KRISIS KESEHATAN

Sudah 70 orang meninggal akibat krisis kesehatan di Asmat

Warga mengantre untuk berobat di Puskesmas Ayam di kampung Bayiwpinam, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua, Jumat (26/1/2018).
Warga mengantre untuk berobat di Puskesmas Ayam di kampung Bayiwpinam, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua, Jumat (26/1/2018). | M. Agung Rajasa /Antara Foto

Wabah campak dan kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk di kabupaten Asmat, Papua, belum juga berakhir. Hingga Kamis (25/1/2018); jumlah pasien campak mencapai tujuh orang, gizi buruk plus campak dua orang, kurang gizi enam orang, dan gizi buruk mencapai 73 orang.

Dalam lansiran Antaranews pada Jumat (26/1), 82 orang itu adalah yang terdata di rumah sakit umum daerah (RSUD) di kota Agats. Menurut laporan Liputan6.com, pasien juga dirawat di aula Gereja Protestan Indonesia yang lokasinya ada di belakang RSUD.

Namun para pasien yang berada di aula gereja adalah kategori dalam masa pemulihan. Kebetulan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyambangi para pasien di dua lokasi itu.

Para pasien di aula gereja diketahui Nila mulai membaik. Kondisi tubuh secara umum tak ada keluhan, berat badan baik, dan asupan makanan-minuman cukup lancar.

Secara keseluruhan, sejak wabah bermula pada September 2017 hingga 23 Januari 2018, total ada 646 pasien di kabupaten Asmat. Masing-masing 144 orang mengalami gizi buruk, empat orang menderita campak dan gizi buruk, serta 25 pasien terduga campak.

Dengan data itu, Nila pun membantah ada sekitar 15 ribu warga di kabupaten Asmat yang mengalami gizi buruk. Data itu kebetulan pernah dilansir Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar belum lama ini (h/t Kompas.com).

Dari Timika, Papua, Nila menyatakan hanya sekitar 600 anak yang dirawat karena kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat. "Kalau sebanyak itu yang sakit (15 ribu), jumlah penduduknya berapa," kata Nila, Jumat.

Nila pun menduga klaim Boy adalah termasuk anak-anak yang mendapat perhatian medis dan imunisasi, berjumlah sekitar 7.000 anak. Sedangkan Komandan Satgas Kesehatan TNI KLB Asmat Brigjen TNI Asep Setia Gunawan mengatakan, tim kesehatan terpadu sudah memeriksa 12.398 anak.

Dari jumlah itu, menurut keterangan tertulisnya; 646 anak terjangkit campak, 144 anak kena gizi buruk, empat anak sakit campak dan gizi buruk, serta 25 orang terduga campak.

Sementara jumlah korban meninggal hingga 24 Januari 2018 mencapai 70 orang. Perinciannya, 65 orang meninggal akibat gizi buruk, empat anak karena campak, dan satu orang lantaran tetanus.

Seluruhnya adalah anak-anak. Dalam penjelasan Asep, 37 anak meninggal di distrik Pulau Tiga, distrik Fayit (15), distrik Aswi (8), distrik Akat (4), dan RSUD Agats (6).

Banyak faktor

Pemerintah pusat dan daerah sejauh ini terus berupaya menangani KLB kurang gizi dan wabah campak yang terjadi di Agats. Kementerian Kesehatan pun terus mengoptimalkan pengiriman tenaga medis dan obat-obatan.

Unsur TNI juga bergerak, termasuk pengiriman satuan tugas kesehatan beranggotakan 206 personel dari Jakarta pada Kamis.

Akses menuju lokasi pun tak mudah sehingga dibutuhkan bantuan dari prajurit TNI. Bahkan kunjungan Nila ke kabupaten Asmat pun termasuk dibantu TNI.

Faktor geografis yang cukup sulit, menurut Nila dalam Kumparan, mempengaruhi distribusi tenaga kesehatan ke berbagai distrik (kecamatan) terjauh. Di sisi lain, Nila keberatan bila KLB ini disebut bencana kesehatan meski mengakui kementeriannya tetap bertanggung jawab.

Faktor geografis berupa daerah rawa juga menyebabkan masyarakat setempat kesulitan mendapatkan air bersih yang layak. Itu sebabnya Nila menyebut perlu bantuan semua pihak untuk mengatasi kesulitan di Asmat karena kementerian kesehatan cuma bisa memperbaiki dalam hal medis seperti imunisasi dan perbaikan gizi.

"Masyarakat Asmat itu tinggal di daerah dengan kondisi air payau. Akses air bersih sama sekali tidak ada. Ini harus kita perbaiki bersama. Untuk kebutuhan air bersih di RSUD Asmat saja sangat sulit," ungkapnya.

Karena faktor lokasi itu Presiden Joko Widodo sempat mengusulkan agar masyarakat setempat direlokasi supaya segala kebutuhan hak dasarnya mudah terpenuhi. Namun usulan itu ditolak Bupati Asmat Elisa Kambu lantaran terkait budaya, adat istiadat, hak ulayat, dan cara bercocok tanam masyarakat setempat.

Lebih lanjut Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI Anung Sugihantono juga menyebut faktor pengetahuan masyarakat terhadap gizi yang minim. Dilansir IDN Times, Anung mengatakan masyarakat Asmat lebih senang makan daging ayam yang didatangkan dari Jayapura.

Padahal daging ikan melimpah di Asmat. "Ini kan persoalan tersendiri dari sisi pengetahuan sumber protein yang seharusnya bisa didapatkan di tingkat lokal, tapi memilih makanan dari daerah lain," ujar Anung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR