Srikandi-srikandi di balik kemudi

Sopir perempuan mengemudikan bus tingkat wisata atau Bus City Tour Jakarta di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin, 24 Februari 2014.
Sopir perempuan mengemudikan bus tingkat wisata atau Bus City Tour Jakarta di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin, 24 Februari 2014. | Dian Triyuli Handoko /TEMPO

Siapa bilang wanita tidak bisa menyetir dengan baik?

Meski gurauan tentang ibu-ibu yang mengemudikan motor atau mobil tidak hati-hati sering terdengar--perkara belok kanan dan kiri yang tiba-tiba tanpa petunjuk--, namun wanita-wanita ini bisa membuktikan mereka mampu setara dengan pria dalam hal menyetir.

Wanita-wanita ini membuktikan bahwa mereka mampu bergulat dengan kejamnya jalanan ibu kota dan liarnya arus kemudi bus-bus lintas provinsi bahkan pulau. Berikut kisah wanita-wanita juru kemudi yang kami pilihkan untuk Anda.

Pengemudi ojek aplikasi

Mpok Jo sempat mendulang sukses. Bekerja di perusahaan asing selama sepuluh tahun hingga akhirnya berhasil membangun usahanya sendiri. Demi fokus ke usahanya, Mpok Jo memutuskan berhenti dari perusahaannya.

Malang tak dapat dihindari, untung tak dapat diraih. Dewi fortuna berbalik arah meninggalkan wanita berusia 38 tahun itu. Mpok Jo ditipu anak buahnya. Usaha serta harta bendanya habis dan bangkrut. Jalan yang ia tempuh setelah tidak memiliki pekerjaan adalah menjadi pengojek pangkalan.

"Saya sempat ngerasain punya rumah, mobil. Tapi namanya orang kena musibah ya, jadi ibaratnya balik lagi ke nol gitu," kata perempuan dengan nama asli Herni Johan, seperti yang dilansir dalam TabloidNova.com.

Meski malu dan gengsi, Mpok Jo tak punya pilihan. Apa daya kebutuhan hidup mendesak untuk dipenuhi saat itu. Lima bulan bekerja sebagai ojek pangkalan dijalaninya hingga suatu hari ia menerima tawaran untuk menjadi ojek berbasis aplikasi.

"Ada sales Grab Bike. Ya biasalah, sales kan nawarin gitu. Tapi saya enggak langsung ambil, ada pikir-pikirnya dulu," ujarnya.

Dengan segala pertimbangan, akhirnya ia menerima tawaran itu. Perlahan hidupnya mulai beruntung kembali. Biasanya saat menjadi ojek pangkalan, dalam sehari ia bisa membawa pulang Rp200.000, kini yang bisa ia bawa pulang adalah dua kali lipatnya, tak jarang lebih.

"Sampai orang tua bingung. Kalau dulu kirim segini, sekarang jadi lebih banyak. Saya ditanya, 'kok tumben setorannya nambah banyak?'" katanya menirukan sang orang tua.

Mpok Jo adalah pengemudi wanita GrabBike pertama. Kini ia dipercaya oleh manajemen GrabBike sebagai coordinator lapangan pengojek GrabBike lainnya.

Namun Mpok Jo bukanlah wanita pertama yang harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan di jalanan sebagai juru kemudi angkutan umum.

Ada juga Wiwin Susilawati. Sosoknya sempat menjadi ramai di media sosial karena Wiwin kerap membawa anaknya yang masih berusia satu setengah tahun setiap ia melakukan pekerjaannya sebagai pengemudi Go-Jek.

Perempuan berjilbab itu mengaku ditinggal tanpa penjelasan oleh suaminya, setelah tiga tahun hidup bersama--telah nikah siri. Suami Wiwin adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Belakangan, setelah ditinggal suaminya, Wiwin kesulitan membayar uang kontrakan. Hingga harus terusir. Di titik inilah dirinya memutuskan menjadi pengemudi Go-Jek, termasuk menyicil motor matik baru sebagai alat kerja.

Pengemudi taksi

Asmiah Puspa Sari dan Nana Tan Wijaya sadar pekerjaan mereka sebagai sopir taksi memiliki risiko tinggi. Tak sedikit pula yang menganggap profesi yang mereka jalankan adalah milik laki-laki. Tapi keduanya ingin membuktikan bahwa seorang wanita pun bisa melakukan profesi ini.

