NERACA PERDAGANGAN

Suku bunga BI bisa turun menyusul neraca dagang surplus

Proses bongkar muat peti kemas  berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan nasional Juni terjadi surplus 196 juta dolar AS.
Proses bongkar muat peti kemas berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan nasional Juni terjadi surplus 196 juta dolar AS. | Aditya Pradana /Antara Foto

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus dagang Juni mencapai $196 juta AS atau setara Rp2,7 triliun, menurun jika dibandingkan surplus perdagangan bulan sebelumnya yang tercatat $219 juta.

Surplus neraca perdagangan kali ini disebabkan oleh surplus non-migas sebesar $1,16 miliar, sementara defisit migas sebesar $966,8 juta.

Secara keseluruhan laju impor secara bulanan menurun jika dibandingkan laju ekspor bulanan. Baik ekspor dan impor terkontraksi masing-masing 20,5 persen dan 20,7 persen secara bulanan.

Perolehan angka ini menunjukkan secara kumulatif Januari-Juni 2019, Indonesia masih defisit $1,93 miliar. Nilai ini masih tergolong tinggi dibanding perolehan year on year (yoy) pada 2018 yang hanya berkisar defisit $1,20 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengungkapkan penurunan ekspor disebabkan karena adanya penurunan harga komoditas seperti minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP), minyak kelapa sawit, dan batu bara.

Faktor ini menjadi penyebab turunnya ekspor migas dan produk pertambangan di angka 34,36 persen dan 16,11 persen dibanding bulan lalu. Sementara itu, ekspor pertanian dan industri pengolahan juga tercatat turun sekitar 33,83 persen dan 19,63 persen.

"Kenapa total ekspor turun? Volume naik tapi harganya turunnya jauh. Dia menjadi turun (nilainya). Batu bara dan kelapa sawit kuantitas naik tapi harga turun. Kecuali karet ya. Harga naik, volume turun,” ucap Suhariyanto dalam konferensi pers, Senin (15/7/2019).

Menurut Suhariyanto, penurunan impor juga dipengaruhi oleh libur lebaran Juni 2019 selama 10 hari. Akibat libur itu sejumlah kinerja industri pun menurun sehingga berimbas pada kinerja impor.

Hal yang sama ia pastikan berlaku pada nasib kinerja ekspor yang juga menurun mengikuti pola Hari Raya Idulfitri. “Impor kita turun agak dalam. Tapi pergerakannya mirip dengan ekspor. Juni selalu ada patahan selama 3 tahun berturut-turut, ada cuti bersama," ucap Suhariyanto.

Dengan adanya surplus di neraca dagang, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan memangkas suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo rate hingga 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur yang digelar Kamis (18/7/2019). Jika terwujud, maka akan menjadi perubahan pertama sejak November tahun lalu.

Ruang pelonggaran moneter BI juga terbuka sejalan dengan ekspektasi menyusutnya defisit transaksi berjalan sepanjang 2019, yakni di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan penurunan BI 7 Day Reverse Repo rate terbuka mengingat nilai tukar rupiah cenderung stabil terindikasi dari volatilitas rupiah yang menurun dalam sebulan terakhir ini.

Mengacu data RTI, rupiah bergerak menguat ke titik Rp13.930 per dolar pada perdagangan Senin (15/7). Selama sepekan rupiah sudah menguat 1,40 persen.

"Dengan pelonggaran kebijakan moneter BI tersebut, diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah risiko perlambatan ekonomi global oleh karena permasalahan perang dagang," kata Josua kepada Beritagar.id, Senin (15/7).

Josua juga mengungkapkan meredanya perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat (AS) sementara waktu ini juga memberikan ekspektasi kebijakan moneter yang longgar dari bank sentral negara-negara maju, termasuk AS.

The Federal Reserve diperkirakan akan mulai menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25-50 basis poin pada tahun ini sejalan dengan perlambatan ekonomi AS yang terindikasi dari proyeksi inflasi yang lebih rendah dari perkiraan awal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR