Suap hakim tipikor Bengkulu, korupsi di atas korupsi

Hakim Pengadilan Tipikor Bengkulu, Dewi Suryana digiring ke gedung KPK, Jakarta, Kamis (7/9).
Hakim Pengadilan Tipikor Bengkulu, Dewi Suryana digiring ke gedung KPK, Jakarta, Kamis (7/9). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tiga tersangka dalam kasus suap Pengadilan Tipikor Bengkulu.

Mereka adalah hakim Dewi Suryana, panitera pengganti PN Bengkulu Hendra Kurniawan, dan PNS yang diduga menyuap, Syuhadatul Islamy. Ketiganya ditangkap pada Rabu (6/9/2017) di Bengkulu dan Bogor, Jawa Barat.

Penyidik KPK juga menyita uang Rp40 juta dari rumah Dewi dan Rp75 juta dari saksi Dahniar.

Menurut Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan dua tersangka diduga menerima suap untuk meringankan vonis kepada Wilson. Sedangkan Syuhadatul, diduga sebagai pemberi suap.

"Diduga pemberian uang terkait dengan penanganan perkara Nomor 16/Pid.Sus-TPK/2017/PN bagi terdakwa Wilson agar dijatuhi hukuman yang ringan oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor pada PN Bengkulu," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan di kantornya, Jakarta, Kamis (6/9/2017) seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Kasus suap ini berawal dari perkara korupsi yang menjerat Wilson, mantan Plt Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Kota Bengkulu. Wilson menjadi tersangka korupsi kegiatan rutin tahun anggaran 2013 di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset (DPPKA) Kota Bengkulu.

Pada 14 Agustus Dewi menjatuhkan hukuman satu tahun tiga bulan penjara dan denda Rp50 juta subsidair 1 bulan kurungan. Lebih rendah tiga bulan dari tuntutan jaksa.

Vonis itu diduga karena campur tangan Syuhadatul, kerabat Wilson. Sebelum vonis dibacakan, Syuhadatul mendekati hakim lewat panitera pengganti, Dahniar yang telah pensiun. Syuhadatul dan Dahniar diketahui bersaudara.

Dari pendekatan ini diduga terdapat kesepakatan untuk memberi uang kepada Dewi senilai Rp125 juta. Lantas, sebelum putusan dibacakan Syuhadatul membuat rekening di BTN atas namanya sendiri dan mengisinya Rp150 juta. Uang itu tak langsung diambil usai vonis dibacakan karena menunggu suasana aman.

Baik Dewi Suryana maupun Syuhadatul enggan menanggapi pertanyaan wartawan.

Persoalan ini tak berhenti pada ketiga tersangka. Mahkamah Agung menonaktifkan dan memeriksa kepala PN Bengkulu, Kaswanto.

Kepala Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung (MA) Abdullah menyatakan, pemeriksaan ini merupakan bentuk tanggung jawab Kaswanto sebagai atasan Dewi Suryana. Bukan mengindikasikan jika Kaswanto turut terlibat dalam kasus ini.

"Begitu masuk ketua sudah harus tahu risikonya. Secara reguler pimpinan harus melakukan pembinaan misalnya dengan menyampaikan pesan moral. Kalau itu sudah disampaikan ke jajaran PN, berarti ketua sudah melakukan pembinaan," ujarnya seperti dikutip dari CNNIndonesia.com.

Apabila tak terbukti, maka MA akan melakukan rehabilitasi dan mengembalikan ke posisi awalnya. Namun jika terbukti tidak membina dan mengawasi anak buahnya, penonaktifan pejabat struktural akan diteruskan permanen.

Bengkulu Daerah Rawan Korupsi

Bengkulu adalah salah satu daerah rawan korupsi. Pemerintah setempat meminta bantuan KPK untuk mendampingi perbaikan dari praktik korupsi di provinsi ini.

Tapi dalam setahun ini, Bengkulu justru daerah yang kerap kena operasi tangkap tangan (OTT). Tiga bulan lalu, salah satu pegawai Kejaksaan Tinggi Bengkulu kena tangkap KPK dalam kasus Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII Provinsi Bengkulu, pada tahun anggaran 2015-2016.

Di bulan yang sama, Selasa (20/6/2017) Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya Lili Martiani Maddari juga ditangkap KPK. Suami istri itu ditangkap dengan uang Rp1 miliar terkait proyek pembangunan jalan yang nilai proyeknya diperkirakan mencapai Rp90 miliar.

Mei tahun lalu, Senin (24/5/2016) dua hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Kota Bengkulu juga kena tangkap. Ketua PN Kepahiang Janner Purba dan Toton ditangkap karena menerima suap dalam kasus korupsi penyalahgunaan honor dewan pembina RSUD M Yunus, Bengkulu tahun anggaran 2011.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR