Situasi di Pangandaran berangsur membaik

Warga Desa Kalijati, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, bergotong royong membersihkan halaman rumah yang terkena bencana pergerakan tanah sejak Jumat (6/10/2017) pada Minggu (8/10).
Warga Desa Kalijati, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, bergotong royong membersihkan halaman rumah yang terkena bencana pergerakan tanah sejak Jumat (6/10/2017) pada Minggu (8/10). | Adeng Bustomi /Antara Foto

Situasi dan kondisi di Pangandaran, Jawa Barat, mulai membaik setelah sempat dibuat lumpuh total akibat bencana tanah longsor dan banjir pada Jumat (6/10/2017).

Dijelaskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana alam itu disebabkan hujan deras semalaman hingga sungai dan anak-anak sungai meluap. Hingga Sabtu pagi (7/10), misalnya, banjir merendam 120 rumah, bahkan ketinggian air mencapai dua meter --terutama di Komplek Perum Garden Estetika.

Hujan deras juga memicu longsor. Dua rumah di Dusun Sangkang Bawang, Desa Kalijati, Kecamatan Sidamulih, terkena longsor.

Malangnya ada dua KK (tujuh jiwa) yang menghuni dua rumah nahas tersebut. Alhasil empat orang meninggal dan tiga orang lainnya luka ringan akibat tertimbun longsor.

Seluruh korban sudah dievakuasi. Korban meninggal adalah Ny. Arsih (60), Ny. Yuyun (36), Aldi (6), dan Andika (8 bulan). Sementara korban luka ringan ialah Rasman (40), Ari (14), dan Anida (8 bulan).

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Pangandaran, dua rumah nahas itu memang berada di zona bahaya longsor lantaran berada di tebing.

Nana Ruhena, Kepala DPKPB Pangandaran, kepada Antaranews, menjelaskan bahwa tebing itulah yang longsor. Namun tidak kelihatan gejala akan longsor, semua terjadi tiba-tiba. Yang jelas, "Longsor juga menutup jalan desa," katanya.

Secara total ada dua titik longsor dan 15 titik banjir yang membuat akses transportasi menuju lokasi wisata Pantai Pangandaran terputus. Bahkan, seperti dikabarkan FokusJabar.com, banjir juga merendam SPBU Putrapinggan setinggi 40 cm.

Namun per Minggu (8/10), menurut Nana, situasinya mulai membaik. Dilansir Liputan6.com, banjir mulai surut dan seluruhnya aman serta terkendali.

Ini disampaikan Nana sebagai klarifikasi terhadap kabar bohong (hoax) yang menyebar begitu cepat di media sosial. Selain banjir yang mulai surut, petugas terkait juga bergotong royong dengan masyarakat membereskan material longsor yang menutupi jalan raya --bahkan tanpa bantuan alat berat.

BPBD Jawa Barat, TNI, Polri, organisasi penanggulangan bencana kini fokus pada rehabilitasi dan antisipasi andai ada banjir atau longsor susulan. "Masyarakat dibantu para petugas membersihkan sisa-sisa bekas longsoran dan luapan air yang meluap," ujar Joshua Banjarnahor, Juru Bicara Basarnas Jawa Barat.

DPKPB Pangandaran pun mengimbau masyarakat selalu waspada terhadap kemungkinan bencana alam. Ini masih musim peralihan dari kemarau karena musim hujan diperkirakan mulai pada November nanti.

Persoalannya, peralihan musim justru rentan pada bencana alam. Kepala BPBD Jawa Barat, Dicky Saromi, menjelaskan longsor adalah risiko paling umum.

"Musim kemarau telah menyebabkan tanah-tanah retak mudah terisi aliran permukaan saat hujan sehingga memicu longsor," ungkapnya kepada Republika.

Sementara itu Agus Budianto, Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah dari PVMBG Bandung, menyatakan ini bukan insiden longsor pertama di Pangandaran. PVMBG sudah memberi rekomendasi mitigasi terhadap Pemkab Pangandaran sejak lama.

Pangandaran yang terletak di dataran rendah memang rentan longsor karena berada persis di sebelah dataran tinggi. Jadi semestinya Pemkab Pangandaran segera memikirkan ulang tata ruang wilayahnya.

"Kami sudah mengeluarkan protap kemitigasiannya. Tapi akan percuma jika tata ruang wilayah Pangandaran tidak dibenahi dulu," kata Agus dalam Tribun Jabar.

"Mitigasi harus segera dilakukan. Misal, sungainya ditata, hulu sungainya diperbaiki, sepadan sungai harus steril dan lainnya," sambungnya.

BACA JUGA