Malah menurut mereka, pengemudi taksi wanita akan lebih berhati-hati, penyabar, tidak ugal-ugalan, karena menganggap bahwa bukan hanya harus bertanggungjawab terhadap kendaraan yang dikemudikan namun juga terhadap nyawa diri sendiri dan juga nyawa penumpang.

Asmiah (35) adalah salah satu sopir wanita taksi Blue Bird, sementara Nana adalah sopir wanita taksi Express.

Seperti sopir Blue Bird lainnya, Asmiah juga bekerja dengan sistem jadwal (shift). Bahkan ia pun tak bisa menghindari shift malam. "Suka sedih kalau pulang larut malam, anak-anak sudah tidur," ujarnya.

Selama bekerja, Asmiah sengaja tak menonjolkan sisi kewanitaannya. Ia tak pernah dandan mencolok. Ia pun memangkas pendek rambutnya. "Gaya saya tomboi biar pria sungkan dan takut," katanya.

Sementara Nana adalah sarjana ekonomi dari Universitas Padjajaran, Bandung. Ia harus meninggalkan profesinya sebagai Manajer Marketing sebuah perusahaan otomotif selama hampir 15 tahun karena permintaan sang suami untuk fokus mengurus rumah tangga.

Tapi menjadi ibu rumah tangga membuatnya jenuh. Pasalnya dia merasa memiliki kemampuan di bidang otomotif yang sangat mumpuni. Nana pun menerima saran dari temannya untuk menjadi sopir taksi.

"Waktu itu saya hanya berniat untuk coba-coba saja, karena di sini tidak ada ikatan kontrak apa-apa," katanya saat berbincang dengan Liputan6.com, di pangkalan taksi Express di kawasan Mustikajaya, Bekasi Timur.

Setelah berpikir selama empat bulan, akhirnya dia memutuskan untuk memulai karirnya sebagai sopir taksi pada Oktober 2012, namun ketika itu hanya sebagai sopir pengganti atau biasa disebut dengan 'Charlie'. Dan beberapa bulan kemudian dia mulai menjadi seorang 'Bravo' atau pengemudi utama hingga saat ini.

Pengemudi bus AKAP

Rini Suyanti (53) sudah menghabiskan 22 tahun hidupnya di jalanan. Sebelum bergabung menjadi sopir bus Gajah Mungkur jurusan Wonogiri-Jakarta. Dalam satu minggu dia bisa melakukan perjalanan pulang pergi sebanyak tiga kali, dengan waktu yang beragam, bisa pagi, bisa malam.

Dia adalah satu-satunya pengemudi wanita dari puluhan sopir bus malam di tempatnya bekerja.

Sebelumnya dia bergabung dengan PO Timbul Jaya. Tak sedikit yang meremehkan kemampuannya. "Dulu pimpinan bilang, apakah saya bisa menyetir bus besar. Saya jawab kekhawatiran mereka. Saya dinyatakan lolos dan akhirnya dipasrahi satu armada bus," ujarnya, bangga.

Di PO Timbul Jaya, dia bahkan mendapat kepercayaan mengemudikan bus untuk trayek antarpulau. Dari Wonogiri, dia mengantar penumpang hingga Pekanbaru, Dumai, Bengkulu, Rengat, dan Jambi. "Dulu tantangannya jauh lebih berat. Saya bisa lima hari sampai seminggu di jalan," ujarnya.

Sadar profesinya berisiko tinggi, dia tak pernah memaksakan kondisi. Jika mengantuk, dia segera meminta sopir cadangan memegang kendali. Dia mengharamkan doping. "Yang penting, kalau berangkat perut kenyang dan untuk mengusir jenuh, saya bawa camilan marning (jagung)." katanya.

Keteguhannya berbuah. Pada 2010, dia mendapat penghargaan sebagai sopir teladan dari perusahaannya.

Bukan hanya itu saja, pada 2015, Suyanti berhasil menyabet gelar sopir teladan lewat seleksi Awak Kendaraan Umum Teladan (AKUT) di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Wonogiri.

Meski tidak bisa lolos meraih sopir teladan se-Jawa Tengah, Suyanti tetap bangga ikut masuk dalam bursa pemilihan bersaing dengan sopir-sopir pria lainnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR