PELESTARIAN LINGKUNGAN

Slank akan jadi duta kelor di NTT

Grup musik Slank berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Kamis (26/6/2018).
Grup musik Slank berpose untuk Beritagar.id di Jakarta, Kamis (26/6/2018). | Wisnu Prasetyo /Beritagar.ID

Grup Slank menorehkan kisah terbaru di luar prestasinya dalam bermusik. Kali ini Slank turut berpartisipasi dalam pelestarian tanaman kelor.

Langkah tersebut terwujud ketika Slank menyanggupi tawaran untuk jadi duta tanaman kelor di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini dijelaskan oleh Asisten 1 Setda Pemprov NTT, Mikhael Fernandes.

"Perlu kami informasikan bahwa kami sudah bertemu dengan para personel Slank di markas mereka di Gang Potlot Jakarta dan meminta mereka menjadi duta kelor untuk NTT," ucap Fernandes seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Kelompok musik yang terdiri dari Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim), Akhadi Wira Satriaji (Kaka), Irfan Kurniawan Arifin (Ivan), Abdee Negara (Abdee), dan Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho) tersebut dipilih karena memiliki basis besar penggemar muda.

Kehadiran Slank pun diharapkan menjadi langkah yang efektif dan efisien untuk membangun kesadaran kaum muda dalam melestarikan tanaman kelor di NTT. Penobatannya akan dilakukan bersamaan dengan acara peringatan ulang tahun ke-60 Provinsi NTT Kamis depan (20/12).

Grup yang terbentuk pada 1983 itu rencananya akan tiba di Kupang sehari lebih awal (19/12). Kabar ini pun langsung beredar luas. Para Slankers, sebutan bagi para penggemarnya, yang berada di sejumlah kabupaten di NTT mulai menghampiri Kupang.

Gerakan Revolusi Hijau

Kehadiran Slank sebagai duta tak lain adalah untuk mendukung program Revolusi Hijau yang dirintis pemerintahan gubernur terpilih periode 2019-2023, Viktor Bungtilu Laiskodat, dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi.

Salah satu upayanya adalah dengan melakukan budi daya tanaman kelor (Moringa oleifera) khas NTT yang digadang-gadang salah satu tumbuhan berkualitas terbaik di dunia. Tanaman berdaun majemuk ini tengah diupayakan untuk menjadi sumber pendapatan atau devisa baru NTT.

Dinas Pertanian Provinsi pun berkomitmen menjadikan kelor sebagai komoditi unggulan lokal dalam mengatasi masalah gizi (malnutrisi) dan kerdil (stunting).

"Kalau di Eropa, di Jepang, dikenal dengan revolusi putih minum susu putih, NTT ingin memperkenalkan kepada dunia revolusi hijau lewat marungga (kelor)," ucap Viktor dikutip Bisnis.com, Senin (10/9).

Apalagi tanaman kelor juga memiliki segudang manfaat, termasuk untuk mengatasi masalah gizi dan stunting. Daun kelor kaya protein, zat besi, kalsium, dan sembilan asam amino penting.

Belum lagi kandungan vitaminnya seperti A, B, dan C. Bagian batang yang berfungsi sebagai polong biji mengandung protein tinggi dan asam lemak omega 3.

Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Ina Rosalina Dadan, mengatakan mengonsumsi daun kelor secara rutin dapat membantu meningkatkan nafsu makan.

Jed Fahey, ahli biokimia di John Hopkins Bloomberg School of Public Health yang bekerja sama dengan Olson, dalam riset kelor juga menemukan bahwa daun dan biji kelor memiliki fungsi antiinflamasi dan antidiabetik. Bahkan mereka juga menemukan enzim yang mampu membantu melindungi tubuh dari kanker.

Biji kelor yang cukup matang biasanya akan diolah menjadi minyak. Ini bisa digunakan sebagai suplemen makanan atau bahan dasar kosmetik, serta produk perawatan rambut dan kulit.

NTT termasuk terlambat dalam mencari devisa lewat daun kelor yang mudah tumbuh di Indonesia. Agustus tahun lalu, pemerintah Kabupaten Moutong Parigi, Sulawesi Tengah, memamerka produk olahan dari daun kelor dalam dalam Festival Indonesia kedua di Moskow, Rusia.

Seperti dilaporkan detikcom, produk olahan itu digemari warga Moskow. Sampel yang dihadirkan hanya sebagai contoh dan tidak dijual pun ludes disambar masyarakat lokal.

Sementara dari Bangka, Provinsi Bangka Belitung, daun kelor dijadikan teh. Bahkan teh tersebut sudah siap ekspor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR