STATUS GUNUNG AGUNG

Status tetap Awas meski aktivitas kegempaan berkurang

Warga turut memantau Gunung Agung yang bertepatan satu bulan berstatus awas di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Desa Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (21/10/2017).
Warga turut memantau Gunung Agung yang bertepatan satu bulan berstatus awas di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Desa Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (21/10/2017). | Nyoman Budhiana /ANTARAFOTO

Minggu (22/10/2017), Gunung Agung genap satu bulan menyandang status Awas.

Sepanjang periode waktu itu juga, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat gunung yang terletak di Karangasem, Bali, itu telah diguncang 25 ribu kali gempa, atau reratanya 700-800 gempa setiap harinya.

Jumlah itu tergolong besar dibandingkan dengan perilaku semua gunung api di Indonesia. Gempa meliputi jenis vulkanik dalam, vulkanik dangkal, gempa terasa, gempa tektonik jauh, gempa tektonik lokal, maupun gempa tremor non-harmonic.

Namun, Gunung Agung memang spesial. Kepala PVMBG, Kasbani membandingkan, gunung api lain seperti Merapi, Kelud, dan Sinabung, sudah mengalami erupsi meski jumlah gempa yang mengguncang jauh di bawah jumlah yang dialami Gunung Agung.

Kendati demikian, kepada VIVA Kasbani mengatakan, dalam dua hari terakhir tingkat kegempaan Gunung Agung terpantau turun.

Jumat (20/10/2017), gunung setinggi 3.142 mdpl itu diguncang 379 gempa, sementara Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 18.00 WITA, Gunung Agung hanya diguncang 153 gempa.

Meski begitu, Kasbani menegaskan status Awas yang disematkan pada gunung yang diyakini sebagai tempat bernaungnya dewa-dewi oleh masyarakat Hindu Bali ini belum bisa diturunkan.

"Banyak juga yang bertanya kapan meletusnya. Padahal, tak ada satu pun di dunia yang mampu memprediksi kapan gunung api akan meletus," sambung Kasbani yang berada di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Sabtu (21/10/2017).

Dijelaskan Kasbani, kondisi aktivitas Gunung Agung masih tergolong tinggi, meski kuantitas gempa menurun. Alhasil, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menurunkan statusnya.

Salah satu indikator penetapan status Waspada, Siaga, dan Awas pada gunung api adalah adanya embusan asap yang mengandung uap air dan gas di atas kawah yang semakin signifikan. Selain itu, ada pula semburan air dan manifestasi termal yang semakin meningkat yang terpantau dalam analisis data melalui satelit.

"Ada juga rekahan yang semakin berkembang. Juga lubang-lubang yang semakin banyak, lalu tanah di kawah terbakar," sambung Kasbani.

Pada kejadian Gunung Agung, gempa tektonik lokal sebenarnya sudah terekam sebelum September 2017. Gempa tektonik lokal itu makin berkembang, mendekat, dan akhirnya berpusat di perut Gunung Agung. Gempa itu pada akhirnya memengaruhi gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal.

Menyasar analisis dan data instrumen yang dimiliki PVMBG itu, kondisi Gunung Agung saat ini masih disimpulkan konsisten menunjukkan aktivitas yang sama saat status Awas diberikan.

Selain status yang masih tetap, warga yang terdampak dari zona bahaya Gunung Agung juga masih mengungsi di beberapa titik pengungsian.

Pertemuan IMF-Bank Dunia terus jalan

Kondisi Gunung Agung yang fluktuatif ternyata tak membatalkan niat untuk menjadikan Bali sebagai tuan rumah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, Oktober 2018.

Kepala Kepolisian Daerah Bali, Irjen Pol Petrus Reinhard Golose, dalam Republika mengatakan, keputusan bulat itu diambil berdasarkan hasil pertemuan delegasi Indonesia bersama delegasi terkait, termasuk Direktur Pelaksana IMF di Washington, Amerika Serikat, 12 Oktober 2017.

"Ada 21 negara menunggu jika kita tak bisa menjadi penyelenggara. Kita bersyukur Bali masih dipercaya," ucap Golose, Kamis (19/10/2017).

Hal senada juga diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. "Rata-rata sejak status Awas, dalam dua minggu sudah erupsi. Namun, ini agak panjang," sebut Luhut.

Satu bulan yang lalu, Luhut bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, sempat memilih Jakarta sebagai opsi lain jika kondisi Bali tak memungkinkan.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp817 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 untuk perhelatan yang akan estimasinya akan dihadiri 15.000 orang dari 73 negara dan organisasi internasional terkait.

Luhut menjelaskan, dari dana yang dibutuhkan, sekitar Rp300 miliarnya akan digunakan untuk membeli fasilitas komputer dan kursi. Usai acara, berbagai fasilitas itu akan disalurkan kepada sekolah-sekolah di Indonesia yang membutuhkan.

Tapi Luhut menghitung, perhelatan itu juga bisa mendatangkan devisa tambahan bagi negara. Jika saja satu orang menghabiskan sekitar US $400 per hari, maka jumlah itu dikalikan tujuh hari dan estimasi 15.000 pengunjung yang datang, maka total pendapatan bisa mencapai US $115 juta atau setara Rp1,55 triliun.

"Returnya cukup besar," sebut Luhut dalam detikcom. Jumlah itu, sambung Luhut, juga belum masuk dengan potensi destinasi wisata yang ada di sekitar Bali.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, meyakini potensi erupsi Gunung Agung tak akan berdampak pada sektor pariwisata di pulau tersebut.

Dia menilai dampak maksimum letusan Gunung Agung di luar debu hanya radius 12 kilometer. Bahkan, 64 dari 78 desa di kabupaten Karangasem tidak terdampak langsung letusan gunung berapi yang terakhir erupsi tahun 1963 tersebut.

"(Kabupaten) Karangasem masih dalam zona aman, jadi jangan dipikir dahsyat betul sehingga pariwisata terancam," kata Pastika usai rapat dengan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR