KASUS NOVEL BASWEDAN

Sketsa penyerang Novel tak meredam desakan pembentukan TGPF

Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis (kanan) menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Jumat (24/11/2017)
Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis (kanan) menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Jumat (24/11/2017) | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Polri kembali mengeluarkan sketsa pelaku penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan. Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Idham Azis, akurasi sketsa wajah pelaku ini mencapai 90 persen.

"Kemiripan sudah 90 persen. Kami buat sketsa ini dari dua orang saksi yang ada saat kejadian berlangsung," ujarnya di gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/11/2017) seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Idham mengatakan, selain merujuk saksi lapangan, polisi juga mendasarkan sketsa dari olah CCTV. Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Pusat Indonesian Automatic Fingerprints Identification System (Inafis) Card Mabes Polri dan Australian Federal Police (AFP) membuat sketsa tersebut.

Dalam sketsa wajah yang pertama, digambarkan seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan tinggi 170 cm dan bentuk muka bulat. Lelaki itu berperawakan kekar, kulit sawo matang agak gelap dan memiliki dagu yang berat.

Sedangkan sketsa kedua, digambarkan seorang laki-laki, berusia sekitar 35 tahun dengan tinggi 173 cm, muka oval dan memiliki rambut panjang lurus sampai leher. Dalam sketsa juga diterangkan, lelaki itu memiliki postur ramping atletis dan kulit sawo matang.

Polisi juga membuka layanan telepon 24 jam di dengan nomor 0813-9884-4474 bagi pemilik informasi yang mengarah pada pelaku. Idham mengklaim, kini Polda Metro Jaya telah menurunkan 167 personel yang fokus menyelesaikan perkara ini.

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai, jika polisi tak mampu menguak kasus itu, sebaiknya Presiden segera membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF). Sebab, sudah 228 hari alias 7 bulan lebih, kasus ini masih gelap.

Peneliti hukum ICW Lalola Ester mengatakan polisi seolah tidak memiliki niat baik untuk menuntaskan kasus tersebut.

"Rasanya bukan karena nggak mampu, tapi karena nggak mau," kata Lalola saat dihubungi detikcom, Jumat (24/11/2017).

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia juga mendesak Presiden segera membentuk TGPF. "Kami tidak yakin (kasus) ini akan diungkap oleh kepolisian," kata Ketua Bidang Advokasi YLBHI Muhammad Isnur, Jumat (24/11/2017).

Sebab, kasus penyerangan serupa yang menimpa peneliti ICW Tama S Langkung tujuh tahun lebih juga tak dituntaskan polisi. Tama, diserang orang tak dikenal pada 8 Juli 2010.

Namun menurut Ketua KPK Agus Rahardjo, usaha tersebut menunjukkan polisi serius mengusut kasus Novel. Karenanya, dia pun menilai pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang kerap diusulkan berbagai elemen masyarakat tak diperlukan.

"Mungkin belum waktunya kalau kami melihat. Sudah ada beberapa titik terang walaupun masih memerlukan kerja keras," kata Agus seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Novel Baswedan, Jumat (3/11/2017) lalu kepada Beritagar menyatakan, dia inginnya percaya pada polisi. "Tetapi fakta-fakta yang saya dapat membuat logika mengatakan (penuntasan kasus) ini enggak akan serius," ujarnya. "Kalau memang takut dan enggak berani, bilang saja. Enggak perlu alasan dengan cara bohong."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR