalah dengan menaikkan acuan cost per seat per kilometer. Hal itu terlihat bahwa TBA akan naik. Namun airlines akan mampu meraih laba saat peak season dan bisa menurunkan harga ke level bawah saat low season.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR