BENCANA ALAM

Siswa korban gempa Halmahera Selatan akan sekolah di tenda

Para siswa korban gempa yang masih berada di lokasi tenda pengungsian di Desa Tomara, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Jumat (19/7/2019).
Para siswa korban gempa yang masih berada di lokasi tenda pengungsian di Desa Tomara, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Jumat (19/7/2019). | Hairil Abdul Rahim /Beritagar.id

Gempa yang melanda Halmahera Selatan, Maluku Utara, awal pekan ini membuat para siswa tak bisa bersekolah. Mereka turut hijrah ke tenda-tenda pengungsian bersama orangtuanya serta tidur dan makan seadanya.

Berdasarkan pengamatan Beritagar.id, sejak gempa bermagnitudo 7.2 pada Minggu (14/7/2019) hingga Jumat (19/7), mereka belum bersekolah dan belajar seperti para siswa di daerah lain di Indonesia. Padahal ini adalah tahun ajaran baru sekolah.

Para pelajar di Halmahera Selatan tak bisa bersekolah karena sebagian gedung dan ruangan belajar rusak, baik ambruk maupun retak, akibat gempa. Bupati Halmahera Selatan, Bahrain Kasuba, menyatakan segera memperbaiki fasilitas pendidikan.

"Namun masih dengan tenda, karena kita belum bisa bangun gedungnya," kata Bahrain usai meninjau lokasi pengungsian di Desa Tabapoma, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Jumat (19/7) siang.

Bahrain mengatakan proses belajar mengajar para siswa korban gempa ini akan dimulai sebelum pencabutan status tanggap darurat bencana di Halmahera. Sementara Nurlela Muhammad, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Selatan, menambahkan bahwa proses belajar mengajar akan dilaksanakan di tenda darurat.

"Ini akan dilakukan sampai bangunan baru mereka tersedia," kata istri Bupati Bahrain Kasuba itu,

Nurlela menjelaskan minggu ini ada penerimaan siswa baru sehingga proses belajar mengajar belum aktif. "Jadi kalau bisa minggu ini sudah ada tenda-tenda darurat yang dipasang oleh pemda untuk tempat sekolah sementara para siswa korban gempa di sini," kata Nurlela.

Ia mengimbau pihak sekolah dan guru-guru terdampak gempa mulai memanfaatkan gedung atau ruangan yang masih bisa dipakai. "Itu pun kalau sekolahnya tidak ambruk. Kalau memang gedung atau ruangannya masih bisa dipakai dan nyaman agar segera digunakan. Dan kalau memang gedung dan ruangannya retak dan rusak total itu kita gunakan dulu tenda," sambungnya.

56 sekolah rusak

Menurut Nurlela, dari data saat ini sebanyak 56 bangunan sekolah rusak (berat dan ringan). Seluruh sekolah ini tersebar di 11 kecamatan, wilayah Gane Pulau Halmahera dan Pulau Bacan.

Ia mengaku, sebagian besar guru dan siswa di wilayah terdampak gempa trauma dengan lindu magnitudo 7,2 tersebut. Sehingga mereka ragu melakukan proses belajar mengajar walau masih ada sekolah yang bisa digunakan.

"Apalagi kalau ruangan atau gedungnya itu sudah retak. (Meski) retaknya kecil saja tapi tetap saja mereka bilang masih trauma dan takut," kata Nurlela.

Selain itu, Nurlela menyatakan, saat ini pihak Dinas Pendidikan setempat membuka posko relawan guru untuk korban gempa Halmahera. Sejauh ini sudah 10 orang terdaftar, seluruhnya dari Pulau Bacan.

"Karena yang ada saat ini hanya ada beberapa tenaga di desa. Itu pun guru dari desanya. Sehingga kita akan libatkan relawan untuk membantu proses belajar siswa di tempat pengungsian," katanya.

Adapun mengenai penyembuhan trauma para siswa korban gempa akan ditangani langsung oleh pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun lembaga yang terlibat belum ada.

"Untuk lembaga yang terlibat atau akan berpartisipasi dalam pemulihan anak-anak korban gempa ini belum ada," sambung Nurlela yang berharap ada tenaga relawan untuk membantu melakukan trauma healing.

Korban meninggal bertambah

Hingga Jumat (19/7) malam, korban meninggal akibat gempa bumi bertambah sehingga total menjadi tujuh orang. Dua korban jiwa terbaru meninggal di lokasi pengungsian.

Dua orang meninggal terbaru adalah Idrus Amin (45) warga Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan dan Bainur Safar (63) warga Desa Tomara, Bacan Timur Tengah. Mereka meninggal karena sakit.

Idrus Assagaf, anggota DPRD Halmahera Selatan, mengatakan Idrus meninggal kaena kesakitan akibat tertimpa balok rumah usai gempa. "Balok rumah dan beton saat gempa magnitudo 7,2," katanya kepada kepada Beritagar.id saat mengunjungi Desa Gane Luar, Jumat (19/7) malam.

Sementara Bainur meninggal akibat stroke. Menantu almarhumah, Nurgaya Djalil, mengatakan gempa membuat perawatan stroke ibunya semakin sulit.

"Sebelum meninggal mama memang so sakit stroke. Namun saat gempa itu mama dibawa lari ke tenda dan dirawat di sana. Karena sakit yang diderita mama so berat sehingga mama pulang (meninggal)," katanya.

Nurgaya menceritakan, ibunya dibawa ke tenda pengungsian dengan menggunakan gerobak kayu. Selama di tenda pengungsian, ibunya dirawat menggunakan obat kampung berbahan daun dan batang pohon dari hutan.

"Namun setelah dua hari di tenda pengungsian baru ada penanganan medis dari petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan,” sambung Nurgaya.

Adapun sebelum Idrus dan Bainur, lima korban meninggal adalah; Aswar Mukmat (20) asal Desa Gane Dalam, Sagaf Girato (50) asal Desa Yomen, Aina Amin (50) asal Desa Gane Luar, Wiji Siang (60) asal Desa Gane Luar, dan Saima Mustafa (90) asal Desa Nyonyifi yang meninggal di tenda pengungsian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR