TERORISME

Suherman, teroris JAD penembak Polantas Cirebon divonis mati

Ilustrasi gambar. Polisi membawa barang bukti, seusai penangkapan terduga teroris di Jalan Nanggewer, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/5/2019).
Ilustrasi gambar. Polisi membawa barang bukti, seusai penangkapan terduga teroris di Jalan Nanggewer, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/5/2019). | Humas Polres Bogor /Antara Foto

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur menjatuhkan hukuman mati kepada Suherman alias Herman alias Eman alias Abu Zahra bin Suharjo. Suherman bersama kelompoknya menembak dua anggota Polisi lalu-lintas di Tol Pejagan, Cirebon, Jawa Barat, pada Agustus 2018 lalu.

Putusan itu diketok pada Rabu (9/10). Hukuman ini sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang diajukan pada Rabu, 25 September 2019.

"Menjatuhkan pidana mati," demikian putus PN Jakarta Timur sebagaimana dikutip dari laman Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Jakarta Timur, Minggu (13/10/2019).

Suherman didakwa dengan Pasal 15 jo Pasal 6 UU Terorisme; Pasal 15 jo Pasal 7 UU Terorisme; serta Pasal 15 jo Pasal 9 UU Teroris. Suherman didakwa dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional.

Suherman bersama tujuh temannya merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Mereka melakukan penyerangan di tiga TKP berbeda. Pertama di Jalan Pantura, Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jateng, pada 11 Juni 2018, pukul 19.50 WIB. Di lokasi ini, anggota Polsek Bulakamba jadi korban.

Lokasi kedua di Cirebon. Komplotan itu menyerang Personel Sabhara Polsek Cirebon Kota, Brigadir Angga yang sedang berpatroli pada 20 Agustus 2018.

Dikutip dari Kumparan.com, Angga saat itu tengah berpatroli seorang diri menggunakan mobil dan seragam dinas, tiba-tiba diserang oleh pelaku. Akibat peristiwa itu Angga mengalami luka di bagian tangan dan kepala belakang.

Selang empat hari kemudian, dua anggota Polantas Ipda Widi dan Ipda Dodon ditembak berkali-kali oleh tiga pelaku saat sedang berpatroli di tol Kanci-Pejagan, tepatnya di KM 244.

Sebelum terluka, mereka sempat baku tembak. Ipda Dodon mengalami luka tembak di bagian dada sebelah kanan dan kiri serta mulut hingga akhirnya meninggal dunia. Sementara Ipda Widi mengalami luka tembak di dada kanan dan telapak tangan kiri.

Dalam kasus ini, polisi telah meringkus enam pelaku termasuk Suherman, yakni berinsial I, R, C, MU, dan G. Sedangkan tersangka R dan I tewas ditembak saat proses penangkapan.

Suherman kemudian ditangkap di Jalan Lampiri Raya, Jatibening Baru, Pondok Gede, Kota Bekasi. Abu Zahra diciduk pada Senin (10/6/2019) pukul 21.00 WIB.

Kemudian Densus 88 melakukan pengembangan dan menangkap tiga terduga teroris lainnya berinisial AAS, I, dan KA alias Amin. Mereka diringkus di sebuah kontrakan Nomor 43B, RT 001 RW 02, Jatibening Baru, Pondok Gede, Bekasi (11/6).

Sementara itu majelis hakim juga mengabulkan kompensasi bagi tiga korban dengan total Rp413.986.258. Seluruh korban juga terlindungi oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), termasuk hak pemberian kompensasi.

Untuk Brigadir Angga mendapatkan kompensasi Rp51.706.168, lalu Ipda Widi Rp75.884.080, dan untuk istri Ipda Dodon yang ditinggal suaminya mendapatkan kompensasi sebesar Rp286.396.000.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR