FENOMENA ALAM

Status Gunung Agung turun dari Awas ke Siaga

Pemandangan Gunung Agung dari Pos Pengamatan di Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (10/2/2018) pagi WITA.
Pemandangan Gunung Agung dari Pos Pengamatan di Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (10/2/2018) pagi WITA. | Bram Setiawan /Beritagar.id

Gunung Agung kini makin tenang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun menurunkan statusnya dari dari Awas menjadi Siaga pada Sabtu (10/2/2018), pukul 09.00 WITA.

Ini penurunan status yang cukup signifikan karena pada Januari lalu, PVMBG lebih dulu memutuskan radius aman adalah enam kilometer dari Gunung Agung. Sebelumnya daerah aman dari gunung yang terletak di Karangasem, Bali, ini adalah 8-10 kilometer.

"Setelah pengumuman ini kami akan laporkan ke Presiden (Joko Widodo)," kata Menteri ESDM Ignasius Jonan saat jumpa media di Pos Pengamatan Gunung Agung, Karangasem, Sabtu. Adapun status Awas sempat berlaku selama 43 hari setelah mengalami fase erupsi serius beberapa kali pada November-Desember 2017 hingga menutup operasi Bandara Ngurah Rai di Denpasar, Bali.

Ini adalah kali kedua Gunung Agung mengalami penurunan status dari Awas ke Siaga. Menurut Kepala PVMB Kasbani, frekuensi erupsi Gunung Agung semakin menurun.

PVMBG mencatat erupsi terakhir Gunung Agung pada 24 Januari. Adapun ketinggian maksimal kolom abu dalam kurun waktu satu bulan adalah setinggi 2.500 meter (19/1).

Namun demikian, volume kubah lava di permukaan kawah tidak mengalami perubahan. "Volume sekitar 20 juta meter kubik masih sepertiga dari kawah," ujar Kasbani.

Berdasarkan analisis PVMBG melalui pemantauan multiparameter, aktivitas Gunung Agung saat ini belum stabil dan masih berpotensi erupsi meski skala eksplosivitasnya rendah. Adapun jumlah kegempaan dalam kurun waktu satu bulan mengalami penurunan walau kekuatannya meningkat.

Itu berarti ada pergerakan magma dengan intensitas rendah. Pengukuran GPS menunjukkan pola relatif stagnan, sementara itu pengukuran tiltmeter menunjukkan pola inflasi penggembungan dengan laju rendah.

Hal tersebut mengindikasikan akumulasi tekanan masih terjadi, tapi belum signifikan. Pengukuran gas menunjukkan bahwa aktivitas magmatik masih berlangsung. Rasio gas vulkanik SO2 yang merefleksikan intensitas aktivitas magmatik relatif menurun bila dibandingkan dengan periode November 2017.

Adapun citra satelit termal menunjukkan adanya penurunan temperatur di permukaan kubah lava yang mengindikasikan laju aliran magma berkurang. Jadi secara keseluruhan, lanjut Kasbani, masih ada potensi bahaya masih ada walau status menurun.

Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) memberi keterangan pers soal Gunung Agung di pos pengamatan di kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (10/2/2018).
Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) memberi keterangan pers soal Gunung Agung di pos pengamatan di kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (10/2/2018). | Bram Setiawan /Beritagar.id

"Potensi bahaya sekitar puncak berupa lontaran dan erupsi abu di radius 4 kilometer," katanya. Selain itu ada pula potensi lahar hujan.

"Potensi lahar hujan yang mengikuti lembah-lembah yang berhulu dari gunung itu," imbuhnya.

PVMBG menyebut lahar hujan merupakan ancaman bahaya sekunder. Hal tersebut bisa terjadi saat hujan lebat.

Sedangkan bahaya primer berupa lontaran material pijar, kerikil, pasir, dan abu di sekitar kawah. Potensi bahaya abu menyesuaikan arah dan kecepatan angin.

Dengan penurunan status dan radius aman, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun langsung menyiapkan pemulangan pengungsi ke kampung masing-masing.

"Dua pekan tahap persiapan permukiman. Perlu proses sebelum (pengungsi) kembali ke rumah tentu persiapan membersihkan dan memperbaiki rumahnya yang rusak," kata Ketua BNPB Willem Rampangilei.

Para pengungsi yang diperbolehkan pulang adalah warga yang tempat tinggalnya berada di luar zona bahaya empat kilometer. Selain itu pemulangan juga memperhatikan pemetaan jalur lahar yang berpotensi terjadi saat terjadi hujan lebat. "Saya harapkan dalam satu bulan pengungsi sudah bisa bergerak kembali (pulang)," tutur Willem.

Sampai Sabtu ini, jumlah total pengungsi mencapai 19 ribu jiwa. Wakil Bupati Karangasem I Wayan Arta Dipa pun mengatakan sedang berkoordinasi untuk memfasilitasi rencana kepulangan pengungsi.

"Menyiapkan sarana dan prasarana terutama masalah jalan-jalan yang putus. Pemulihan kami bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan pusat," katanya.

Menurut Dipa,pemerintah kabupaten Karangasem telah menerima laporan tujuh titik jalan yang putus. Namun Dipa belum bisa menjelaskan nilai kerusakan jalan tersebut karena masih disurvei.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR