Sisi lain Johannes Marliem si Bugatti Biru

Johannes Marliem dalam foto Instagram yang terarsip di blog Tumblr "Bleugatti" milknya, bertanggal 20 September 2016
Johannes Marliem dalam foto Instagram yang terarsip di blog Tumblr "Bleugatti" milknya, bertanggal 20 September 2016
© Instagram

Nama Johannes Marliem pertama kali muncul saat sidang pembacaan tuntutan untuk terdakwa kasus megakorupsi e-KTP, Irman dan Sugiharto, pada 19 Juli 2017. Saksi kunci yang kini diberitakan meninggal dunia, punya reputasi untuk sejumlah isu lain.

Dalam kasus e-KTP, Johannes "Jo" Marliem disebut sebagai penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek e-KTP. Dokumen dakwaan jaksa KPK menyebut namanya 22 kali, salah satunya sebagai pemberi uang.

Direktur Biomorf Lone LLC, perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik yang berkantor di Amerika Serikat, Indonesia, dan India, ini diduga terlibat dalam kecurangan pemenangan tender, dan mendapat untung US $14,9 juta dari persekongkolan itu.

Marliem yang tak pernah menghadiri persidangan, menolak semua tuduhan terhadapnya. Dalam lansiran Tempo.co ia bahkan menantang, dengan rekaman pertemuan selama empat tahun sebesar 500 Gb yang dimilikinya, bisa menjerat pihak-pihak yang terlibat.

Di Negeri Paman Sam, namanya terangkut media pada 2013 sebagai penyumbang untuk inagurasi kemenangan kedua Presiden Barack Obama. Nama Johannes Marliem tercatat memberi sumbangan sebesar US $225.000. Angka itu hanya selisih $25.000 lebih sedikit dibanding nilai sumbangan perusahaan multinasional, ExxonMobil.

Namun sumbangan itu berakhir sumbang, karena catatan kriminalnya mengemuka. Pengadilan Hennepin County, Minnesota, pada 2009 menyebutkan ia pernah didakwa atas penipuan cek kosong senilai US $10 ribu. Marliem menulis cek senilai US $10 ribu dari Bank TCF untuk disimpan di rekening bank Wells Fargo.

Asisten Jaksa Penuntut Umum mengatakan Marliem ingin menunjukkan seolah-olah dia memiliki sejumlah besar uang di kedua rekening tersebut. Marliem menyatakan diri bersalah pada 2010 dan membayar denda, guna menghindari deportasi.

Komite inaugurasi Partai Demokrat cuci tangan atas catatan itu. Mereka menyatakan, rekam jejak buruk itu tak muncul saat sumbangan diterima. Andai mereka tahu sebelumnya, sumbangan Johannes tak akan diterima. Kasus itu lalu dijanjikan akan ditindaklanjuti sesuai dengan kebijakan internal partai.

Terhadap polemik itu, Johannes seperti dilansir Star Tribune, menyatakan kasus yang menimpanya bukanlah kasus kriminal yang perlu dikhawatirkan. "Saya tak mencuri dari siapapun," tegasnya kala itu.

Beragam citra Johannes dari dunia maya

Pria 32 tahun yang juga CEO dan pendiri Marliem Marketing Group di Minneapolis itu, punya kehidupan lain sebagai "The Bleugatti". Julukan yang merujuk pada koleksi supercar Blue Carbon Bugatti Veyron GS Vitesse miliknya.

Julukan itu begitu populer di komunitas pecinta mobil super, yang ramai-ramai mengucapkan belasungkawa setelah kabar tewasnya Johannes terdengar. Menilik beragam komentar yang bertaut dengan tagar #bleugatti di Instagram, kesan baik dan rendah hati melekat pada dirinya.

Sebuah pengakuan dari akun Instagram @mrm5man, misalnya, mengenang Johannes di balik kemudi mobil tercepat di dunia seharga US $1,5 jutaan itu. Pada 2014, ia mengaku bertemu Jo--sapaan akrab Johannes--di Washington DC, Amerika Serikat.

"... tanpa membunyikan klakson, tanpa ada tanda-tanda gusar, si pengendara Bugatti biru itu tampak tenang dan memberi tanda kepada saya, apakah saya sudah 'selesai' menghalangi jalan. Ia rela menunggu, begitu pula mobil lain di belakangnya," demikian kira-kira penggalan komentar akun si penyaksi.

Lewat Instagram pula, sosok Jo tertaut dengan Richard Muljadi, pemilik akun @richardmuljadi. Anak muda cucu Kartini Muljadi--salah satu perempuan terkaya di Indonesia--dalam kiriman video pada Maret 2016, juga memuji kerendahan hati Jo.

Sosok Jo pada akun yang menggunakan nama JMarliem di Pinterest, beda lagi. Ia tampak sebagai pecinta hewan, khususnya orangutan. Serangkaian kiriman foto menampilkan aktivitasnya di kebun binatang Como Zoo and Marjorie McNeely Conservatory, di St. Paul, Minnesota, Amerika Serikat.

Jo tampak sedang mengunjungi Jaya, seekor orangutan koleksi Como Zoo yang sedang berulang tahun. Jaya beruntung menerima cek dari Jo senilai US $66,000, untuk program pelestarian orangutan melalui kebun binatang itu pada 2014.

"Ini spesies yang nyaris punah, dan kita seharusnya bisa berbuat sesuatu," kata Marliem kepada Star Tribune. Sumbangan itu diterima lembaga nonprofit Como Friends, yang aktif menggalang dana dan menjalankan program untuk kebun binatang Como.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.