Sketsa wajah penyiram Novel merujuk terduga lama

Jurnalis yang tergabung dalam Jurnalis Anti Korupsi melakukan teatrikal penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan saat melakukan aksi damai di halaman gedung KPK, Jakarta, Selasa (20/9/2017).
Jurnalis yang tergabung dalam Jurnalis Anti Korupsi melakukan teatrikal penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan saat melakukan aksi damai di halaman gedung KPK, Jakarta, Selasa (20/9/2017). | Hafidz Mubarak A /ANTARAFOTO

Kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, menunjukkan perkembangan baru.

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali membuat tiga sketsa wajah terduga penyerang penyidik lembaga antirasuah tersebut.

Kali ini, sketsa dibuat berdasarkan keterangan saksi yang mengaku melihat terduga pelaku sebelum menyiram air keras ke wajah Novel di Masjid Al-Ihsan, Kelapa Gading, 11 April 2017.

Salah satu saksi yang dimintai keterangan adalah Eko Julianto, tetangga Novel yang keluar lebih dulu dari masjid usai melakukan salat Subuh.

Yang menarik, keterangan Eko tersebut kembali merujuk pada terduga lama yang sebelumnya pernah diperiksa polisi terkait kasus sama, yakni AL. Eko meyakini melihat sosok AL berada di dekat rumah Novel sebelum kejadian penyiraman terjadi.

"Diduga seperti itu," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, dalam lansiran Liputan6.com.

Sosok AL ini sempat menjadi terduga lantaran Novel sendiri yang memberikan foto tersebut kepada pihak kepolisian. Namun usai pemeriksaan, AL yang diketahui bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu tempat spa di Jakarta ini memiliki alibi yang menjauhkannya dari tudingan.

Polisi pun melepaskan AL.

Belum jelas apakah polisi akan kembali memanggil AL atau tidak. Setidaknya, polisi sudah menunjukkan sketsa foto tiga terduga pelaku tersebut kepada KPK.

"Sketsa wajah sudah diperlihatkan saat pertemuan KPK dan Polri beberapa waktu lalu," ujar juru bicara KPK, Febri Diansyah, di Gedung KPK, Jakarta, seperti yang diwartakan ANTARA, Senin (3/7/2017).

Febri pun menyebut sketsa yang dibuat oleh tim Polri ini sebagai perkembangan yang cukup signifikan, setelah kasus ini menggantung cukup lama.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memang pernah menawarkan KPK untuk menempel dalam tim untuk mengusut pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK ini. Tujuan pembentukan tim ini adalah agar informasi Polri dan KPK dapat lebih terbuka.

Sebelumnya kepada TIME, Novel menduga ada keterlibatan seorang jenderal polisi dalam kasusnya. Sebab, kasus yang menimpanya ini tak kunjung juga selesai.

Novel juga mengatakan bahwa serangan itu terkait sejumlah kasus korupsi yang ditanganinya. Dalam perhitungan Novel, serangan air keras itu merupakan kali keenam dia mendapat serangan terkait pekerjaannya sebagai penyidik KPK.

Kondisi terakhir Novel

Mata kiri Novel terancam buta karena sel punca yang dicangkok dalam matanya tak dapat berkembang. Kerusakan pada mata kirinya kelewat parah. Sementara, mata kanan Novel masih berjibaku dengan penyembuhan.

Operasi besar cangkok mata menjadi jalan satu-satunya untuk menyelamatkan kedua matanya. "Kondisi jaringan di bagian putih mata kiri diperkirakan sulit untuk tumbuh kembali," cerita Febri dalam ANTARA.

Rencana operasi besar akan dilakukan setelah dokter yang merawat Novel di Singapura melakukan serangkaian tes penglihatan dan observasi pertumbuhan lapisan kornea mata yang dimulai sejak akhir Juni kemarin.

Menurut Febri, dari salah satu hasil tes tersebut, mata kanan Novel masih dapat membaca deret angka sampai lapis ke-4 pada baris pertama dalam Snellen chart. Sementara untuk mata kiri, kemampuannya hanya baru sebatas melihat jari.

BACA JUGA