E-COMMERCE

Sihir Alibaba bernama belanja

CEO Alibaba Group, Daniel Zhang, saat memberikan pidato penutupan Global Shopping Festival pada Minggu (11/11/2018) di Shanghai New International Expo Center, Shanghai, Tiongkok.
CEO Alibaba Group, Daniel Zhang, saat memberikan pidato penutupan Global Shopping Festival pada Minggu (11/11/2018) di Shanghai New International Expo Center, Shanghai, Tiongkok. | Sorta Tobing

Tepat tengah malam tadi, Alibaba Group mencetak rekor penjualan kotor atau gross merchandise value (GMV) sebesar 213,5 miliar RMB atau Rp452 triliun dalam ajang pesta diskon selama 24 jam atau Global Shopping Festival.

Raksasa perusahaan perdagangan elektronik asal Tiongkok itu berhasil menaikkan angkanya sebesar 27 persen dibanding tahun lalu dalam ajang serupa. Tapi sebenarnya dalam hal mencetak rekor GMV pada acara yang kerap disebut Double Eleven tersebut, Alibaba telah melakukannya selama 10 tahun berturut-turut.

"Angka ini hanya hasil. Tapi prosesnya yang lebih penting," kata CEO Alibaba Group, Daniel Zhang, pada Minggu (11/11/2018) di Shanghai New International Expo Center, Shanghai, Tiongkok.

Tahun ini memang lebih istimewa dari sebelumnya. Skalanya lebih global, ada 230 negara yang berpartisipasi. Produk yang ikut lebih banyak, terdiri dari 180 ribu merek. Semua bisa terwujud, menurut Zhang, berkat kerja keras semua pihak. Produk yang laris manis terjual terutama suplemen kesehatan, susu bubuk bayi, masker wajah, dan popok sekali pakai.

Angka GMV yang mulai bergerak sejak pukul 00:00 waktu setempat, memang seperti sihir. Cepat sekali. Bahkan sebelum pukul empat sore, angkanya mencapai 168,2 miliar RMB atau sekitar Rp356 triliun. Lebih dari GMV dari tahun lalu.

Namun, ini bukan sihir seperti cerita Ali Baba dalam negeri satu malam yang membuat perusahaan meraih sukses. Tak ada mantra "Open Sesame" di sana. Yang ada adalah teknologi digital.

Alibaba tak sekadar memiliki toko digital, seperti Tmall, AliExpress, dan Lazada. Pelayanan untuk supermarket pun ada, yaitu Hema dan RT-Mart, yang sekaligus menyediakan jasa antar barang. Keduanya terlibat pula dalam pesta diskon ini.

Lalu, Alibaba juga mengikutsertakan anak usaha lain, seperti Intime, pemborong pusat perbelanjaan kelas premium Tiongkok. Ada juga EasyHome, jaringan pemasok produk perbaikan rumah dan perabot.

Tapi yang menarik adalah Tmall Innovation Center. Divisi Alibaba ini khusus melakukan inovasi ritel pada platform Tmall. Tugasnya membantu sebuah produk mengidentifikasi kanal dan strategi untuk masuk ke pasar Tiongkok.

Head of Tmall Innovation Center (TMIC), Duan Ling, mengatakan, mereka baru setahun bekerja dan sudah berhasil bekerja sama dengan 80 perusahaan, 600 merek, dari 15 industri.

Sebagai contoh, perusahaan coklat Mars. Perusahaan asal Amerika Serikat ini sempat mencari rasa baru untuk pasar Tiongkok. "Kami menemuka data ternyata anak muda di sini suka rasa pedas, maka dibuatlah Snickers rasa tersebut," katanya.

Hasilnya, penjualan Snickers pedas mencapai sembilan juta renminbi atau Rp19 miliar dari Agustus 2017 sampai Maret 2018. Sebanyak 92 persen konsumen memberi ulasan positif pada produk itu.

Keberhasilan menargetkan konsumen juga Alibaba untuk supermarketnya. Di Hema, mereka menyediakan pesan antar sampai di tujuan dalam waktu maksimum setengah jam. Radius pengantaran ini adalah tiga kilometer dari toko tersebut.

Toko ini menghadirkan makanan segar, terutama sayuran dan buah. Semua terbungkus dan terjadwal. Kalau tak habis dalam sehari, maka akan disingkirkan dari etalase toko. Karena itu, supaya tak mubazir, perusahaan memakai data untuk menghitung jumlah kebutuhan penduduk dalam radius tersebut.

Ada pula aplikasi yang bisa mengecek asal lauk dan sayur yang tersedia di sana. Tinggal pindai barcode yang tertera pada produk melalui aplikasi Taobao, konsumen bisa mendapat informasinya. Kalau mau bayar, tinggal pindai akun dompet elektronik Alipay.

Belum lagi teknologi logistik. Mereka memiliki gudang yang tersebar di banyak negara. Untuk konsume Asia Tenggara, Alibaba punya gudang di Malaysia. Cara-cara ini memudahkan pengiriman barang agar cepat ke tangan konsumen.

"Tahun ini bukan cuma hari diskon besar tapi bagaimana Alibaba melayani konsumen," kata Joseph Tsai, vice chairman dan salah satu pendiri Alibaba Group.

Konsumen Tiongkok masih menjadi target terbesar perusahaan. "Dalam jangka panjang ada kenaikan konsumen kelas menengah di sini," ujarnya. Jumlahnya dalam 10-15 tahun ke dapan bisa naik 600 juta orang.

Pendapatan per kapita di Tiongkok sekarang hampir sembilan ribu dolar AS. Pertumbuhan perusahaan selalu naik dua digit setiap tahun. Jadi, ini memberi dasar akan adanya kenaikan konsumsi yang bullish.

Masyarakat rural juga sedang berkembang. "Mereka sangat ingin tahu dan mencari cara bagaimana meningkatkan gaya hidup dan kehidupan mereka," kata Tsai.

Kelompok ini yang ia yakini akan bertumbuh cepat. Alibaba ingin menyeimbangkan antara pertumbuhan global dengan mendorong pula kemajuan pedesaan Tiongkok.

Zhang mengatakan, industri perdagangan digital sekarang memasuki era baru. Ada personalisasi konsumen yang bisa dilakukan dengan big data dan artificial intelligence. Alibaba berkembang berkat dua teknologi digital tersebut.

“Gaya hidup orang akan berubah,” kata Zhang. Big data dan artificial intelligence akan mempercepat perubahan perdagangan digital.

Ekonomi Tiongkok tak lagi bergantung pada ekspor. “Hari ini, kita menyaksikan kekuatan dan kebangkitan ekonomi berbasis konsumsi di Tiongkok,” ujarnya.

Namun, bukan berarti semua berjalan mulus untuk Alibaba. Sejak awal tahun ini harga sahamnya jatuh di bursa perdagangan New York. Bahkan jelang Global Shopping Festival harganya turun ke level terendah dalam 15 bulan terakhir.

Para analis melihat perang dagang AS dan Tiongkok penyebabnya. Selain itu, ada pelemahan pertumbuhan ekonomi di sana.

Ketika ditanya soal ini, Tsai masih optimistis harga saham akan membaik. Investor mulai melihat Alibaba tak seburuk itu. “Kami membuat tren unik dengan teknologi digital untuk membuat konsumen lebih baik,” katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR