PILPRES 2019

Survei-capres yang bagus dan buruk

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

ANGKA | Lagu sedih mendayu yang padat keputusasaan bisa disuka. Padahal tak menawarkan harapan. Seakan-akan hari esok suram melulu dan berkepanjangan pula. Kalau hasil survei yang tak sesuai harapan? Ehm.

Ini bukan mempersoalkan metodologi. Tapi umumnya kontestan pemilihan kepala daerah dan apalagi pemilihan presiden cenderung lebih suka terhadap hasil yang menyenangkan. Kalau survei sesuai harapan berarti bagus dan begitu pula sebaliknya.

Ya, serupa orang membaca ramalan zodiak. Bilangnya iseng, tapi kalau isinya positif akan girang. Kalau isinya peringatan? Oh, untuk ramalan bintang orang bisa mengabaikannya.

Pekan ini, dan sebelumnya, pun pekan depan, ramai kabar ihwal survei pilpres. Ada beberapa catatan:

  • Menurut hasil survei Litbang Kompas, elektabilitas Joko "Jokowi" Widodo -Ma'ruf Amin turun 3,4 persen dan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno naik 4,7 persen. Pada Oktober 2018 Jokowi-Ma'ruf 52,6 persen (Prabowo-Sandi 32,7 persen). Lalu Maret 2019 menjadi 49,2 persen berbanding 37,4 persen.
  • Tentu ada sisi lain yang bersifat statistis, disertai paparan argumentatif, namun yang lebih menancap di benak publik, apa pun kubunya, adalah soal elektabiltas merosot dan menanjak.
  • Terhadap hasil survei Litbang Kompas, bahwa elektabilitas Jokowi-Ma'ruf, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional, Arsul Sani, tak mau ambil pusing. Baginya lebih penting konsolidasi sebelum 17April.
  • Bagi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, sebagaimana dikatakan juru bicara BPN Andre Rosiade, "Intinya apa? Litbang Kompas memberikan pemberitahuan bahwa Pak Jokowi game over."
  • Adapun survei lembaga lain, misalnya IndoBarometer, menyimpulkan elektabilitas Jokowi 50,2 persen, Prabowo 28,9 persen. Selisih kemenangan prediktif disebut 21,3 persen.
  • Terhadap hasil survei IndoBarometer, Andre Rosiade bilang, "Kita catat seluruh lembaga survei yang bilang Pak Jokowi menang di atas 20 persen. Kalau nanti nggak sama di atas 20 persen, kita tuntut mereka."

Sebenarnya ada hal yang menarik dari aneka survei pillkada dan pilpres. Perlu survei terpisah seberapa besar calon pemilih — maupun calon golput — terpengaruh oleh hasil survei.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR