INDUSTRI PENERBANGAN

Soal pesanan B 737 Max 8, Garuda batal dan Lion Air menunda

Boeing 737 MAX 8 tak lama setelah lepas landas di langit Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali/Indonesia (22/2/2019).
Boeing 737 MAX 8 tak lama setelah lepas landas di langit Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali/Indonesia (22/2/2019). | Paulus Iskandar /Shutterstock

Jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 yang digunakan oleh Ethiopian Airlines pada 10 Maret 2019 dan Lion Air pada 29 Oktober 2018, membuat Garuda Indonesia dan Lion Air mengambil tindakan tegas terhadap sejumlah unit pesawat pesanannya.

Garuda Indonesia memutuskan untuk membatalkan pemesanan pesawat jenis Boeing 737 Max 8. Maskapai nasional yang telah didirikan sejak 1949 itu telah membayar uang muka sebesar $26 juta AS untuk membeli 50 unit Max 8, yang total bernilai $4,9 miliar.

Satu unit pesawat sudah beroperasi dan 49 lainnya masih dalam proses penyelesaian.

"Kami sudah kirim surat ke McAllister (CEO Boeing Kevin G. McAllister) kalau kami nyatakan untuk membatalkan 49 unit (sisa pesawat) Boeing 737 Max 8 yang dipesan Garuda Indonesia," jelas Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara kepada Republika.co.id, di Plaza Indonesia, Kamis (21/3/2019).

Keputusan Garuda Indonesia bukan karena menemukan kecacatan atau meragukan desain Boeing. Pasalnya, Garuda Indonesia sudah lama menggunakan pesawat asal Amerika Serikat (AS) itu.

Namun setelah insiden pada Ethiopian Airlines dan Lion Air, penumpang mulai kehilangan kepercayaannya dan tak mau lagi menaiki pesawat jenis yang sama. Inilah yang mendasari keputusan Garuda Indonesia.

Sementara Lion Air belum membatalkan pesanan pesawatnya. Menurut Managing Director Lion Group, Daniel Putut Kuncoro Adi, pihaknya hingga saat ini baru menunda pemesanan unit pesawat Max 8 --belum membatalkan.

Diakui Daniel, penundaan ini sebenarnya mulai digulirkan tak lama setelah jatuhnya Lion Air JT-610 di Perairan Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018. Adapun rencana penundaan dimulai dengan menahan kedatangan empat unit pesawat yang rencananya akan mendarat di Jakarta dalam waktu dekat.

"Kami sudah pesan 200. Sejak kejadian JT 610 itu kami sudah diskusi sama Boeing untuk sementara menunda dulu lah pesanannya. Bulan Maret-April ini harusnya ada yang datang tapi kami enggak mau (terima)," ucap Daniel, seperti dikutip Tirto, Selasa (12/3).

Total ada sebanyak 222 unit pesawat yang didatangkan dari AS ke Indonesia. Semula pesawat tersebut akan dikirim secara bertahap, mulai dari 2019 hingga 2035. Nilainya pun ditaksir mencapai $22 miliar AS atau sekitar Rp300 triliun.

Saat ini Lion Air memiliki 10 pesawat Max 8. Sebagian di antaranya dioperasikan untuk penerbangan mancanegara seperti ke Arab Saudi dan Tiongkok.

Namun semua unit Max 8 milik Lion Air dan Garuda Indonesia telah dikandangkan menyusul keputusan pemerintah untuk menghentikan sementara (temporary grounded) operasional pesawat tersebut pada 12 Maret 2019. Keputusan serupa juga dikeluarkan pemerintah negara Tiongkok, Australia, Korea Selatan, Singapura, dan bahkan AS.

Adapun berbagai rute penerbangan milik Lion Air yang sempat menggunakan Max 8 kini diganti dengan pesawat jenis lain yang dimiliki. Lion Air saat ini mengoperasikan berbagai tipe pesawat, terdiri dari 70 Boeing 737-900ER, 38 Boeing 737-800NG, dan tiga Airbus A330-300.

Karena adanya konfirmasi soal penundaan tersebut, sempat beredar kabar bahwa Lion Air akan mengganti pemesanan Boeing dengan pesawat Airbus. Namun, Daniel langsung membantah kabar ini.

"Kami belum switch 222 pesawat yang dipesan (dari Boeing) ke Airbus. Kan masih menunggu final report (jatuhnya Lion Air tahun 2018). Kan kemarin KNKT bilang butuh waktu satu tahun untuk membuat final report," kata Daniel yang ditemui di kantor Kementerian Perhubungan oleh IDN Times, Rabu (13/3).

Ketika ditanya mengenai kemungkinan ditemukannya masalah atau cacat dalam desain Max 8 dan apakah hal itu akan memengaruhi keputusan pemesanan Lion Air, Daniel tak banyak berkomentar.

Catatan redaksi: Pada paragraf kedua sebelumnya tertulis Garuda merogoh kocek $26 juta AS untuk membeli 50 pesawat Boeing 737 Max 8, seharusnya besaran tersebut adalah uang muka. Kesalahan telah diperbaiki.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR