Sinyal kuat XL dibalap Indosat

Presiden Direktur XL Dian Siswarini (kanan) dan VP LTE Pantro Pander Silitonga berpose saat peluncuran komersial layanan 4G Long Term Evolution (LTE) di Jakarta, Selasa (22/9). XL menjadi operator telekomunikasi pertama penyedia layanan 4G secara komersial pada frekuensi 1800 MHz di Surabaya dan Denpasar.
Presiden Direktur XL Dian Siswarini (kanan) dan VP LTE Pantro Pander Silitonga berpose saat peluncuran komersial layanan 4G Long Term Evolution (LTE) di Jakarta, Selasa (22/9). XL menjadi operator telekomunikasi pertama penyedia layanan 4G secara komersial pada frekuensi 1800 MHz di Surabaya dan Denpasar. | Prasetyo Utomo /ANTARAFOTO

Peringkat persaingan operator seluler di Indonesia telah berubah di kuartal ketiga 2015 ini. Posisi XL di peringkat kedua telah digeser oleh Indosat ke peringkat empat.

Menurut riset GSMA Intelligence, turunnya peringkat anak perusahaan yang bermarkas di Malaysia, Axiata, disinyalir karena kemerosotan penguasaan pangsa pasar dari tahun lalu sebesar 20,6 persen menjadi 14 persen di tahun ini.

Salah satu pemicunya adalah hilangnya sekitar 17 juta pelanggan dalam setahun terakhir.

Sebaliknya, Indosat berhasil memanjat ke posisi kedua karena berhasil menambah 14 juta pelanggan dan menguasai pangsa pasar sebesar 21,6 persen, dari tahun lalu yang hanya 18 persen.

Telkomsel masih menduduki puncak teratas dengan menguasai 45 persen pangsa pasar seluler di Indonesia.

Menurut situs Mobileworldlive.com, posisi ketiga ditempati oleh Tri Indonesia dengan penguasaan pasar 14,4 persen, naik dari 11,5 persen di tahun lalu dan penambahan 10,6 juta pelanggan sejak kuartal kedua 2014.

Kinerja keuangan XL saat ini kurang baik baik. Emiten dengan kode saham EXCL tersebut memiliki utang jangka panjang sejumlah USD278 juta atau setara Rp3,7 triliun kepada Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd., dan USD200 juta atau setara Rp2,66 triliun kepada Bank UOB.

Dikutip dari laporan keuangan XL di semester I/2015, perusahaan ini juga mencatatkan rugi selisih kurs sebesar Rp1,39 triliun, jauh lebih tinggi dari semester I/2014 Rp250,73 miliar.

Rugi bersih perusahaan juga terpuruk hingga 91,2 persen menjadi Rp850,89 miliar, melonjak hampir dua kali lipat dari periode yang sama di tahun lalu, yakni Rp444,81 miliar.

Di sisi lain, kinerja Indosat di semester I 2015 berbanding terbalik dengan XL. Diwartakan CNN Indonesia, pendapatan perseroan naik 9,16 persen menjadi Rp10,22 triliun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu senilai Rp9,36 triliun.

Sedangkan rugi bersih menyusut 34,32 persen menjadi Rp734,59 miliar dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu senilai Rp1,11 triliun.

Menurut kajian MobileworldLive yang dikutip indotelko.com, kehilangan pelanggan yang besar dari XL dalam periode setahun ini salah satu yang terbesar dalam posisinya sebagai penantang di pasar.

Padahal, periode 2006-2007, XL berhasil meraup banyak pelanggan kala berani menggoyang pasar dengan memangkas tarif demi menyerang posisi Telkomsel dan Indosat.

XL masih berpeluang untuk bangkit dengan selesainya penataan frekuensi (refarming) 1.800 MHz untuk menggelar 4G dimana di segmen ini pangsa pasarnya sekitar 9,5 persen.

Direktur Jaringan XL Axiata Ongki Kurniawan mengatakan akan melakukan beberapa langkah pasca kelarnya refarming di 1.800 MHz. Pertama, XL akan merelokasi layanan 4G di Yogyakarta, Medan, dan Bogor di frekuensi 900 MHz ke 1.800 MHz. Nantinya, frekuensi 900 MHz akan dimatikan XL usai refarming selesai.

"Frekuensi 900 MHz akan dikembalikan seluruhnya untuk layanan 2G. Kami ingin 4G dengan lebar 15 MHz, jika memakai 10 MHz saja bisa tembus kecepatan, maka dengan 15 MHz kecepatannya dapat naik menjadi 100 Mbps," kata Ongki seperti yang ditulis Detik Finance.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR