Sulistina Sutomo, cinta abadi Bung Tomo itu berpulang

Pernikahan Bung Tomo dan Sulistina Sutomo pada 19 Juni 1947.
Pernikahan Bung Tomo dan Sulistina Sutomo pada 19 Juni 1947. | KEMENPORA_RI /Twitter.com

Istri mendiang Pahlawan Nasional Bung Tomo, Sulistina Sutomo, meninggal dunia dalam usia 91 tahun, Rabu (31/8/2016) dini hari.

Sulistina mengembuskan napas terakhir pukul 1.42 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beberapa hari terakhir, Sulistina memang tengah dirawat di rumah sakit tersebut.

Putra pasangan Bung Tomo dan Sulistina, Bambang Sulistomo menyebut bahwa ibunya telah lama menderita radang paru-paru.

"Ibu sudah sepuh. Paru-parunya enggak bersih. Maka harus dibersihkan. Ternyata ada infeksi," kata Bambang, ihwal penyebab meninggalnya Sulistina, dikutip detikcom.

Jenazah Sulistina disemayamkan di rumah duka, Jalan Haji Muhasyim Buntu 45, Terogong, Cilandak Barat, Jakarta. Selanjutnya, jenazah diterbangkan ke Surabaya, Rabu (31/8) siang.

Menurut rencana, Sulistina akan dimakamkan bersisian dengan makam Bung Tomo di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Rejo, Surabaya.

Surabaya memang identik dengan Bung Tomo dan keluarganya. Pemilik nama asli Sutomo itu dikenal sebagai orator yang membangkitkan semangat rakyat Indonesia dalam pertempuran melawan penjajah (Belanda dan sekutu), pada 10 November 1945 di Surabaya.

Cinta abadi, menyala dalam revolusi

Sulistina meninggalkan empat orang anak, tujuh cucu, dan lima cicit, dari pernikahannya dengan Bung Tomo. Sejoli Bung Tomo dan Sulistina menikah pada 19 Juni 1947.

Pernikahan itu terjadi pada masa-masa Revolusi Nasional Indonesia (1945 - 1949). Itu masa-masa genting bagi para pejuang kemerdekaan, termasuk Bung Tomo. Kala itu, dalam pandangan moral pejuang, pilihan menikah bertentangan dengan semangat revolusi.

Penulis, Soe Hok Gie membahas pandangan itu dalam bukunya Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. "Mereka (para pejuang) berpendapat bahwa perkawinan dan pertunangan bertentangan dengan sifat revolusi yang menjadi-jadi," tulis Soe Hok Gie.

Dalam konteks itulah pernikahan Bung Tomo dan Sulistina berlangsung. Walhasil, terbit kisruh di lingkaran pejuang, termasuk dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), organisasi rakyat yang dipimpin Bung Tomo.

Guna menjelaskan pernikahan Bung Tomo dan Sulistina, pimpinan BPRI memasang iklan di koran Boeroeh (16 Juli 1947). Dalam iklan perkawinan itu termuat dua poin perjanjian seputar relasi Bung Tomo dan Sulistina:

  1. Setelah ikatan persahabatan mereka diresmikan, mereka akan lebih memperhebat perjuangan untuk rakyat dan revolusi;
  2. Meskipun perkawinan telah dilangsungkan, mereka tidak menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami-istri sebelum ancaman terhadap kedaulatan negara dan rakyat dapat dihalaukan.

Sulistina dalam buku Bung Tomo Suamiku juga punya kisah soal pernikahan itu. Konon, usai menikah, sejoli itu menjalani puasa hubungan suami istri.

Laku puasa itu berdasar pada keyakinan bahwa dalam situasi perang, seorang pemimpin pasukan atau negara yang melangsungkan pernikahan mesti puasa dari hubungan suami istri selama 40 hari. Bila tidak dilakukan akan terjadi kekalahan di medan perang.

"Kita jalani puasa 40 hari ini ya. Demi keberhasilan perjuangan," kata Bung Tomo, ditirukan Sulistina.

Walhasil, pada malam pertama, Bung Tomo sekadar mengisahkan pengalaman-pengalaman lucu di medan perang kepada istri yang baru dipersuntingnya. Sulistina pun mengenang malam pertama pernikahan mereka sebagai "malam penuh cerita."

Satu hal yang juga laik dikenang dari pasangan Bung Tomo dan Sulistina adalah tentang kesetian.

Bung Tomo dikenal sebagai penentang poligami. Demikian halnya Sulistina. Ia bahkan melarang Bung Tomo menghadiri rapat dengan Presiden Sukarno bila rapat itu dihadiri Hartini, istri keempat Sukarno.

Seperti ditulis detikcom, sikap itu merupakan bentuk simpati Sulistina kepada Ibu Negara Fatmawati, yang memilih meninggalkan Istana Negara karena tidak mau dimadu Sukarno.

Catatan romantis lain, hingga akhir hayatnya, Bung Tomo (26 Maret 1981) terus menyimpan foto Sulistina di dompetnya. Dalam foto itu tertulis catatan: "iki bojoku" (ini istriku).

Adapun di linimasa Twitter, berpulangnya Sulistina setidaknya memicu dua topik tren "Sulistina Sutomo" dan "Bung Tomo". Hal itu boleh pula dilihat sebagai perlambang bahwa keduanya tak bisa dipisahkan.

"Mereka cinta abadi," kata Bambang Sulistomo, ihwal perjalanan cinta kedua orang tuanya itu.

BACA JUGA