PEREKONOMIAN DUNIA

Sikap Bank Sentral AS sinyal lesunya ekonomi dunia

Foto ilustrasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pengarahan dalam pembukaan Mandiri Investment Forum (MIF) 2019 di Jakarta, Rabu, (30/1/2019).
Foto ilustrasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pengarahan dalam pembukaan Mandiri Investment Forum (MIF) 2019 di Jakarta, Rabu, (30/1/2019). | Wahyu Putro A. /Antara Foto

Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) secara tiba-tiba mengakhiri siklus kenaikan suku bunga yang telah berlangsung sejak tiga tahun lalu. Sikap The Fed yang melunak ini dinilai sebagai sinyal bahwa situasi ekonomi dunia sedang lesu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ada dua hal penting yang dapat dipahami mengapa The Fed tak seagresif tahun lalu dalam menaikkan suku bunga.

Pertama, kemungkinan karena situasi ekonomi dunia memang sedang lesu. Kedua, ada perhatian khusus Amerika Serikat (AS) terhadap pelemahan yang terjadi di lingkup global dan di negaranya.

"Tapi sisi positifnya dengan The Fed tidak menaikkan suku bunga, berarti tekanan seperti yang terjadi pada 2018 yakni kenaikan suku bunga empat kali tidak terjadi tahun ini,” ujarnya dikutip dari detikcom, Jumat (22/3/2019).

Sebelumnya pada Rabu (20/3), hasil rapat komite pengambil kebijakan Federal Open Market Committee, Gubernur The Fed, Jerome Powell, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada 2,25-2,5 persen atau median 2,375 persen, sesuai ekspektasi pasar.

The Fed juga mengubah arah suku bunga acuan hingga jangka menengah. Pada dot plot edisi Desember 2018, The Fed masih menargetkan median suku bunga acuan pada 2,875 persen pada akhir 2019 sehingga diperkirakan bank sentral masih butuh dua kali kenaikan lagi dari posisi sekarang.

Namun dalam dot plot teranyar, The Fed memperkirakan median suku bunga acuan pada akhir tahun ada pada 2,375 persen atau sama seperti saat ini. Artinya, kemungkinan besar tidak akan ada kenaikan suku bunga hingga akhir 2019.

Jika menilik data-data ekonomi AS saat ini, ada beberapa indikator yang belum tercapai sesuai harapan. Misalnya pertumbuhan ekonomi AS yang terbatas akibat dipengaruhi oleh terbatasnya stimulus fiskal. Belum lagi permasalahan struktural tenaga kerja dan menurunnya keyakinan pelaku usaha. Maka hal inilah yang bakal menghambat nafsu The Fed untuk mengerek suku bunga.

Pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed selama beberapa tahun ini telah berdampak pada sejumlah negara ekonomi berkembang (emerging market), termasuk Indonesia. Di dalam negeri, capital outflow atau aliran modal asing keluar tak terbendung dan membuat nilai tukar rupiah tertekan.

Namun, itu semua dapat diatasi dengan cukup baik karena Bank Indonesia (BI) juga secara agresif menaikkan suku bunga hingga tujuh kali sepanjang tahun.

BI tahan suku bunga

Namun kebijakan The Fed kali ini direspon berbeda oleh BI. Kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7-days reverse repo rate pada level 6 persen. Alasan utamanya, karena The Fed menunjukkan sinyal menerapkan kebijakan moneter yang semakin longgar (dovish).

Sedangkan suku bunga Deposit Facility juga masih ditahan pada level 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility dipatok sebesar 6,75 persen.

Dalam siaran persnya, Perry mengatakan keputusan itu konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomian, khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Menurut Perry, The Fed diprediksi hanya akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi hingga tahun depan.

Pasar investasi Indonesia dinilai tidak akan terpengaruh secara negatif di tengah tahun politik 2019 ini. Tekanan justru datang dari perekonomian global.

Pengamat ekonomi M. Chatib Basri justru melihat ada isu lain yang lebih berpotensi untuk memengaruhi iklim investasi di Indonesia. Isu tersebut justru datang dari tingkat global, alih-alih domestik.

Selain suku bunga The Fed, isu global lain yang bisa berpotensi memengaruhi investasi di Indonesia adalah perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Kondisi ini membuat Tiongkok sebagai salah satu pasar ekspor Indonesia mengalami perlambatan ekonomi.

Kondisi ini memengaruhi beberapa komoditas ekspor Indonesia; terutama minyak, batubara, dan minyak sawit (CPO).

"Sumber daya alam masih jadi sumber penerimaan besar bagi pemerintah. Sehingga saya tidak kaget kalau defisit masih naik meskipun tidak tinggi," kata Chatib kepada Beritagar.id.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR